Meneladani Ben Anderson

Meneladani Ben Anderson

Berbagi Artikel

Wafatnya Benedict Anderson pada akhir tahun lalu di Batu, Jawa Timur, merupakan kehilangan besar, tidak hanya bagi orang-orang terdekatnya, tapi juga bagi banyak sarjana dan pembaca karya-karyanya di seluruh dunia. Terlebih di luar karyanya, perjalanan hidup Ben Anderson sendiri sebagai pemikir dan ilmuwan politik terkemuka sudah memukau dan mengilhami banyak orang.

Beberapa minggu menjelang wafat, Anderson menyelesaikan versi Bahasa Inggris memoarnya, Life Beyond Boundaries, yang pertama kali diterbitkan di Jepang pada 2009. Sempat menolak beberapa kali, ia akhirnya setuju menuturkan perjalanan intelektualnya dalam memoar ini. Menjelang setahun kematiannya, memoar ini didiskusikan pada Rabu (26/10) bersama Ihsan Ali-Fauzi, Direktur PUSAD Paramadina, yang baru saja menulis ulasan terhadapnya.

Riwayat hidup Anderson sangat majemuk dan penuh warna. Dia lahir di Kunming, Cina pada 1936, tapi tumbuh besar di Irlandia, Inggris dan Amerika Serikat. Meski dididik di lingkungan Eton dan Cambridge yang elit, ia tetap menyimpan perasaan terpinggirkan yang berpengaruh penting dalam perjalanan kariernya. Dia memuji pendidikan gaya-lama yang dia terima di bidang sastra, sejarah dan bahasa, yang belum berorientasi mencetak “profesional.”

Setelah sempat menganggur dan berseteru dengan sang ibu karena tak mau menjadi diplomat, Anderson akhirnya berlabuh di Cornell University untuk menekuni studi Asia Tenggara, dan mengajar di sana. Tapi di sepanjang kariernya, Anderson tidak pernah berhenti menjelajahi hal baru. Hingga akhir hayatnya, berbagai karya terobosan terus dia hasilkan dari studinya di berbagai tempat di Asia Tenggara.

Di Cornell, Anderson bertemu dengan George Kahin, salah satu mentornya yang paling dia segani. Kahin meyakinkannya untuk mempelajari pendudukan Jepang di Indonesia. Tak perlu lama bagi Anderson untuk mempelajari bahasa dan budaya Indonesia. Ia tiba di Jakarta pada 1961 dan tinggal selama dua setengah tahun. Ia sangat menikmati studinya dan jatuh cinta pada Jawa hingga tak menyadari situasi politik Indonesia saat itu sudah semakin memanas.

Ketika peristiwa kudeta yang memicu pembantaian massal meletus pada Oktober 1965, Anderson sudah kembali ke Cornell. Ia menyelidiki peristiwa tersebut bersama koleganya dan menyimpulkan bahwa peristiwa tersebut dipicu oleh persaingan internal di dalam militer, dan bukan didalangi Komunis. Laporan mereka yang kemudian dikenal sebagai Cornell Paper inilah antara lain yang membuat Anderson tak bisa ke Indonesia hingga 32 tahun berikutnya.

Anderson tentu sedih, tapi ia bersyukur karena dengan begitu ia dipaksa untuk mempelajari hal lain di tempat baru. Dalam memoarnya ia bercerita bahwa jika tidak begitu, ia sangsi dapat menuliskan karyanya, Imagined Communities, yang sangat berpengaruh dalam studi nasionalisme. Sejak pertama kali terbit pada 1983, buku ini telah diterjemahkan ke 29 bahasa. Setelah pensiun dari Cornell pada 2001 pun, Anderson masih tetap sibuk. Ia antara lain menulis buku Under Three Flags tentang nasionalisme anti-kolonial dan menerjemahkan novel Eka Kurniawan, Man Tiger.

Etos belajar Anderson yang tidak pernah puas dan tidak terkungkung batas disiplin inilah yang penting untuk diteladani para peneliti di sini, menurut Ali-Fauzi. Itulah sebabnya mengapa karya-karya Ben selalu orisinal, penuh kejutan dan tidak kaku. Warisan terbesar Anderson bukanlah karya-karya besarnya, melainkan rasa ingin tahunya, hasratnya pada yang ganjil dan remeh, dan kemampuannya dalam mengamati kaitan yang tak terlihat orang lain.***

Post a Comment