Jauhkan Upaya Mempolitisasi Agama

KONFLIK antarumat beragama berkepanjangan di Nigeria menyeret Muhammad Nurayn Ashafa dan James Movel Wuye menjadi musuh bebuyutan. Seperti banyak pemuda lain, keduanya terlibat saling serang dan bunuh di Kaduna, provinsi berjarak 163 kilometer ke arah utara dari Ibu Kota Abuja, yang menjadi satu titik api di tengah perpecahan yang menelan 20 ribu jiwa.

Imam Ashafa, kini 58 tahun, lahir dari keluarga ulama penganut Sufi. Namun pemahamannya lebih banyak dipengaruhi ajaran Salafi. Adapun Pastor James, yang lebih muda setahun, adalah mantan alkoholik yang tobat. Tamat sekolah menengah, dia menjadi klerus setelah bergumul dengan pamannya, anggota gereja Sidang Jemaat Allah (Assembly of God).

Perseteruan mereka bermula dari organisasi religi. Ashafa adalah Sekretaris Jenderal Majelis Pemuda Muslim (Muslim Youth Council), yang lantang menyerukan pemberlakuan syariat Islam dan propaganda anti-Amerika di Nigeria. Sedangkan James aktif mewakili gerejanya di sejumlah organisasi. Salah satunya Asosiasi Pemuda Kristen Nigeria (Youth Christian Association of Nigeria). Saat konflik pecah di Kaduna pada 1992, keduanya membentuk kelompok milisi berbendera agama.

Atas nama Islam-Kristen- menempati proporsi hampir seimbang di antara 105 juta penduduk Nigeria- pula mereka kehilangan banyak hal. Imam Ashafa kehilangan dua sepupu dan guru spiritualnya yang tewas terbunuh, sementara tangan kanan Pastor James putus dan kini harus mengenakan lengan prostetik. Selama tiga tahun, yang ada di benak keduanya hanyalah hasrat membunuh. “Saya mencari-cari Pastor James untuk membalas dendam,” ujar Ashafa.

Garis hidup berkata lain. Pada Mei 1995, keduanya akhirnya berhadapan. Bukan di palagan, melainkan di sebuah rapat lintas kelompok di kediaman gubernur untuk membahas imunisasi. Idris Musa, wartawan lokal, menjadi makcomblang mereka. Musa meyakini Ashafa dan James punya kekuatan memulihkan luka akibat konflik agama di Nigeria, yang tersulut sejak 1980-an akibat kemerosotan ekonomi, kekacauan politik, dan kebangkitan ekstremis keagamaan.

Intuisi itu tidak meleset. Setelah mengalami pelbagai pergolakan batin, rekonsiliasi perlahan-lahan terbangun. Ashafa dan James mendirikan Pusat Mediasi Lintas Iman (Interfaith Mediation Centre). Organisasi beranggota 20 ribu orang ini aktif mendorong dialog antaragama dan melatih anak-anak muda Nigeria menjadi aktivis perdamaian. Mereka kerap berbagi pengalaman rekonsiliasi itu di berbagai forum internasional, seperti yang berlangsung di kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Rabu dua pekan lalu. “Kami ingin berbagi wawasan dan semangat kerja sama untuk mencapai harmoni,” kata James kepada Debra Yatim dan Shinta Maharani dari Tempo dalam wawancara khusus di sela lokakarya.

Apa titik balik yang mengubah Anda dari musuh menjadi saudara?

Ashafa: Kami bertikai sejak 1992. Tiga tahun berselang, tepatnya pada Mei 1995, takdir membawa kami dalam sebuah perjumpaan di tengah rapat soal isu kesehatan. Isu ini mengikat semua kelompok dan menjadi kepedulian bersama. Saya mewakili Dewan Muslim Nasional dan Pastor James mewakili Asosiasi Kristen Nigeria. Kami mendiskusikan imunisasi polio. Penyakit itu telah merenggut banyak nyawa anak Nigeria. Di tengah jeda rapat, seorang jurnalis bernama Idris Musa mengajak kami bertemu. Dia teman saya sekaligus rekan Pastor James. Dia menggunakan relasi itu agar kami berdua mau bertemu. Di situlah kami pertama kali bertatap muka. Dia bilang kami mampu menjaga perdamaian di negeri ini. Maka kami harus berdialog. Lalu dia melenggang begitu saja meninggalkan kami.

