Ensiklopedia Nurcholish Madjid

Ensiklopedia Nurcholish Madjid

Berbagi Artikel

Pengantar Editor

Bagaimana Membaca Buku Ini dan Ucapan Terima Kasih

Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah hasil penyuntingan lebih dari 15 tahun kerja intelektual dan pengajaran Prof. Dr. Nurcholish Madjid di Pusat Studi Islam Paramadina. Selama masa yang panjang itu, sejak berdirinya Yayasan Paramadina, sampai masa-masa menjelang reformasi, Cak Nur—panggilan akrab beliau—terus-menerus memberikan pada mahasiswa-mahasiswanya di Paramadina, gagasan-gagasan keberagamaan yang segar, inspiratif, berwawasan universal, kosmopolit, dan penuh kedalaman spiritual—bahkan kadang-kadang menantang berpikir ulang atas kepercayaan keagamaan tradisional selama ini. Dalam proses belajar itu, terbentuklah apa yang kemudian disebut “Komunitas Paramadina”––yaitu ribuan mahasiswa atau murid-murid Cak Nur yang secara intens terus-menerus mempelajari pemikiran Islam di Paramadina, selama bertahun-tahun hingga kini. Dalam proses pengajaran Cak Nur itu AlhamduliLâh sempat tersimpan rekaman ratusan jam perkuliahan Cak Nur, dan catatan-catatan (hand out), yang sayangnya tak terdokumentasi lagi tanggal pengajarannya itu.

Maka lebih dari 200 kelas (sebanding 400 jam) perkuliahan, ratusan catatan, hand out, dan makalah beliau kemudian ditranskrip, dan diedit untuk kepentingan penerbitan buku Ensiklopedi Nurcholish Madjid ini. Tetapi jangan terlalu serius dengan kata “ensiklopedi” dalam buku ini, karena buku ini memang tidak didesain dari awal sebagai ensiklopedi ilmiah, dengan pemilihan entri-entri yang ketat sebagaimana layaknya kalau membuat sebuah ensiklopedi. Buku ini memang dibuat besar—karena itu disebut “ensiklopedi”—sebagai sebuah memori atas pemikiran yang telah Cak Nur tanamkan dan kembangkan pada publik intelektual Islam di Indonesia, dengan Paramadina sebagai tempat persemaian awal mulanya. Di samping, pikiran Cak Nur memang bersifat “ensiklopedis,” maksudnya meliputi banyak isu dan sangat komprehensif. Sehingga dengan buku ensiklopedi ini diharapkan tersimpan sebuah dokumentasi pemikiran Cak Nur yang relatif cukup lengkap. Sehingga dengan buku ini diharapkan dapat tergambar salah satu wajah Islam yang sekarang dirindukan di Indonesia, yaitu wajah Islam yang terbuka, toleran, dan penuh keramahan. Sebuah wajah Islam yang diimpikan Cak Nur terwujud dalam kehidupan keagamaan Islam di Indonesia.

Dalam buku Ensiklopedi Nurcholish Madjid ini, saya juga telah menulis sebuah pengantar panjang, sekitar 200 halaman, yang mencoba mengikat keseluruhan isi buku ensiklopedi ini, sekaligus memberi konteksnya dalam pergumulan Cak Nur dengan gagasan-gagasan keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan, tiga hal yang hendak diramu sintesisnya dalam pemikiran apa pun dari Cak Nur. Pengantar tersebut sengaja dibuat panjang, untuk memberi gambaran tentang keluasan pemikiran Cak Nur. Tentu saja pengantar ini tidak bisa mewakili pemikiran Cak Nur secara keseluruhan, tetapi paling tidak dapat dianggap sebagai jejak pemikiran, untuk mengerti ide-ide Cak Nur, terutama yang tertuang dalam ensiklopedi ini.

