Pidato Kunci Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin

Peluncuran dan Diskusi Buku
“Ketika Agama Bawa Damai, Bukan Perang: Belajar dari Imam dan Pastor”

Jakarta, 1 November 2017

Assalamu’alaikum Wr. Wb., selamat siang dan salam sejahtera bagi kita semua.

Para undangan yang saya hormati. Bapak Ihsan Ali Fauzi selaku Direktur PUSAD Paramadina yang telah membantu terselenggaranya acara ini. Yang saya hormati, Ibu Sidney Jones. Yang saya muliakan bapak K.H. Ahmad Syafi’i Mufid, ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta. Yang saya hormati para pemuka agama, para undangan serta hadirin yang berbahagia.

Pertama-tama saya ingin menyampaikan terimakasih kepada para pihak, khususnya PUSAD Paramadina dan Yayasan Tifa, dan teman-teman semua, yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Kegiatan ini penting tidak hanya karena temanya, tetapi juga tujuannya. Acara ini bertujuan supaya agama dapat kita pahami dengan baik sesuai fitrahnya sebagaimana dikehendaki Sang Pencipta.

Saya tidak sepakat dengan pernyataan bahwa agama sumber kekerasan. Saya menepis tesis itu karena tidak ada satu pun agama yang menjadi sumber konflik. Apabila ternyata ada konflik dan kekerasan yang mengatasnamakan agama, tentu ada persoalan mendasar pada pemahaman kita atas agama sebab agama, sependek pengetahuan saya, tak ada yang mengajarkan kekerasan. Atas alasan apapun, tidak ada agama yang meminta umatnya untuk berkonflik. Justru sebaliknya. Tuhan menurunkan agama kepada orang-orang suci, melalui kitab-kitab suci yang menjadi panduan dan pedoman umatnya untuk mengamalkan nilai-nilai kebajikan, sehingga kehidupan kita saling mensejahterakan.

Ketika ada paham atau keyakinan yang dijadikan alat untuk berkonflik, pemahamannya yang harus kita luruskan. Oleh karenanya, kita bersyukur bisa mengambil pelajaran dari pengalaman Pastor James dan Imam Ashafa, sekalipun mereka berada nun jauh di sana, di Nigeria. Pengalaman mereka adalah pelajaran berarti bagi kita. Kita (Indonesia dan Nigeria) memiliki konteks yang kurang lebih sama, mejemuk, dan karenanya sama-sama memiliki potensi konflik. Oleh sebab itu, kita bisa dan perlu belajar dari pengalaman mereka. Kita juga bersyukur kini tersedia buku (Ketika Agama Membawa Damai, Bukan Perang [2017]), yang hari ini akan didiskusikan, yang merekam pengalaman mereka dan kita dapat mempelajari pengalaman mereka dari buku ini.

Dari pengalaman mereka, saya menangkap ada lima pelajaran sebagai umat beragama, yang dapat meredam konflik yang mengatasnamakan agama. Pertama, esensi tiap agama itu membawa kedamaian dan kebajikan. Konflik adalah lawan dari kebajikan. Kesadaran untuk mencapai esensi setiap agama ini, menurut saya, menjadi faktor utama transformasi Pastor James dan Imam Ashafa seperti sekarang ini. Kedua, kesediaan untuk mulai memperbaiki diri. Ketiga, keinginan untuk mengorganisir diri melalui institusi untuk mencapai tujuan mereka. Keempat, jaringan dapat menjangkau penerima manfaat yang lebih masif. Kelima, tahapan seperti berorganisasi dan membangun jaringan akan memudahkan kampanye perdamaian di banyak tempat. Terbukti, kampanye perdamaian Pastor James dan Imam Ashafa kini telah menjangkau banyak tempat di Afrika. Apa yang mereka lakukan merupakan contoh ketika agama dikembalikan kepada esensi yang sesungguhnya.

