Le Grand Voyage: Naik Haji, Ziarah dan Rihlah

Le Grand Voyage: Naik Haji, Ziarah dan Rihlah

Makalah ini dipresentasikan dalam diskusi dan pemutaran film “Le Grand Voyage”, Jum’at, 11 Oktober 2013 di Pisa Kafe. Diskusi ini diselenggarakan oleh Ciputat School, LSI Community dan Forum Muda Paramadina.

Naik haji dari Perancis ke Mekah, sekitar 5,000 kilometer jauhnya, lewat darat. Panjang. Melelahkan. Dan tentu, penuh tantangan. Di masa lampau, orang-orang Kristen pada abad pertengahan terbiasa melakukan ziarah (pilgrimage) dengan cara dan pendekatan seperti itu dengan tujuan untuk menyucikan jiwa atau mendapatkan kesembuhan. Semuanya dilakukan dengan pandangan yang sama: bahwa untuk menjadi seorang peziarah berarti menerima tantangan yang berat dan sulit. Di Skotlandia, misalnya, para peziarah datang ke Whithorn Priory untuk menghormati peninggalan Saint Ninian dengan berpayah-payah jalan kaki untuk mencari kesembuhan dan keselamatan. Pada tahun 1325, seorang santri dan pengembara muda, Ibnu Battutah, pergi meninggalkan kota kelahirannya Tangier di Maroko dengan menunggang kuda menuju Damaskus untuk bergabung dengan karavan jemaah haji ke Mekah. Selama delapan belas bulan ia harus melewati berbagai rintangan dan kesulitan hidup—dirampok dan ditawan para bandit, misalnya—dalam sebuah perjalanan rihlah panjang yang mencapai ribuan kilometer, dari Afrika Utara ke Semenanjung Arabia.

Dewasa ini banyak sekali kisah dan masalah yang berurusan dengan ibadah haji. Tapi teknologi transportasi sudah banyak membantu meringankan sebagian beban perjalanannya. Dalam sebuah adegan di film yang kita nikmati hari ini, sang ayah (Mohamed Majd) bersikukuh meminta salah seorang anak lelakinya yang masih remaja untuk pergi haji dari Provence, di Prancis Selatan ke Mekah dengan mengendarai mobil tua. Réda (Nicolas Cazalé)—tokoh anak muda keturunan imigran Arab tapi sudah sangat Prancis itu—sempat bertanya: mengapa sih Bapak tidak terbang naik pesawat saja, seperti haji-haji lainnya?

Lewat film Le Grand Voyage (2004) sutradara Ismaël Ferroukhi seolah ingin membawa lagi kita kepada sebuah perjalanan yang panjang, melelahkan dan penuh tantangan itu. Lazimkah perjalanan ziarah seperti ini? Tentu saja tidak. Tapi seperti cerita orangtua pergi haji dengan naik keledai—seperti yang dinarasikan oleh tokoh sang ayah, Ismaël Ferroukhi ketika kecil menyaksikan sendiri ayahnya pergi haji dari Maroko ke Mekah dengan naik kendaraan roda empat. Ia yang kemudian tumbuh besar di Prancis—dan diperkenalkan dengan sekularisme—masih mengingat dengan baik hal yang tak-terbayangkan tersebut; sekaligus ia ingin menjadikan peristiwa ibadah haji sebagai sebuah jembatan yang menghubungkan dua generasi yang berbeda.

Hubungan ayah-anak yang kaku, yang menjadi simbol ketegangan antar-generasi di kalangan masyarakat imigran di Prancis, seakan di-kuatkan dengan dua cara pandang dunia yang bertabrakan dalam film ini. Sang ayah bisa dikategorikan sebagai peziarah dalam tradisi lama. Sementara itu, sang anak adalah pemuda Prancis biasa, yang karena sudah terintegrasi dengan sistem pendidikan dan kehidupan sosial Prancis, cenderung sekuler dan tidak punya ketertarikan dengan kehidupan spiritual ayahnya.