Di dunia akademis, jika seorang profesor disebut “ensiklopedis,” maka itu berarti ia adalah seorang profesor yang pengetahuannya sangat luas, dan bisa mengkaitkan keahliannya dengan berbagai disiplin keilmuan mutakhir. Profesor itu pasti seorang yang interdisipliner, dan menentang pengkotak-kotakan ilmu pengetahuan yang hanya berdasarkan skop keahliannya yang sempit. Begitulah Profesor Nurcholish Madjid. Ia adalah seorang pemikir Islam yang ensiklopedis. Pengetahuan Cak Nur sangat luas. Mereka yang pernah mendengarkan perkuliahan beliau di Yayasan Paramadina dapat merasakan vibrasi dari keluasan pandangan Cak Nur itu, bukan hanya dari perkuliahan beliau, tetapi juga dari bagaimana beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan peserta. Cak Nur selalu bisa mengakomodasi berbagai pertanyaan, bahkan pemertanyaan (questioning) yang kritis sekali pun, dan kemudian memperluasnya dari sudut pandangnya sendiri. Terus terang, kami sangat terkesan dengan keluasan pikiran Cak Nur itu, sehingga kami berkeinginan untuk mencatat apa saja yang telah dipikirkan oleh Cak Nur mengenai Islam.

Konon katanya “cara terbaik untuk mendapatkan ide yang baik adalah dengan mendapatkan banyak ide”. Dan Konfusius mengatakan, “Without knowing the force of words, it is impossible to know human beings.” Kalau murid-murid Cak Nur sangat terkesan bagaimana ia selalu bisa menjawab kegelisahan peserta Paramadina dalam mencari Kebenaran, berdasarkan apa yang dikatakan Konfusius itu, maka sekarang kami tahu bahwa kekuatan Cak Nur dalam memberikan ide-ide, adalah karena ia sendiri sangat banyak ide! Dan untuk mengetahui kehebatan Cak Nur, maka perlu tahu pikiran-pikiran apa yang tersimpan dalam memori Cak Nur. Maka berdasarkan inspirasi itu, direncanakanlah sebuah program untuk mendokumentasikan pikiran Cak Nur. Program ini mulai dikerjakan sejak Cak Nur berangkat untuk operasi transplantasi hati di Cina, sekitar April 2004—yang kemudian dalam pengerjaan selama setahun, menghasilkan ensiklopedi besar Nurcholish Madjid ini dalam 4 jilid.

Rencananya buku ini akan diluncurkan ketika Cak Nur sehat, dan memberikan ceramah pada publik yang pertama, setelah beliau sembuh dari sakit. Tapi rupanya Allah menghendaki lain. Cak Nur telah meninggalkan kita pada 29 Agustus 2005. Maka, buku ini menjadi sebuah warisan pemikiran yang kita semua bisa mengaksesnya untuk mengembangkannya lebih lanjut. Cak Nur memang seorang ensiklopedis. Ia mengolah banyak sekali isu keislaman. Boleh dikatakan Cak Nur memikirkan semua persoalan keislaman di dunia modern—atau lebih tepat perkembangan pemikiran Islam di tengah globalisasi. Kalau boleh dikatakan paling tidak ada 6 isu paling kontroversi dalam pemikiran Islam dewasa ini—yaitu isu melawan ide-ide teokrasi, mempromosikan demokrasi, keadilan gender, pluralisme, kebebasan berpikir, dan mempercayai kemajuan sebagai cara terbaik perkembangan kemanusiaan—maka Cak Nur boleh dikatakan telah mengembangkan seluruhnya keenam isu paling kontroversial di dunia Islam dewasa ini. Karena itu, tidak heran kalau ia sangat mengerti mengenai permasalahan Islam di Indonesia dewasa ini.

Anehnya—atau malah seharusnya tidak aneh—Cak Nur selalu menegaskan bahwa masalah umat Islam itu bukan masalah doktrinal, tetapi hanya psikologis. Keyakinan ini membuat Cak Nur menganut suatu paham liberal syari‘ah. Bahwa pada dasarnya agama Islam itu sangat mendukung ide-ide paling baik dari kemajuan zaman. Islam betul-betul kompatibel dengan modernitas. Atau, malah Cak Nur menegaskan bahwa kekuatan Islam itu justru ada pada kemodernannya itu. Maka Cak Nur, dengan tanpa halangan mental apa pun, mampu mengelaborasi Al-Quran, sunnah, dan tradisi Islam untuk menjelaskan segala isu Islam modern. Itu sebabnya, ia sangat kental dengan usaha pengembangan hermeneutika Al-Quran.

