BEGIN:VCALENDAR
PRODID://WordPress//Event-Post-V5.9.2//EN
VERSION:2.0
BEGIN:VTIMEZONE
TZID:Asia/Jakarta
BEGIN:DAYLIGHT
TZOFFSETFROM:+0100
TZOFFSETTO:+0700
DTSTART:19700329T020000
RRULE:FREQ=YEARLY;BYDAY=-1SU;BYMONTH=3
END:DAYLIGHT
BEGIN:STANDARD
TZOFFSETFROM:+0700
TZOFFSETTO:+0100
TZNAME:CET
DTSTART:19701025T030000
RRULE:FREQ=YEARLY;BYDAY=-1SU;BYMONTH=10
END:STANDARD
END:VTIMEZONE
BEGIN:VEVENT
SUMMARY:[Ringkasan Artikel RISOS #3] MENEGUHKAN LAGI PERAN AKAL, KEBEBASAN DAN TOLERANSI: MEMPERTIMBANGKAN TAWARAN MUSTAFA AKYOL
UID:https://www.paramadina-pusad.or.id/ringkasan-artikel-risos-3-meneguhkan-lagi-peran-akal-kebebasan-dan-toleransi-mempertimbangkan-tawaran-mustafa-akyol/
LOCATION:
DTSTAMP:20220325
DTSTART;TZID=Asia/Jakarta:20220325
DTEND;TZID=Asia/Jakarta:20220325
DESCRIPTION:Reading in Social Sciences (RISOS) #3

MENEGUHKAN LAGI PERAN AKAL, KEBEBASAN DAN TOLERANSI:
MEMPERTIMBANGKAN TAWARAN MUSTAFA AKYOL
Jumat, 25 Maret 2022, pukul 14:00-16:00 WIB.

Ringkasan Buku

Judul: Reopening Muslim Minds: A Return to Reason, Freedom, and Tolerance
Penulis: Mustafa Akyol
Penerbit: ST. Martin's Essentials, 2021
Tebal: v + 298 halaman

Dalam buku ini, Akyol mengulas bagaimana perkembangan sejarah pemikiran
Islam
berpengaruh pada kemajuan dan kemunduran peradaban Islam. Akyol menjelaskan
bahwa
sejarah awal islam ditandai oleh kontestasi di antara dua aliran etika yang
disebutnya “teori
perintah ilahi” dan “teori objektivisme etis”. Aliran etika yang
pertama berkembang terutama
dalam bentuk Aliran Asy’ariyah, satu aliran teologi Sunni yang menekankan
kewenangan
mutlak kitab suci dan ulama (sarjana agama).
Akyol mengulas bagaimana aliran Asy’ariyah tumbuh menjadi aliran teologi
yang dominan
dalam sebagian besar sejarah Islam bukan karena kekuatan argumentasinya,
tetapi karena
dukungan para pemimpin otoritarian kepadanya. Hal ini disebabkan oleh
kesamaan
kepentingan di antara elite politik dan agama yang memutuhkan kepatuhan
mutlak rakyatnya
dalam memerintah. Pemaksaan kehendak penguasa dijustifikasi menggunakan
interpretasi teks
keagamaan yang menguntungkan kepentingan elit tertentu. Menurut Akyol,
kecenderungan ini
terus bertahan di masa modern, di mana aliansi pemimpin otoriter dan ulama
konservatif terus
membungkam kebebasan dengan mengatasnamakan perintah Tuhan.
Di sisi lain, “objektivisme etis” diusung oleh aliran yang disebut
sebagai Mu’tazila. Aliran ini
menekankan pentingnya menggunakan akal dan rasionalitas berpikir dalam
menginterpretasi
teks ilahi. Prinsip keterbukaan pada pemikiran kritis juga mendorong umat
Muslim untuk tetap
menggunakan nurani atau conscience dalam diri masing-masing dalam
menentukan baik dan
buruk. Alih-alih terjebak pada pemahaman teks ilahi secara literal, aliran
ini menekankan
pentingnya melihat konteks dan merayakan reason. Keterbukaan pemikiran ini
merayakan
upaya untuk mencari ilmu pengetahuan baru yang pada gilirannya melahirkan
banyak ilmuwan
maupun filsuf Muslim yang buah pikirannya berkontribusi pada kemajuan
peradaban manusia
hingga sekarang.

Akibat pemikirannya, banyak pemikir Islam dari kedua aliran di atas yang
mengalami
persekusi pada periode sejarah tertentu. Namun pada akhirnya Akyol
menunjukkan bagaimana
warisan pemikiran Asy’ariyah saat ini lebih mendominasi banyak institusi
keagamaan di
negara-negara Muslim dan berdampak pada pembungkaman ulama yang tidak
sependapat
dengannya dengan tuduhan “kesesatan” atau heresy. Akyol
mendemonstrasikan bagaimana
kecenderungan untuk menyebut pemikiran yang berbeda sebagai “sesat”
membunuh budaya intelektualisme dan keterbukaan menerima kebenaran dari
peradaban lain.
Melalui kajian historis, Akyol menunjukkan bagaimana pembungkaman terhadap
aliran
apapun (khususnya Mu’tazila) berpengaruh pada stagnasi bahkan kemunduran
peradaban
Islam. Tradisi pembuktian kebenaran melalui cara-cara yang etis, rasional
dan saintifik
dianggap tidak penting atau bahkan membahayakan keimanan seorang Muslim.
Islam yang
ketika pertama kali turun membawa nilai-nilai kemanusiaan seperti pemenuhan
hak kelompok
lemah dan minoritas, kesetaraan gender, toleransi, dan keadilan sosial
justru mengalami
kemunduran. Akyol mendorong agar kaum Muslim mereguk kembali nilai-nilai
pencerahan,
yang pernah menjadi landasan kokohnya peradaban Islam (yakni penghormatan
atas akal dan
pikiran, kebebasan, dan toleransi), berdasarkan sumber-sumber tradisi Islam
sendiri.
Sambil mengklarifikasi berbagai aspek dari kandungan Al-Qur’an dan
sejarah Islam yang
sering disalahpahami, Akyol mengajak para pembacanya untuk menengok kembali
warisan
para pemikir Muslim awal yang menghargai tinggi akal dan pikiran, sains dan
teknologi,
kebebasan dan tanggung jawab individual manusia sebagai makhluk Tuhan,
khususnya
sumbangan pemikiran filsuf Muslim abad ke-12 Ibn Rusyd.

Akyol menggarisbawahi pentingnya menerapkan nilai-nilai ini untuk
meneguhkan kembali
peradaban Islam. Ringkasnya, seraya mengutip satu ayat Al-Qur’an, Akyol
menulis: “The big
remedy we need ... is really having ‘no compulsion in religion.’ It is,
in other words, giving up
coercive power in the name of Islam. ... This means no more religious and
moral policing, no
threats to apostates and ‘innovators,’ no blasphemy laws, no public
flogging or stoning, and
no violence or intimidation in the family.”***
END:VEVENT
END:VCALENDAR