Perjalanan berkendara yang panjang dan melelahkan antara Eropa, Balkan hingga Turki, tidak membuat mereka semakin dekat. Sebaliknya, justru menjadikan konflik di antara mereka semakin memuncak. Ditambah dengan pertemuan mereka dengan orang-orang yang aneh dan ganjil, yang sebenarnya memaksa mereka untuk lebih banyak berkomunikasi. Sang ayah bersikeras mereka sedang bepergian menjalankan sebuah misi besar. Bukan turis atau pelancong biasa. Tak ayal, handphone dibuang ke dalam tong sampah, dan dalam setiap kesempatan sang ayah membaca doa dan sembahyang, sementara anaknya tak bergeming. Satu hal yang perlu dicatat, sekalipun ayahnya tampak otoriter dan konservatif, ia adalah orangtua Arab yang masih membantu sang anak membasuh tangannya. Ia tidak terlihat memaksakan anaknya untuk ikut sembahyang seperti dirinya. Film ini dengan gamblang mempertentangkan dua dunia: konservatisme agama dalam kesalehan individual dan humanisme sekular. Tapi Ismaël Ferroukhi meramunya dengan cukup elegan, dan seolah ingin menyadarkan kita bahwa sekalipun dalam konteks yang ekstrem seperti perjalanan ribuan kilometer, kedua pandangan dunia ini masih bisa bertemu. Meskipun dengan dialog yang terpatah-patah dan kaku. Beberapa adegan di akhir di film ini secara halus menjelaskan semuanya.

Ziarah dan Rihlah ke Mekah 

Baru-baru ini dikabarkan ada seorang jemaah haji asal Pakistan dan seorang jemaah lain dari Bosnia berjalan kaki ribuan kilometer ke Mekah untuk meraih impiannya melaksanakan ibadah haji. Pada akhir tahun 1970-an budayawan dan penulis terkenal Ziauddin Sardar naik haji dengan berjalan kaki melewati udara panas dan jalan berdebu dari Jeddah ke Mekah, 68 kilometer. Sejak diperkenalkannya kapal uap pada akhir abad ke-19 M, satu kali perjalanan dari Batavia ke Mekah bisa diperpendek dari 3-4 bulan menjadi 3-4 minggu saja. Akibatnya jumlah jemaah haji membludak.

Dalam tradisi Islam, sejak lama naik haji sebenarnya bukan hanya semata-mata ibadah biasa. Abu Zakaria Mohiuddin Yahya Ibn Sharaf al-Nawawi, atau yang lebih dikenal sebagai Imam Nawawi (1234–1277 M) menulis sebuah kitab manasik haji, dan membahas syarat dan rukun haji serta tentang keutamaan masuk kota Mekah. Ia mengatakan bahwa menurut qaul ashah, pendapat yang lebih kuat, cara yang paling utama bagi seorang jemaah haji yang dianggap mampu (memenuhi syarat istatha’ah) untuk memasuki Mekah adalah dengan berjalan kaki. Dan, menurut pendapat yang lebih utama dari itu, kata al-Nawawi, pergi haji dengan berjalan kaki dan tanpa alas kaki. Hal tersebut boleh dilakukan dengan dua syarat: sang jemaah haji tidak khawatir terkena najis dan penyakit.

Di Indonesia, ratusan bahkan mungkin ribuan orang nekat pergi haji tanpa bekal yang cukup tiap tahunnya. Ada yang yang menjadi haji gelap, haji paspor hijau, haji non-kuota—tentu saja mereka harus berjuang untuk bisa naik haji dengan atau tanpa izin pihak berwenang. Beberapa tahun silam ada fenomena yang disebut haji sandal jepit, untuk menyebut mereka yang naik haji dengan masuk Mekah pada musim haji secara ilegal: datang dengan paspor umroh, dan ketika visa-nya habis, mereka tetap berdiam diri di Mekah dan sekitarnya, dan ketika musim haji mulai mereka keluar jalan kaki. Dengan sandal jepit-nya. Legal atau ilegal adalah perkara dunia, sementara kesucian jiwa, kesembuhan dan keselamatan—atau beberapa alasan spiritual lain-nya—adalah perkara dunia dan akhirat.

