Monografi Kerukunan Umat Beragama di Indonesia

Monografi Kerukunan Umat Beragama di Indonesia

Berbagi Artikel
Penerbit

LITBANGDIKLAT PRESS

Editor

Dr. Kustini

Penyelaras

Sugeng Pujakesuma

Halaman

42

Cetakan

I, 2019

Tahun Terbit

2019

ISBN

9786025127069

Ada dua kecenderungan cara pandangan para pengamat dan akademisi dalam memahami hubungan antar umat beragama di Padang, Sumatera Barat: pesimistis dan optimis. Pandangan pesimistis diwakili pengamat yang melihat kehidupan keagamaan di Padang bertentangan dengan prinsip kemerdekaan beragama atau berkeyakinan pada skala nasional. Mereka, misalnya, menyoroti peraturan pemerintah daerah yang bernuansa keagamaan, yang dikenal sebagai Perda Syariah (WI, 2008:22; Bush, 2008:7). Selain peraturannya itu sendiri, pengamat memandang bahwa penerapan Perda tersebut menghambat kemerdekaan warga negara dalam beragama atau berkeyakinan, di mana siswi beragama non-muslim terpaksa “menyesuaikan” diri dengan mengenakan jilbab layaknya siswi beragama Islam (Candraningrum & Febrianti, 2008).

Amatan ini diperkuat dengan kenyataan bahwa masyarakat Minang di Padang, dan Sumatera Barat pada umumnya, mempunyai moto Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (dikenal dengan singkatan ABS-SBK). Moto ini diyakini menjadi dasar pembentukan Perda, penerapan Perda yang diskriminatif, dan beberapa insiden diskriminasi dan kekerasan terhadap komunitas khususnya non-Islam selama ini di Padang.

Di sisi lainnya, pengamat lain cenderung berpandangan optimis terhadap situasi kerukunan umat beragama di Padang. Pandangan ini banyak diutarakan dalam Kongres Kebudayaan Minangkabau pada 23 September 2010 di Padang, Sumatera Barat. Dalam kongres tersebut, seperti pada kongres sebelumnya pada 1999, sejumlah akademisi dan praktisi memandang bahwa ABS-SBK adalah fondasi bagi bangunan toleransi dan kerukunan umat beragama di Padang. Seraya menyadari multi-tafsir, ABS-SBK dipandang cukup sebagai basis paradigma masyarakat Padang menghargai perbedaan dan bersikap ramah terhadap ciri dan gaya hidup yang berbeda dengan mereka sehari-hari (Abna, 1999; Syarifuddin, 2003). Pandangan ini begitu optimis bahwa prinsip luhur adat Minang dapat menjadi fondasi bagi kebhinekaan sebagaimana prinsip-prinsip Pancasila.

Dua pola pikir pemerhati dan akademisi terhadap kehidupan keagamaan di Padang yang pesimistis dan optimistis di atas mengandung bias yang saling menegasi satu sama lain dan kurang produktif bagi masa depan kerukunan umat beragama di Padang, dan di Indonesia secara umum. Pandangan pesimis cenderung mengabaikan potensi dan modal sosial yang berakar pada nilai kebudayaan yang terekspresikan pada petatah-petitih dan sistem adat.

Tulisan ini berargumen bahwa masyarakat Padang pada dasarnya memiliki modal sosial yang memadai untuk membina dan mengembangkan kerukunan umat beragama, namun masih banyak tantangan yang perlu diperhatikan untuk mencapai kerukunan yang sesungguhnya. Kerukunan yang dimaksud sebagaimana tercantum pada Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 8 dan 9 Tahun 2006, “keadaan hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengamalan ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.” Kata kuncinya adalah toleransi, kesetaraan, dan kerjasama. Modal sosial yang dimaksud adalah praktik kerukunan yang telah menjadi keseharian di level akar rumput.

Tantangan yang paling besar adalah bagaimana kerukunan tersebut dilembagakan sehingga praktik kerukunan menjadi agenda bersama antara pemerintah dan komunitas agama-agama untuk menciptakan masyarakat inklusif. Argumen ini saya peroleh berdasarkan bacaan ulang terhadap beberapa tulisan hasil penelitian Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia dan konfirmasi dari beberapa tokoh kunci melalui wawancara tatap muka, serta diskusi terbatas dengan tokoh setempat secara simultan.

No Comments

Post A Comment