09 Jul Dinamika Politik Identitas
Kemajemukan Indonesia tidak dapat kita mungkiri. Ini yang ditekankan oleh Syafii Ma’arif (Buya) untuk menggambarkan fenomena sosial yang terjadi di Indonesia.
Syafii melihat bahwa kemajemukan perlu dibanggakan karena bangsa dan negara kepulauan yang terbesar dan terluas hanya terdapat di satu dunia, yaitu Indonesia, sebuah bangsa muda yang belum berumur 100 tahun.
Jumlah pulaunya lebih dari 17.000, bahasa lokal dan etnisitasnya ratusan, agama pun bervariasi yang tercatat secara resmi oleh pemerintah atau agama lokal yang belum terlirik oleh pemerintah.
Islam yang menjadi agama mayoritas penduduk Indonesia (sekitar 88,22 persen) dalam sistem iman relatif tunggal, tetapi sebagai ekspresi kultural-intelektual, paham agama dan politik ternyata Islam itu majemuk.
Kemajemukan Indonesia ini menjadi kekhawatiran Buya dengan timbulnya politik identitas yang akan menghancurkan integritas umat yang telah lama dibangun oleh para founding fathers bangsa ini.
Karena menurutnya, gerakan-gerakan yang berbasis politik identitas sangat membahayakan masa depan Indonesia karena cenderung antipluralisme, antidemokrasi dan antinasionalisme.
Dalam konteks ini, Buya – seorang cendekiawan muslim yang tak diragukan lagi gagasan-gagasan pluralismenya dan sering kali membela kaum yang tertindas atas nama agama – membandingkan politik identitas di negeri-negeri lain dan di Indonesia sendiri.
Menurut dia, politik identitas itu secara substantif muncul akibat sebuah kepentingan kelompok sosial yang merasa diperas dan tersingkir oleh dominasi arus besar dalam sebuah bangsa atau negara.
Ia juga menggambarkan gerakan politik identitas yang ekstrem sehingga mencuat gagasan separatisme.
Ini terlihat, misalnya, di Quebeck, yang berbahasa dan berbudaya Prancis, yang ingin memisahkan diri dari bangsa Kanada yang berbahasa Inggris.
Setelah kita menyoroti politik identitas di negara lain, sudah saatnya kita meneropong isu serupa berdasarkan pengalaman sejarah dalam rentang waktu 100 tahun terakhir.
Secara historis, politik identitas di negeri ini bisa bermuatan etnisitas, agama, dan ideologi politik.
Tapi memang yang diwaspadai oleh Buya adalah kelompok-kelompok radikal dan setengah radikal yang berbaju Islam, yang mendapat pengaruh dari gerakan islamis dan salafi yang mulanya berpusat di beberapa negara Arab.
Pada akhirnya, politik identitas dalam bentuk apa pun tidak akan membahayakan keutuhan bangsa dan negara ini di masa depan jika cita-cita pendiri bangsa tentang persatuan dan integrasi nasional.
Semangat sumpah pemuda yang telah melebur sentimen kesukuan dan filosofi Pancasila tidak dibiarkan tergantung mengawang-awang di atas awan, tapi tak dihayati dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab sehingga mampu turun ke Bumi dan dirasakan oleh banyak orang.
Sumber publikasi: Koran Jakarta