Dari “Islam Ramah” ke “Islam Marah”?

Dari “Islam Ramah” ke “Islam Marah”?

MartinInfo Buku: Martin van Bruinessen (ed.), Contemporary Development in Indonesian Islam: Explaining the “Conservative Turn” (Singapura: Institute of Southease Asian Studies [ISEAS], 2013), xxxiv + 240 halaman.

Diambil dari satu poster pada sebuah demonstrasi Front Pembela Islam (FPI) di Jakarta, kulit muka buku ini memperlihatkan wajah Islam yang “sangar” di Indonesia. Ada beberapa nama atau lukisan figur dan lembaga terkenal tertentu di situ, disertai tulisan seperti “Ganyang Liberal” atau “Bubarkan Ahmadiyah”. Mereka dianggap sesat, murtad, kafir, bukan Islam.

Memang pesan itulah yang hendak disampaikan buku ini, disunting Martin van Bruinessen, peneliti senior asal Belanda yang sudah sangat kenal Indonesia. Ada yang berubah pada Islam di Indonesia di era reformasi, dari Islam yang ramah (dikenal sebagai “smiling Islam”, tulis Martin) ke sesuatu yang bisa kita sebut sebagai Islam “marah”. Dari Islam yang moderat, prograsif, jika bukan liberal, menjadi Islam yang konservatif.

Pesan ini tampak pada empat studi kasus para sarjana Indonesia yang pernah belajar bersama Martin. Dalam studinya yang memukau, Moch. Nur Ichwan menelusuri bagaimana Majelis Ulama Indonesia (MUI) “berubah haluan” dari khadim al-hukumah (pelayan negara) menjadi khadim al-ummah (pelayan umat). Tapi “umat” di sini tentu umat seperti didefinisikannya sendiri, menjadikan MUI organisasi “moderat puritan”. Meski mengecam terorisme, lembaga bentukan Soeharto itu kini melakukan purifikasi bukan saja atas makanan (label halal), pasar (misalnya sistem keuangan dan perbankan Islam), pikiran (anti-liberalisme, pluralisme, dan sekularisme), dan akidah (anti-Ahmadiyah), tapi juga moral publik (anti-pornografi dan pornoaksi). MUI jadi dekat dengan Islam yang marah, karena sementara mengeluarkan fatwa yang “menyesatkan” Ahmadiyah, misalnya, lembaga itu tak mengecam kekerasan-kekerasan yang terjadi sebagai akibatnya.

Naiknya konservatisme juga terjadi di Muhammadiyah, seperti ditunjukkan sangat detail dalam studi Ahmad Najib Burhani. Ini tampak terasa sejak Din Syamsuddin memimpin organisasi ini, menggantikan M. Amien Rais dan Syafii Maarif. Akibatnya, misalnya, peran anak-anak muda yang berpikiran progresif, juga umumnya kalangan perempuan, makin terpinggirkan.

Memudarnya keramahan Islam juga tampak dari makin populernya perda-perda bernuansa Syariah. Ini antara lain dimotori Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI) di Sulawesi Selatan, yang dikaji Mujiburrahman dalam buku ini. Meski benihnya sudah tertanam ketika Kahar Muzakkar memberontak untuk mendirikan negara Islam, gerakan itu seperti memperoleh momentum baru berkat tersedianya demokrasi di era Reformasi. Ingat, Abdul Azis Kahar, Petinggi KPPSI, adalah anak Kahar Muzakkar yang pernah menjadi anggota Dewan Perkawilan Daerah (DPD) atas dukungan PPP dan PBB.

Dan yang paling jelas, setidaknya di buku ini, naiknya Islam “marah” di Indonesia tampak di Surakarta, Jawa Tengah, yang terkait dengan Pesantren Ngruki, seperti dipaparkan Muhammad Wildan dalam buku ini. Menurutnya, dan bukti-buktinya cukup jelas, radikalisme Islam di bawah kepemimpinan Abu Bakar Ba’asyir itu membenarkan penggunaan cara-cara kekerasan di dalam memperjuangkan tegaknya negara Islam.

Meski bermaksud menjelaskan gejala di atas, tak ada jawaban pasti kita temukan dalam buku ini. Dan memang tak mudah menemukannya.

Martin tampak sangat hati-hati dalam berkesimpulan. Tapi cukup jelas baginya bahwa pengaruh Wahhabisme, dalam bentuk dana dan ideologi, yang sering dituduh sebagai biang keladi naiknya Islam marah di atas, bukan jawaban memuaskan. Meski penting, pengaruh itu tak datang dengan wajah Islam yang tunggal.

Sayangnya, argumen lain, terkait kesempatan politik yang tersedia akibat demokratisasi, tak cukup didiskusikan Martin. Baginya, argumen ini hanya relevan untuk menjelaskan makin banyaknya aktivis yang terjun ke partai politik, meninggalkan ormas-ormas seperti NU dan Muhammadiyah diisi kalangan Muslim konservatif. Argumen itu juga seperti melegitimasi logika yang salah bahwa Islam yang ramah, yang prograsif, hanya bisa hidup di bawah ketiak otoritarianisme.

Dua hal di atas tentu sangat penting. Tapi transisi demokrasi di mana-mana juga dicirikan oleh kemampuan pemerintah yang lemah dalam melakukan tugas pokoknya, khususnya terkait kesejahteraan dan penegakan hukum, yang menyuburkan pikiran dan aksi radikal. Apalagi Indonesia diberi berkah (atau kutukan) dengan terpilihnya Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, seorang pemimpin yang lembek, di tahun-tahun yang mencirikan naiknya konservatisme Islam ini. Bukankah ini lebih dari sebuah kebetulan?

Selain itu, transisi di mana-mana juga dicirikan oleh tampilnya politisi demagog yang akan memanfaatkan apa saja untuk memenangkan kursi politik. Di negeri yang masih merupakan tanah subur bagi teori konspirasi ini, bukankah faktor ini juga bisa banyak menjelaskan naiknya Islam yang garang?

Lepas dari itu, semua sumbangan dalam buku ini sangat penting dibaca, bahkan sekadar untuk informasi yang dipaparkannya. Buku ini seperti menandai telah lahirnya generasi baru para peneliti muda Islam Indonesia yang tekun dan trampil.

Saya hanya keberatan dengan kulit mukanya, meski segera terhibur karena Martin juga menyebutkan bahwa bisa jadi ini hanya gejala sementara. Juga bahwa wajah Islam yang ramah masih ada di kantong-kantong tertentu, meski tak sedominan dulu.***

Ihsan Ali-Fauzi, Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD), Yayasan Paramadina.

Sumber: Diterbitkan Majalah Tempo, 27 Oktober 2013, hal. 68-70.

1Comment
  • tebe
    Posted at 18:25h, 18 Februari Balas

    Hampir benar 100%, Islam marah boleh dikatakan karena merebaknya wajah garang dan ajaran wahabi dibumi Indonesia, Seandainya “kelembekan” sby terus berlanjut sampai kepemerintahan berikutnya sangat dimungkinkan degradasi nasionalisme dikalangan muda dan sangat mungkin juga tak ada lagi pelajar dan mahasiswa yang menegakkan wajah sambil menghormat bendera nasional.

Post A Comment