Bagaimana reaksi Anda waktu itu?

Ashafa: Hati saya terus mengatakan Pastor James adalah musuh. Dia dan kelompoknya telah membunuh dua sepupu dan guru spiritual saya. Bagaimana mungkin saya berdialog dengannya? Saya tak butuh dialog. Saya ingin menghajarnya. Selama ini saya mencari-cari dia untuk balas dendam. Namun peristiwa itu terjadi di dalam rumah gubernur, tempat kami harus berlaku sopan. Walhasil, saya cuma melontarkan senyum kepadanya, meski hati saya memberontak.

Apa yang membuat Anda berdua akhirnya saling memaafkan?

James: Pada saat hampir bersamaan, saya bertemu dengan seorang pastor yang bertugas di Abuja. Dia mengatakan kepada saya, “James, kamu tak bisa memuliakan Tuhan dengan kebencian yang hidup di hatimu. Kamu harus mencintai sesamamu yang beragama Islam.” Itulah titik balik saya.

Ashafa: Suatu hari pada 1995, saya menjalankan salat Jumat. Khatib mengangkat topik pengampunan. Mengutip kisah Nabi Muhammad SAW, dia bilang, “Muslim sejati harus bisa memaafkan orang yang menyakiti kita.” Dengan kata lain, orang yang semula musuh harus menjadi sahabat kita. Sejak saat itu, saya baru bisa mengubah perilaku terhadap kelompok agama lain, yang awalnya selalu berusaha balas dendam menjadi upaya membangun rekonsiliasi bersama.

Pengampunan itu sama-sama timbul setelah menyimak khotbah?

James: Sejak itu, kami mulai memikirkan solusi. Para pemuda di kampung kami saling membunuh karena persoalan agama, tapi kami sebagai pemuka agama justru bertikai dan membunuh lebih banyak daripada anak-anak muda itu. Kami bersalah, tapi kami tak mau mereka membuat kesalahan yang sama dengan kami.

Ashafa: Lebih dari itu, kami menyadari penderitaan sudah menyelimuti Nigeria selama 20 tahun terakhir. Akibatnya, segala sendi kehidupan menjadi rusak. Rumah-rumah roboh, tempat sembahyang ambruk, dan situs keagamaan baik Islam maupun Kristen di seluruh penjuru negeri rusak parah.

Bagaimana Anda berbagi nilai di tengah perbedaan keyakinan?

James: Kami tak membagikan nilai-nilai dasar dari keyakinan kami. Satu hal prinsip yang kami pegang adalah menghargai perbedaan di antara kami.

Ashafa: Setiap manusia diciptakan unik. Kita harus bisa melihat keberagaman ini dalam perilaku sehari-hari. Kunci dialog lintas iman kami adalah bertindak penuh welas asih dan menghormati kelompok yang berbeda keyakinan.

Seberapa sulit membangun rekonsiliasi?

Ashafa: Rekonsiliasi akibat konflik agama tak bisa diraih dalam sekejap. Prosesnya panjang karena melibatkan ingatan akan sejarah ketidakadilan. Kami cenderung menganggap rekonsiliasi layaknya menyemai benih. Biarkan ia bertumbuh, disirami, hingga pohon itu berbuah. Hubungan positif yang terjalin di antara semua pihak adalah buah yang bisa menyembuhkan ingatan pada sejarah konflik masa lalu.

Mengapa sejarah harus disorot?

Ashafa: Setiap kelompok atau komunitas korban punya narasi sendiri soal kekejaman yang mereka alami. Narasi itu akan tersimpan dalam ingatannya dan bisa dipakai menjustifikasi kekejaman di masa depan dengan dalih balas dendam. Kalau ini dibiarkan, rantai kekerasan itu tak akan putus.

Bagaimana mengatasinya?