Cak Nur sering disebut sebagai pengikut Fazlur Rahman, tetapi Cak Nur sebenarnya lebih dekat kepada Ibn Taimiyah. Bahkan boleh dikatakan ia merevitalisasi Ibn Taimiyah untuk persoalan kontemporer. Banyak
isu pluralisme yang dikembangkan Cak Nur, bersumber dari Ibn Taimiyyah ini. Fazlur Rahman pasti berpengaruh pada Cak Nur, tetapi hanya dari segi metodologis, terutama bagaimana Fazlur Rahman mempunyai kemampuan menafsirkan Al-Quran (yang dituangkan dalam bukunya, Major Themes of the Qur’an). Nah, seperti juga Fazlur Rahman, akhirnya mata air sumber pemikiran Cak Nur adalah Al-Quran itu sendiri. Dan yang menarik ia berhasil menunjukkan sebuah “skripturalisme” (cara membaca secara literal dari Al-Quran) yang berbeda dari kalangan fundamentalis yang biasanya konservatif. Skripturalisme Al-Quran Cak Nur ternyata sangat liberal, memberikan segi-segi substantif. Dan kalau kita tanya pada Cak Nur mengapa ia bisa menegaskan keliberalan Al-Quran, ia hanya akan menjawab, “Kalau begitu yang liberal adalah Al-Qurannya!” Dan bersamaan dengan itu ia menjadi sangat prihatin, karena banyak gerakan Islam dewasa ini menjadi lebih konservatif dari Al-Qurannya sendiri. Itu sebabnya Cak Nur menegaskan bahwa masalah umat Islam itu bukan doktrinal, tetapi psikologis saja, minder kepada kemajuan Barat, dan takut mengakomodasinya.

Maka dari sudut pemikiran teologi yang optimistis dan penuh keterbukaan, sebenarnya posisi umat Islam di Indonesia dalam menghadapi globalisasi, menurut Cak Nur, tidaklah terlampau sulit. Di luar masalah psikologis itu—di mana sebagian umat Islam cenderung menutup diri, BUDHY MUNAWAR-RACHMAN reaktif, malah kemudian menjadi agresif, dan membenarkan tindak kekerasan (yang sebenarnya bertentangan dengan klaim bahwa Islam adalah agama yang rahmatan li al-`alamin)—maka yang perlu dihadapi umat Islam tidak lain ialah, bagaimana menghidupkan kembali nilai-nilai keislaman klasik (salaf) yang murni dan menerjemahkannya kembali dalam konteks ruang dan waktu yang ada.

Cak Nur memang sangat mengidolakan masa klasik Islam sebagai contoh kemodernan Islam, dan tidak tanggung-tanggung banyak catatan para pemikir Barat yang dikumpulkan oleh Cak Nur untuk mendukung
kemodernan masa salaf ini. Sarjana-sarjana modern seperti Robert N. Bellah, Marshall Hodgson, Ernest Gellner, Bernard Lewis, Cyril Glasse, Bertrand Russell, dan sebagainya, semua mengamini sebuah model masyarakat klasik, yang sangat baik bagi umat Islam untuk dikembangkan lagi di masa modern ini. Dan untuk proses ke arah itu tidak harus ditempuh dengan melakukan kompromi dan mengalah kepada desakan-desakan luar (seperti mengubah ajaran Islam), tetapi justru dengan kembali ke asal dan mengembangkan nilai-nilai asasinya sendiri. Di sinilah, menurut Cak Nur, relevansinya kembali kepada Kitab Suci dan Sunnah Nabi. Dengan metodologi pengembangan hermeneutika Al-Quran ini, Cak Nur membuat suatu pembaruan yang liberal, yang sudah menjadi agendanya sejak 1970-an, hanya saja sekarang itu dilakukannya dengan cara yang tidak kontroversial, karena menggunakan hermeneutika Al-Quran.

Tetapi rupanya dengan cara yang Quranik ini pun Cak Nur tetap dianggap kontroversial. Memang begitulah kodrat setiap pembaruan. Sepanjang karier pembaruan Cak Nur, ia mengolah dan membicarakan banyak ide-ide modern seperti demokrasi, hak asasi manusia, sosialisme, kapitalisme, humanisme, sekularisme, sains modern, isu gender, pluralisme, dan seterusnya—yang dapat kita lihat jejaknya dalam ensiklopedi ini. Menurut Cak Nur, mengolah kembali khazanah terbaik umat manusia sekarang ini, dan menjadikannya sebagai milik umat Islam adalah hakikat makna ijtihad atau pembaruan. Bagi Cak Nur, ijtihad atau pembaruan haruslah merupakan proses terus-menerus sebagai pemikiran yang orisinal, berlandaskan penilaian atas gejala-gejala sosial dan sejarah, yang sewaktu-waktu harus ditinjau kembali benar salahnya. Ijtihad merupakan suatu proses di mana kesalahan proses akan mengakibatkan buah yang pahit, yaitu kegagalan. Sungguhpun demikian, itu pun, menurut Cak Nur, masih lebih ringan daripada beban stagnasi sosial sejarah akibat tidak adanya pembaruan.

