Inspirasi Binadamai dari Sang Imam dan Pastor

Jakarta — Ratusan audiens dari beragam latar belakang secara antusias menghadiri acara kuliah umum “Ketika Agama Bawa Damai, Bukan Perang: Belajar dari The Imam dan The Pastor” pada Sabtu (14/10) di Aula Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina. Kuliah ini merupakan momen penting bagi Indonesia untuk menggali pengalaman, semangat dan kerjasama dua agamawan asal Nigeria – Imam Ashafa dan Pastor James Wuye – yang sebelumnya berkonflik, kini menebarkan agama yang damai dan kasih.

Dalam kuliah umumnya, Ashafa dan James menceritakan bagaimana konflik antar agama yang berlangsung bertahun-tahun telah memporak-porandakan Nigeria dan membawa kesengsaraan pada negerinya. Mereka juga mengakui secara terbuka bahwa di masa lalu keduanya merupakan musuh yang saling berperang dalam konflik antar agama. Mereka menggunakan dalil-dalil agama untuk menyebarkan kebencian dan melegitimasi kekerasan pada kelompok agama lain.

Di tengah kebencian yang semakin memuncak diantara keduanya, api permusuhan mereka mendapatkan titik balik tatkala menyadari bahwa agama yang mereka anut justru mengajarkan orang untuk berdamai dan saling memaafkan termasuk kepada orang yang berbeda agama, kendati orang tersebut telah melukai mereka. Akhirnya, Ashafa dan James memutuskan berdamai meski memakan waktu bertahun-tahun dan kini aktif menyebarkan perdamaian lintas agama tidak hanya di negerinya, tapi ke seluruh dunia.

“Islam merupakan agama yang selalu menekankan perdamaian. Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara dengan penganut Islam terbanyak di dunia harus menjadi contoh bagi negara-negara lain untuk menciptakan perdamaian lintas iman,” seru Imam Ashafa dalam pemaparannya. Senada dengan sang imam, Pastor James Wuye menekankan, bahwa kompetisi antar agama yang berlangsung sudah tak relevan lagi dilakukan melalui konflik, menurutnya kompetisi yang ada sudah seharusnya dilakukan dengan berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Apa yang dijelaskan oleh Imam Ashafa dan Pastor James dalam kuliahnya menjadi catatan penting bagi interaksi umat beragama di Indonesia. Sebagaimana ditegaskan Direktur PUSAD Paramadina, Ihsan Ali Fauzi, tujuan diundangnya mereka dilatarbelakangi atas dasar bahwa pendekatan teologi saja tidak cukup untuk memahami perdamaian antar agama. “Kita juga perlu mempelajari binadamai secara empiris,” terang Ihsan. Melalui pengalaman Imam dan Pastor, meski secara umum kondisi Indonesia lebih baik, kita dapat meneladani dan menjadikan pengalaman pahit yang mereka lalui sebagai pelajaran berharga.***

Tinggalkan Balasan