Deradikalisasi dan Akhir Terorisme

Deradikalisasi dan Akhir Terorisme

Kesamaan

Kesamaan dari peristiwa pengeboman itu adalah pelakunya selalu membawa simbol-simbol Islam seperti penggalan ayat Al Quran dan kutipan hadist sebagai dasar pembenar aksi mereka. Sementara pelaku bom Bali yakni Imam Samudera Cs diketahui sebagai anggota jaringan Jamaah Islamiyah yang memiliki keterkaitan dengan kelompok militan Islam Al Qaeda.

Salah satu bekas petinggi Jamaah Islamiyah Nasir Abbas mengatakan dasar utama gerakan terorisme adalah penolakan terhadap pemimpin negara yang tidak menjadikan syariat Islam sebagai dasar negaranya. Kelompok teroris tersebut menganggap pemimpin yang seperti itu adalah kafir dan layak untuk diperangi. Ini sesuai dengan seruan Osama Bin Laden, pemimpin Al Qaeda, ujar Nasir.

Namun pada perkembangannya, gerakan terorisme bermetamorfosa menjadi gerakan ideologi yang menjadikan negara-negara barat, terutama Amerika, sebagai sasarannya. Ini terlihat dari sejumlah serangan mereka di Indonesia yang kerap menyasar tempat-tempat yang dianggap mewakili kepentingan Barat seperti Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton. Hal serupa juga dilakukan Jamaah Islamiyah ketika melakukan serangan di Bali tahun 2002. Pada saat itu korban terbanyak adalah warga negara Australia yang notabene adalah sekutu Amerika.

Menghilangkan sikap radikal

Namun bukan berarti sikap radikal tidak bisa hilang. Pasca sejumlah serangan bom, baik di dalam maupun di luar negeri, tercatat ada beberapa anggota gerakan yang bertobat. Nasir Abbas adalah salah satunya. Selain itu ada juga Farihin yang sebelumnya tergabung dalam Jamaah Islamiyah bersama Nasir Abbas. Peneliti Paramadina, Ihsan Ali Fauzi mengatakan, pertobatan kaum radikal itu bisa terjadi dengan sendirinya, dalam arti mereka sadar dengan sendirinya, bisa juga dilakukan dengan jalan pembinaan. Pemerintah bisa melakukan itu. Salah satunya dengan memberikan lapangan kerja untuk mereka, kata Ihsan.

Namun, seperti kata Karl Marx, Ideologi tidak akan mati, ideology Islam radikal hingga kini belum bisa dihilangkan seratus persen. Paham tersebut tetap berkembang melalui saluran-saluran yang tidak lagi konvensional, seperti pengajian atau pendekatan perorangan. Tapi sudah merambah ke dunia maya, bahkan penyebaran dengan media seperti radio dan televisi. Bibit-bibit kelompok islam radikal terus bermunculan, jelas Ihsan.

Sementara menurut Nasir Abbas, cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penyebaran paham radikal tersebut adalah dengan memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai Islam. Serta terus membuka dialog dengan siapapun, tutup Nasir.

Sumber: http://www.portalkbr.com/berita/perbincangan/2306971_5534.html

No Comments

Post A Comment