Dan bagi Cak Nur, tidak mungkin ada ijtihad dan pembaruan yang akan mengubah masyarakat ke arah peradaban, jika tidak ada organisasi-organisasi penelitian dengan dasar yang kuat, yang mempunyai metode yang unggul untuk menganalisis situasi apa pun, dan mempunyai pengetahuan yang tepat tentang perkembangan-perkembangan kemajuan kemanusiaan dan kesempatan-kesempatan yang diberikan oleh penemuan-penemuan baru di setiap bidang, baik sosial maupun alam. Sebenarnya Cak Nur memimpikan Paramadina untuk tujuan ijtihad seperti ini. Dan ide-ide yang dikemukakannya merefleksikan fondasi yang dirintisnya untuk menjadikan Paramadina sebagai Pusat Islam (Islamic Center) yang terkemuka. Pekerjaan pembaruan, menurut Cak Nur, adalah pekerjaan dari kalangan masyarakat yang mempunyai kemampuan yang sebesar-besarnya untuk mengerti dan berpikir. Dengan kata lain, pekerjaan kaum terpelajar, dengan tanggung jawabnya yang berat, yaitu kemajuan umat Islam, dan kemajuan bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Bagaimana cara membaca buku ini?
Pertama buku ini didesain dengan satu entri dapat dibaca satu menit. Dengan baca satu entri diharapkan ada “one minute enlightment” (pencerahan satu menit). Maksudnya, diharapkan dengan membaca satu entri (apa pun) ada pencerahan pikiran yang bisa Anda dapatkan dari pikiran Cak Nur. Kalau itu tidak tercapai, cukuplah dicapai “one minute wisdom” (satu menit kearifan), kalau tidak juga, minimal ada “one minute ah-a”. Ada rasa “a-ha”—sesuatu yang baru. Sebagian besar entri dapat membantu kita mencapai ketiga kemungkinan hal tersebut. Entri yang tidak memberi a-ha, berarti entri yang gagal, dan hanya akan memberikan “one minute non-sense!”. Tanggung jawab kegagalan itu ada pada penyunting. Dan diharapkan masukan, saran, dan kritik untuk perbaikan pada cetakan mendatang. Dalam banyak halaman, tersedia kutipan dari pikiran Cak Nur yang diharapkan bisa menjadi inspirasi. Juga gambar-gambar yang membantu kita supaya dapat membaca relaks, berhadapan dengan buku setebal ini.

Buku ini tidak dimaksudkan untuk dibaca semua. Tetapi kalau Anda dapat membaca semua, atau paling tidak sebagian besar dari entri yang ada, maka akan banyak pemahaman dan inspirasi yang dapat diperoleh dari Cak Nur. Dan ini merupakan warisan paling berharga dari kerja intelektual Cak Nur selama di Yayasan Paramadina. Akhirnya, tanpa bantuan banyak pihak tentu buku Ensiklopedi Nurcholish Madjid ini tidak akan pernah terbit menjadi kenyataan. Maka pertama kali, saya sebagai penyunting, mengucapkan rasa syukur kepada Allah Swt., dan terima kasih kepada guru besar studi Islam saya, Almarhum Prof. Dr. Nurcholish Madjid, yang telah memperkenankan saya mendampingi beliau dalam masa 12 tahun saya menjadi Direktur Pusat Studi Islam Paramadina.