Satu hal lagi yang hendak saya sampaikan terkait agama: konteks Indonesia. Di tengah kemajemukan bangsa Indonesia yang luar biasa, kita patut bersyukur karena kita dikenal sebagai bangsa yang memiliki tingkat religiusitas di atas rata-rata dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Paham sekularisasi yang hendak memisahkan agama dari negara secara drastis relatif tak terjadi. Hal ini tentunya harus disambut positif mengingat agama selalu membawa nilai-nilai positif.

Meskipun demikian, kita jangan pula lupa bahwa agama memiliki kekuatan, di mana seseorang dapat mengorbankan apapun yang dimiliki, jiwa dan raga, demi agama yang ia bela. Tak jarang agama juga dijadikan sebagai alat pembenar oleh mereka yang berkompetisi dengan macam-macam kepentingan pragmatis, seperti kepentingan politik atau ekonomi. Agama berpotensi besar dimanfaatkan karena memiliki dua sisi: luar dan dalam. Sisi luar berarti aspek lembaga atau institusi formal dari agama, seperti konsep ketuhanan, cara peribadatan serta bentuk komunikasi antara manusia dengan Tuhan yang beragam. Perbedaan itu tak hanya antar agama-agama tetapi juga di dalam satu agama yang sama. Hal itu tentunya akan memunculkan kelompok-kelompok yang berbeda ketika masing-masing melembagakan ajarannya itu ke dalam organisasi tertentu.

Sementara itu, sisi dalam agama adalah aspek substansi ajaran. Jika substansi ajaran agama diamati, kita akan menemukan bahwa satu agama dengan agama lainnya nyaris tidak terdapat perbedaan. Misalnya, hampir semua agama membicarakan keadilan dengan konsep yang hampir sama. Semua agama juga jelas-jelas mengajarkan hak asasi manusia sebagai ajaran universal seperti gagasan mengenai memanusiakan manusia. Jadi ketika membicarakan perdamaian, maka bahasa dan tujuan setiap agama pada dasarnya memiliki konsep ini.

Di Indonesia yang majemuk dalam konteks agama, misi yang kini hendak kami, Kementerian Agama, wujudkan adalah bagaimana mengedepankan modernisasi agama. Modernisasi di sini berarti mengembalikan agama pada esensi dan substansi yang sesungguhnya dan sekaligus memaknai bila agama pada dasarnya adalah ajaran yang menolak ekstrimitas. Ini karena sesungguhnya tidak ada agama yang mengajarkan nilai ekstrimitas yang serba berlebihan.

Untuk itu, dalam konteks Indonesia, jauh lebih penting agar mengedepankan sisi “dalam” atau esensi agama yang tujuannya menciptakan perdamaian. Walau begitu, bukan berarti pendekatan formalitas yang melihat agama dari “luar”, di mana melihat perbedaan aspek kelembagaan, tidak penting. Hanya saja perbedaan itu tidak perlu dibesar-besarkan atau dihadap-hadapkan karena keragaman ini juga pada dasarnya kehendak Tuhan, sebagaimana terwujud dalam banyak ayat suci. Keragaman adalah satu cara Tuhan menurunkan berkahnya kepada kita, umat manusia, yang memiliki banyak keterbatasan.

Catatan terakhir saya adalah bahwa Pastor James dan Imam Ashafa mengisahkan dan menuliskan sejarah pengalaman hidup mereka dalam menyebarkan perdamaian ini langsung oleh mereka sendiri. Hal ini tentu membawa kelebihan tersendiri. Seringkali pelajaran dari sejarah dan pengalaman seorang tokoh tidak dikisahkan langsung oleh tokoh itu sendiri melainkan orang lain. Biasanya tokoh yang punya pengalaman hidup tersebut sudah meninggal. Karenanya, kita patut bersyukur mereka masih ada sehingga kita dapat bertanya dan memverifikasi secara langsung kepada mereka.

Saya kira ini yang dapat saya sampaikan. Saya harus membatasi diri agar cukup waktu bagi narasumber lainnya. Sekali lagi terimakasih pada semua pihak yang telah mendukung acara ini. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberi kekuatan agar kita dapat selalu menjalankan amanahnya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Tinggalkan Balasan