Dari beberapa fenomena di atas, dapat disimpulkan bahwa Mekah bukan saja kota suci, ia adalah kota impian. Seorang santri muda seperti Ibnu Battutah bermimpi menjadi seorang haji, menuntut ilmu di Mekah dan mengembara ke dunia lain. Menurut Abderrahmane el Mouddine rihlah merupakan perjalanan yang panjang, sebuah pencarian, terhadap kesadaran kolektif sesama orang Islam. Faktor-faktor inilah yang mendorong lahirnya tradisi ziarah dan rihlah di dalam Islam, khususnya di Maroko pada abad pertengahan. Ibnu Battutah adalah salah satu ikon utamanya.

Sang ayah tentu bukan seorang Ibnu Battutah yang konon berhasil menjelajahi lebih dari 70,000 mil dan lebih dari 40 wilayah di dunia. Tapi, seperti juga Ibnu Battutah, ia personifikasi dari pencarian kesalehan yang berjalan—kesalehan yang diam, namun bergerak. Kesalehan dalam tradisi ziarah dan rihlah seperti itu yang memang mengakar kuat dalam konteks Islam di Maroko khususnya dan dunia Islam pada umumnya. Di situlah, narasi sang ayah ketika ia menjawab pertanyaan mengapa ia memaksakan diri pergi haji dengan naik mobil terdengar sangat mengena:

“Air laut menguap ketika mereka naik ke awan. Dan ketika mereka menguap mereka menjadi segar. Itulah mengapa lebih baik bagimu untuk pergi haji dengan berjalan kaki daripada naik kuda, lebih baik naik kuda dibandingkan dengan naik mobil, lebih baik dengan mobil dibandingkan dengan perahu, dan lebih baik dengan perahu dibandingkan dengan pesawat.”

Sekarang ini, di bawah rejim Arab Saudi, keamanan dan kenyamanan ibadah haji menjadi prioritas utama. Jika perlu para ulama dan negara harus turun tangan menjamin—dan saling mengambil manfaat darinya. Akibatnya, rasa aman dan nyaman dalam pengertian istatha’ah seperti kata al-Nawawi menjadi alat, bukan tujuan. Maka bangunan-bangunan bersejarah di Mekah dan Madinah dibuldoser untuk hotel-hotel mewah berbintang lima. Kota paling suci tidak lama lagi akan bermetamorfosis dari kota tua di tanah gersang menjadi hutan beton dengan simbol-simbol kemodernan yang hampir tanpa batas. Seolah-olah mengubah Vatican menjadi Las Vegas.

Le Grand Voyage mengingatkan kepada kita bahwa sikap prihatin, berpayah-payah, dan menempuh kesulitan dalam tradisi naik haji sudah menjadi luxury—kemewahan. Ismaël Ferroukhi ingin menemukan kembali barang langka ini. Berhaji seperti itu bukan hanya sekedar ziarah, tapi merupakan ekspresi dari sebuah pencarian yang agung—al-rihla al-akbar—tepat seperti judul film ini dalam bahasa Arab. Dengan begitu, Le Grand Voyage pantaslah disebut sebagai film perjalanan yang tidak biasa, karena ia merangkum kisah kesalehan yang berjalan dalam ruang; dan bagaimana ia membuka diri dan sekaligus membuka misteri hubungan ayah-anak  yang selama ini mungkin rapat, tapi terkunci.

Unduh makalah dalam versi pdf

No Comments

Post A Comment