Ashafa: Mulailah berbagi kisah yang inklusif. Kita harus mulai berani mengatakan, “Maaf, saya sudah melupakan cerita masa lalu dan sedang menatap masa depan.” Melihat sejarah masa lalu penting, tapi jangan berkubang di dalamnya. Ambil saja pelajaran dari peristiwa masa lalu. Tak ada satu pun negara yang sukses bila mereka terus hidup dengan luka sejarah.

Apa saja yang dikerjakan Interfaith Mediation Centre selama 22 tahun?

Ashafa: Kami berkeliling Nigeria untuk melatih pemuda Kristen dan Islam cara memulai dialog lintas iman. Mereka yang kami bimbing kemudian bergabung menjadi komunitas penyebar kedamaian. Ada yang menolak, tapi lebih banyak yang mau terlibat. Pemerintah dan masyarakat mulai bisa menerima dialog lintas iman, yang tabu dibicarakan dua dekade lalu.

Hasilnya?

James: Kami punya tim yang sudah tersebar di seluruh penjuru Nigeria. Jaringan inisiatif dialog antaragama terus bertumbuh. Kami ingin terus mendampingi dan berbagi cerita inisiatif yang kami miliki.

Tantangan apa yang paling sering Anda hadapi?

James: Memang sulit bekerja di tengah masyarakat yang sebelumnya menyimpan kebencian. Kemarin bilang benci dan hari ini diminta bilang cinta. Itu sulit. Program kami membangun jembatan dialog dan pengampunan. Kami mewujudkan pengampunan itu lewat aksi.

Bagaimana caranya?

Ashafa: Kami mengembangkan lebih dari 30 metode untuk membangun jembatan rekonsiliasi. Metode itu disesuaikan dengan konteks, dengan siapa kami berdialog, komunitas mana yang membutuhkan dukungan kami. Masing-masing punya kerangka kerja sendiri. Dari metode untuk anak-anak, pemuka agama, perempuan, pecandu narkotik, sampai kelompok radikal sekalipun.

Contoh metodenya seperti apa?

Ashafa: Ketika harus terlibat bersama kelompok radikal, kami tak akan langsung berbicara dialog lintas iman. Kami perlahan masuk dulu dengan materi deradikalisasi. Lain waktu, kami harus bekerja dengan perempuan korban kekerasan dan pengungsi. Dalam konteks ini, kami harus memulai dulu dengan konseling dan pemulihan traumanya.

Mungkinkah metode itu diterapkan di negara lain, termasuk Indonesia?

James: Metode pendampingan semacam ini sudah pernah diterapkan di Sudan, Kenya, Uganda, dan Sierra Leone. Inti metode ini adalah berbagi inspirasi dan spirit kerja bersama antar-pemeluk agama untuk menciptakan harmoni. Kami berhasil menerapkannya di negara lain dan alasan itu yang membuat kami mengunjungi Indonesia.

Seberapa yakin metode rekonsiliasi Anda diterima masyarakat sampai lapisan paling bawah?

James: Kerja kami kan awalnya di level akar rumput dan tetap seperti itu sampai sekarang. Peserta program kami kebanyakan adalah rakyat biasa. Lain kesempatan, kami juga bisa berbagi program ini di Harvard University dan University of Glasgow. Kami merangkul semua elemen masyarakat, dari yang status sosialnya rendah, menengah, dan tinggi. Ibaratnya, bila Anda memberi karpet merah, kami akan berjalan di atasnya. Begitupun bila kami harus berjalan di karpet berlumpur, kami siap melaluinya meski itu licin.

Intoleransi masih menjadi masalah serius di Indonesia. Anda melihat penyebabnya?

Ashafa: Indonesia adalah bangsa terberkati. Menurut saya, memang ada beberapa indikasi kecil masalah dialog lintas iman. Asapnya sudah mulai muncul, tapi api belum berkobar. Problemnya adalah masyarakat yang termarginalkan dan rendahnya rasa inklusivitas. Selain itu, jauhkanlah upaya mempolitisasi agama dan memasukkan agama dalam proses politik.

Menurut Anda, kemajemukan Indonesia bisa menjadi pemicu atau peredam konflik?

