Agama, Konflik, dan Bina-Damai: Memetakan Kepustakaan

Agama, Konflik, dan Bina-Damai: Memetakan Kepustakaan

Agama masih terus menjadi faktor penting, baik dalam menjelaskan konflik kekerasan maupun upaya-upaya perdamaian. Meski begitu, studi-studi yang menyoroti agama dan bina-damai masih kalah pamor jika dibandingkan dengan yang menyoroti agama dan kekerasan.

Untuk memperkenalkan bidang agama dan bina-damai kepada khalayak luas, mulai Februari, PUSAD Paramadina menggelar serial kuliah agama dan bina-damai. Menggunakan Oxford Handbook of Religion, Conflict and Peacebuilding (2015) sebagai sumber utama, kuliah ini mengulas teori, persoalan, dan perdebatan mutakhir dalam bidang agama dan bina-damai.

Pertemuan perdana ini memetakan kepustakaan utama agama dan bina-damai. Kuliah disampaikan Ihsan Ali-Fauzi, Direktur PUSAD Paramadina, di Aula PUSAD Paramadina (18/02). Belasan mahasiswa dan pegiat isu kebebasan beragama menghadiri kegiatan ini.

Ihsan memulai kuliah dengan menyampaikan asal-usul munculnya studi agama dan perdamaian. “Pada 1960an studi tentang agama banyak menyinggung soal politik, terutama berkaiatn ihwal modernisasi, pudarnya pengaruh agama,” kata dia, “belakangan, pada 1970an, 1990an, teori modernisasi dianggap gagal, agama makin kuat, orang kembali memerhatikan agama”.

Meski agama mulai kembali dibicarakan oleh ilmuwan sosial, kebanyakan literatur agama dan aspek sosialnya lebih mengulas sisi gelap agama. Maksudnya, peran agama dalam konflik kekerasan. Pada 2000an mulai muncul semangat mengkaji sisi positif agama, yakni agama dan perdamaian.

“Karya Scott Appleby The Ambivalence of the Sacred merupakan cikal bakal kajian agama dan perdamaian. Di buku tersebut, Scott menunjukkan bahwa agama bisa bawa damai. Tumbuhnya meneliti sisi positif agama juga diinisasi oleh munculnya institusi di universitas untuk mengkaji agama, konflik, dan perdamaian.

“Institusi dan literatur agama dan perdamaian kemudian memetakan sumberdaya agama, dari soft power (doktrin, sejarah, ritual, dan perayaan) hingga hard power (massa, organisasi, dan tempat ibadah) sebagai sumber penting perdamaian.”

Selain memetakan literatur agama, konflik, dan perdamaian, Ihsan juga menyebutkan kekuatan dan tantangan manakala agama dijadikan sebagai sumber perdamaian.

Dari sisi kekuatan, agama potensial menjadi sumber daya perdamaian karena enam hal. Pertama, satu per tiga penduduk dunia menganut agama tertentu. Kedua, organisasi-organisasi agama memiliki kemampuan untuk memobilisasi orang dan untuk menumbuhkan sikap-sikap memaafkan dan membangun rekonsiliasi.

Ketiga, organisasi-organisasi keagamaan dapat mengandalkan berbagai sumberdaya soft power untuk memengaruhi proses-proses perdamaian: pemerian insentif, keahlian, legitimasi, hubungan, informasi dan jaringan.

Keempat, organisasi-organisasi agama, sebagai bagian dari NGO, dapat memainkan peran yang tidak seluruhnya bisa dimainkan oleh model diplomasi tradisional. Kelima, Organisasi-organisasi keagamaan dapat memanfaatkan jaringan organisasi mereka yang bersifat transnasional. Terakhir, organisasi-organisasi keagamaan sudah ada di lapangan.

Menurut Ihsan, ada beberapa tantangan bagi para agamawan jika ingin menjadikan agama sebagai sumber perdamaian. Aktor-aktor agama masih merupakan sumber konflik kekerasan, baik sebagai pelaku maupun sebagai pengamat yang diam. Para aktor agama masih merupakan pemain yang bersikap reaktif. Kerjasama di antara para aktor agama masih sangat kurang. Mereka yang sejauh ini terlibat masih memerlukan pengalaman profesional lebih jauh.

No Comments

Post A Comment