Dari beliau—setelah saya mempelajari bertahun-tahun isu yang ada dalam ensiklopedi ini—saya mendapatkan keteguhan iman yang mapan, penuh kelapangan, pluralis, dan yang paling penting, toleran, di tengah suasana filosofis skeptisisme posmodernis yang banyak saya pelajari, yang meragukan arti agama dewasa ini. Terus terang, Cak Nur telah menyelamatkan iman saya dari ketidakpercayaan akibat gempuran renungan-renungan filosofis yang sangat kritis terhadap apa pun yang dianggap sebagai pemikiran mapan. Cak Nur memberikan sebuah istilah filsafat fides quarens intellectum, sebuah keimanan yang diterangi akal—juga sebaliknya akal yang dicerahkan oleh iman. Dalam masa yang panjang bersama Cak Nur, saya bersentuhan dengan banyak kuliah, ceramah, hand-out, dan makalah Cak Nur yang sebagian besar sekarang sudah terdokumentasikan dan terolah dalam ensiklopedi ini. Terima kasih Cak Nur atas kepercayaan Anda pada saya untuk memimpin proses penyuntingan ensiklopedi ini.

Saya belajar banyak bagaimana mengerti hakikat agama Islam yang Anda sebut hanîfîyah samhah (keislaman yang toleran dan penuh kelapangan). Dengan ensiklopedi ini, semoga akan lebih tersebarluaskan pikiran-pikiran yang telah Anda geluti selama lebih dari tiga dekade, ke seluruh pelosok Indonesia.

Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Mbak Omi Komaria Madjid dan keluarga yang telah mengizinkan penerbitan buku ini, dan juga telah memberikan masukan dan koreksian. Kepada teman-teman Yayasan Wakaf Paramadina dulu maupun sekarang, saya ingin mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya, sehingga saya bisa mengolah naskah Cak Nur ini sehingga menjadi buku dokumen yang lengkap. Saya juga ingin mengucapkan terimakasih atas persahabatan yang sangat berkesan selama saya bekerja 12 tahun di Paramadina. Khusus kepada Ketua Umum, Sekretaris dan Bendahara, Bapak Prof. Dr. Didik J. Rachbini, Bapak Silmy Karim, dan Bapak Hendro Martowardojo, saya menghaturkan terimakasih atas usaha dan bantuan finansial untuk penerbitan buku ini.

Selanjutnya, tentu saja saya harus mengucapkan terima kasih kepada lima senior saya di Center for Spirituality and Leadership (CSL). Mereka adalah Pak Hario Soeprobo, Pak Hendro Martowardojo, Pak Mahdi Syahbuddin, Pak Angky Tisnadisastra, dan Pak Ario Wibisono. Mereka semua telah mendorong saya untuk dapat menyelesaikan proses pendokumentasian pikiran-pikiran Cak Nur, bagaimanapun beratnya pekerjaan ini, sehingga bisa selesai seperti yang dapat Anda nikmati sekarang. Mereka bukan hanya memberi support, tapi juga memberi bantuan keuangan yang besar sehingga penyuntingan buku ini dapat terselesaikan. Khusus kepada Pak Hendro Martowardojo, saya menghatur terima kasih atas usaha untuk pembiayaan penerbitan buku ini. Kepada Bapak Michael Ruslim, Direktur Utama dari PT. Astra Internasional Tbk. kami mengucapkan terima kasih atas sponsor penerbitan buku ini. Sebagian dari penerbitan buku ini disumbangkan kepada perpustakaan universitas besar di seluruh Indonesia.

Selanjutnya, kepada Mas Utomo Dananjaya, saya menghaturkan terima kasih sedalam-dalamnya. Beliau menjadi tempat konsultasi saya ketika ide awal buku ini masih dalam bentuk gagasan, sampai dapat terbit sekarang ini. Kepercayaan Mas Tom kepada saya dan support-nya yang terus-menerus membuat saya yakin bahwa saya bisa menyelesaikan buku ini dalam waktu setahun.

Terima kasih juga kepada Bapak Machnan R. Kamaluddin dan Bapak Usep Fathuddin, mantan Ketua dan Sekretaris Umum Yayasan Wakaf Paramadina, danjuga sahabatku, Pak Jusuf Sutanto, Yon Hotman dari McLeader, yang telah memberi saya kesempatan dan kemungkinan sehingga saya bisa melakukan sabbatical year, di mana waktu cuti yang panjang itu bisa saya pergunakan menyelesaikan penyuntingan buku ensiklopedi ini.

Selama proses penyuntingan yang memakan waktu kerja full time setahun, saya merasakan manfaat besar training filosofis dan teologis—dan utang budi intelektual—yang telah diberikan oleh dua guru besar filsafat saya, Romo Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ, dan Romo Prof. Dr. Martin Harun OFM. Mereka telah membimbing saya bagaimana melakukan kajian hermeneutis atas suatu teks filosofis keagamaan. Pelajaran yang mereka berikan telah menghasilkan buah kemampuan menyunting teks-teks Cak Nur ini, sehingga bisa tersaji baik seperti ini.