James: Sebagai negara dengan populasi penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia harus berada di garis depan untuk menunjukkan wajah Islam yang sesungguhnya. Anda harus lebih banyak berbagi pesan inklusif, pesan cinta kepada sesama. Sebab, keberagaman suku, agama, dan ras adalah hal berharga dari negeri ini.

Ashafa: Indonesia harus menciptakan model dialog dan toleransi yang menjadi contoh komunitas muslim di seluruh dunia. Wajah Islam yang sejuk dan penuh energi. Indonesia hanya perlu merawat keberagaman sehingga kelompok minoritas tak merasa hidupnya terancam. Jangan lupakan komunitas muda yang bisa bergotong-royong mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

Di Indonesia kerap terselip pesan kekerasan dalam khotbah masjid. Pendapat Anda?

Ashafa: Itu ucapan seorang arogan yang dikutuk Al-Quran. Al-Quran jelas menyatakan bahwa muslim sejati harus punya welas asih dan kerendahan hati. Ketika ada orang yang bertentangan dengan nilai ini, kita harus berani melawannya. Muslim sejati tak akan mempromosikan kebencian.

Rekonsiliasi Anda berawal dari pertemuan kesehatan. Anda masih mengusung isu tersebut?

Ashafa: Kami tetap aktif menjalankan program-program kesehatan. Bahkan kami sudah menjangkau isu keluarga berencana, kesehatan reproduksi, hak perempuan dan anak, serta gender. Kami masuk dan menjelaskan isu tersebut kepada komunitas.

Masalah kesehatan juga Anda bahas dalam dialog lintas iman?

Ashafa: Masyarakat Nigeria, khususnya di bagian utara, masih punya fobia dan stereotipe soal vaksinasi. Pemberian vaksin masih dipersepsikan sebagai cara agar anak-anak dan perempuan menjadi steril. Karena pemerintah kesulitan mengubah persepsi itu, pemuka agama diminta turun tangan. Baru-baru ini kami juga sukses mengajak 250 pemuka agama duduk bersama dan membuat dokumen kerja soal perlindungan anak dan kesehatan reproduksi. Isu kesehatan sama kuatnya dengan upaya menemukan rekonsiliasi di Nigeria.

Apa yang Anda kerjakan bersama di waktu senggang?

James: Saya memanfaatkan waktu luang dengan pergi ke gereja pada sore hari. Setelahnya, saya akan duduk santai bersama keluarga. Namun satu hal yang menarik bagi saya adalah membuat orang bahagia dan merasa damai. Sebab, Anda akan ikut bahagia ketika orang-orang di sekitar juga bahagia. Apalagi, bila saya bisa terlibat dalam rekonsiliasi sebuah komunitas dan bekerja bersama mereka, kenikmatannya sungguh luar biasa. Oh ya, saya juga suka serial Mr. Bean. Dia pria yang sangat cerdas.

Ashafa: James mencuri ide saya soal kegemaran menyemai perdamaian, ha-ha-ha…. Saya senang menonton film-film dokumenter. l


Muhammad Nurayn Ashafa
Tempat dan tanggal lahir: Mani Katsina, Nigeria, 1 Oktober 1959
Jabatan: Deputi Ketua Interfaith Mediation Centre, Kaduna, Nigeria

James Movel Wuye
Tempat dan tanggal lahir: Zamfara, Nigeria, 19 Januari 1960

Jabatan: Ketua Interfaith Mediation Centre, Kaduna, Nigeria
Penghargaan (Berdua): l NOA Bridge Builders Award, Abuja, Nigeria (2016) l Peacemakers Award, Center for African Peace and Conflict Resolution, California, Amerika Serikat (2016) l German Africa Peace Award, German Africa Foundation, Berlin (2013) l Royal Aal al-Bayt Institute for Islamic Thought Award, Yordania (2013) l Doctor Honoris Causa Bidang Hukum University of Massachusetts, Amerika Serikat (2012) l Gelar Kehormatan University of Glasgow, Inggris (2010) | Dokumenter: l The Imam and The Pastor (2006) l An African Answer (2010)

 

Read more at https://majalah.tempo.co/konten/2017/10/22/WAW/154232/Jauhkan-Upaya-Mempolitisasi-Agama/35/46

Tinggalkan Balasan