Terimakasih juga ingin saya sampaikan kepada senior-senior saya di kantor saya sekarang, The Asia Foundation, Dr Douglas E. Ramage, Dr Robin Bush, dan Lies Marcoes-Natsir, yang telah dan terus membimbing saya mengerti kompleksitas masalah Islam dan Civil Society. Selama bekerja di The Asia Foundation saya merasakan luasnya pengalaman berinteraksi dengan organisasi-organisasi dan tokoh-tokoh Islam di seluruh Indonesia.

Pekerjaan advokasi dengan ide-ide demokrasi, pluralisme dan toleransi ini telah memperkaya apa yang selama ini saya pahami hanya secara teoretis lewat pekerjaan seperti penulisan dan penyuntingan buku Ensiklopedi Nurcholish Madjid ini. Saya harus mengucapkan terima kasih dan respek yang mendalam kepada senior saya, Dr. Haidar Bagir, yang sejak awal telah mengetahui arti buku Ensiklopedi Nurcholish Madjid ini untuk pengembangan intelektual Islam di Indonesia. Tanpa persetujuan Mas Haidar pasti buku ini tidak akan pernah terbit di Penerbit Mizan. Untuk proses itu, saya juga harus mengucapkan terima kasih kepada Ilham B. Saenong dan Taufik M.R. yang telah memimpin proses penerbitan naskah ini di Penerbit Mizan.

Selanjutnya kepada para editor saya, Ahmad Gaus AF., M. Syu‘bi, Ali Noer Zaman, Dede Iswadi, dan Eko Wijayanto, saya haturkan penghargaan dan terima kasih yang banyak, karena tanpa ketekunan Anda semua, pastilahbuku ini tidak terbit sebaik ini. Kepada Ben Hamzah Barmansyah dan Iwan Himawan dan istrinya, Aag Kurniati, yang telah mentranskrip banyak sekali rekaman kuliah Cak Nur, dan mengetikkan ulang, saya juga haturkan terima kasih. Juga kepada M. Nurul Islam dan Epiet yang telah membuat banyak illustrasi sehingga ensiklopedi ini bisa lebih hidup. Tak lupa saya ucapkan terimakasih dan penghargaan kepada kawan-kawan saya di CSL, Pardamean Harahap, Ben Hamzah Barmansyah, Vita Adriana, Jhody A. Prabawa, Muhammad Ali, Pepen Supendi, dan Zaki S. Dharmoko yang telah merelakan waktu kerja saya untuk menyelesaikan penyuntingan buku ini. Dan terakhir, tentu saja ucapan terima kasih dan penghargaan kepada istri saya tercinta, Meirita Widaningrum, yang telah menemani saya dan memberi banyak inspirasi dalam proses pengerjaan ensiklopedi ini. Ia tidak hanya memberi inspirasi, tetapi juga terus mendorong untuk setia bekerja dalam pemikiran Islam, melanjutkan pikiran-pikiran yang sudah dirintis Cak Nur. Karena komitmen itu juga, buku ini bisa diselesaikan. Kepada semua pihak—termasuk yang tidak disebutkan namanya di sini—saya hanya bisa mengucapkan jazâ-kumu ‘l-Lâh khayr-u ‘l-jazâ’.

Hanya Allah saja yang bisa membalas semua kebaikan hati. Semoga dengan penerbitan buku ini, spirit Cak Nur yang mendambakan wajah Islam yang penuh kelapangan dan toleran (al-hanîfîyât al-samhah), terus tumbuh dan berkembang di bumi Nusantara—yang sejak dulu dikenal dengan toleransi dan pluralismenya. Amin.

Jakarta, 1 Ramadan 1426 H/29 Agustus 2006 M
Budhy Munawar-Rachman
(penyunting)

 

Pengantar Editor (edisi cetak)

[gview file=”http://www.paramadina-pusad.or.id/ywP/wp-content/buku/ensi-nm/ensi nm 1/02 pengantar editor.pdf”]

 

Daftar Isi (edisi cetak)

[gview file=”http://www.paramadina-pusad.or.id/ywP/wp-content/buku/ensi-nm/ensi nm 1/01 daftar isi.pdf”]

Post a Comment