Libido Kekerasan dan Laskar Tuhan

Libido Kekerasan dan Laskar Tuhan

Keintelektualan dan kereligiusan itu menyatu. Justru karena keintelektualannya, keyakinan religiusnya tidaklah dogmatis atau konservatif. –(Sindhunata: 2006)

Ujaran Gabriel Possenti Shindunata, SJ (Kambing Hitam: 2006), merupakan sindiran terhadap konsep dan amal keberagamaan dewasa ini. Kekerasan yang tak menemui titik hentinya, yang sering membawa simbol agama, menjadi legitimasi parsial bahwa agama memang penyebab malapetaka.

Pernyataan Sindhunata menimbulkan satu pertanyaan besar di benak kita. Benarkah menjamurnya kekerasan di Indonesia berakar dari ketidaksinergisan di antara dua hal tadi, yakni bagaimana kinerja intelektualitas bersanding dengan religiositas? Lantas, di ranah yang bagaimana kita harus memposisikan diri?

Kita menemukan sedikit jawaban dari Tijmens (Tijdschrift voor Filosofie, 1995) yang menyatakan “my beliefs emerged from my work and not from pre-existing beliefs”. Baginya, keyakinan religius bukan hal yang permanen, melainkan hal yang siap dan mesti berubah. Sesuai dengan konfrontasi menghadapi kerja intelektualnya. Lalu, jika di mana-mana kekerasan selalu “dirujukkan” dengan simbol keagamaan, tentu kita patut mempertanyakan ulang bagaimana bentuk kereligian dijalani. Jika menegasikan titik intelektualitas, sangat mungkin menyeretnya kepada ajaran yang dogmatis dan konservatif.

Ketidakkuasaan menyalurkan hasrat keberagamaan dengan imbangan intelektualitas yang memadai bisa membuat manusia terjebak dalam dogmatisme dan konservatisme. Kedua hal itu merupakan benih suburnya anarkisme. Pengelolaan dan pemahaman yang tidak berimbang tidak hanya memotong tujuan suci agama, tapi juga membuatnya terperosok ke dalam sikap eksklusif.

Libido adalah hasrat atau nafsu. Karena libido, hidup manusia terkoyak-koyak, dan libido pula yang mengantar manusia masuk ke dalam dosa. Begitu manusia tunduk pada libido, ia berdosa. Dosa adalah cinta yang tak selayaknya terhadap barang-barang yang fana, ciptaan, yang hanya sementara, yang menyebabkan ketidakbahagiaan. Kejahatan adalah aversio, berpalingnya manusia dari hal yang baka dan mencenderungnya diri (conversio) menuju pada hal yang berubah (Sindhunata, 2006: 286-287).

Karena libidonya, orang menjadi tidak baik. Padahal, bila memahami kediriannya menurut kodrat keilahiannya, seharusnya bukan demikian. Hal-hal dunia, seperti makanan, minuman, seks, kekuasaan, hak milik, bahkan kehendak bebas, seharusnya mengantar manusia pada sumber kebaikan yang ilahi. Lalu mengapa yang terjadi sebaliknya?

Joseph M. Hallman menjawab, setiap libido itu pada hakikatnya adalah mimetis. Menurut dia, libido menggerakkan orang untuk menghasratkan sesuatu, bukan karena sesuatu itu, melainkan karena orang lain memiliki atau melakukan sesuatu itu. Merujuk pada Agustinus bahwa mimesis adalah bagian kodrati manusia. Maka, kekerasan pun seolah ditiru, diteruskan. Bukan hanya bentuknya yang semakin variatif, motif yang dikembangkan pun kian imajinatif.

Hasrat tiru-meniru itu berjalan tiada habisnya, dan manusia tak bisa lepas dari jeratan itu. Jeratan yang membuat seseorang bisa melakukan dan meniru kejahatan yang dikerjakan “yang lain”. Pada titik ini, dilema mengenai manusia yang menghasratkan diri menjadi Tuhan terjadi, berulang.

Sebenarnya, hasrat itu tidak semata menghendaki diri “menjadi” Tuhan. Melainkan upaya memperlihatkan kepedulian terhadap norma-norma dan pemenuhan terhadap janji-janji-Nya. Tentang sebuah massa yang dinobatkan sebagai massa pencerahan. Dalam semua agama, iming-iming menjadi umat terbaik sangat diyakini keberadaannya. Nah, demi mewujudkan hasrat menjadi umat terbaik itu pula, jalan kekerasan dipilih sebagai jalan terakhir.

Sedangkan heroisme untuk menjadi yang terbaik dari sebuah tatanan zaman dikritik oleh Rene Girard, filsuf Prancis (1923). Girard sangsi bahwa zaman dulu pernah ada zaman keemasan. Seolah masa lampau memiliki tatanan atau nilai yang seakan lebih superior. Watak pemikiran yang utopis dan mitologis. Pengharapan seperti itu seperti berharap zaman keemasan datang (kembali). Padahal belum tentu hal itu pernah benar-benar ada. Atau, kalau ada, sudah habis ditelan zaman.

Mohammad Abu-Nimer mengurai (Nirkekerasan dan Bina Damai dalam Islam, 2010: 12) bahwa nirkekerasan merupakan sekumpulan sikap, pandangan, dan aksi yang ditujukan untuk mengajak orang di pihak lain agar mengubah pendapat, pandangan, dan aksi mereka. Cara yang digunakan adalah langkah-langkah damai. Abu-Nimer mencontohkan Tolstoy, Gandhi, dan Arent sebagai tokoh-tokoh yang menyerukan perdamaian lewat aksi nirkekerasan. Dalam Islam sendiri, Nabi Muhammad sering dijadikan tamsil untuk hal itu. Menurut dia, aksi kekerasan tak mesti dijadikan sarana penyelesaian.

Kesley (1993) mematut hakikat kedamaian menurut kaum muslim Sunni klasik. Di antaranya, pertama, konsepsi tentang tanggung jawab manusia, di mana diberkahi pengetahuan dan akal. Kedua, kemungkinan pilihan manusia. Manusia mungkin memilih jalan kelalaian dan kebodohan (jahiliyah) serta kepatuhan (<I>islam<I>).

Dalam takaran yang seperti ini, apa yang dinyatakan Sindhunata memperoleh dukungan. Bahwa cukup sulit mensinergikan antara religiusisme dan intelektualisme. Bahkan berkemungkinan besar “religiositas” dijadikan tempelan untuk mengesahkan berbagai tindakan menyimpang. Dan, parahnya lagi jika itu tak dibarengi dengan intelektualitas yang memadai terhadap apa yang diyakini dan dikerjakan. Sedangkan korban kekerasan bisa saja bertambah dari waktu ke waktu.

Apakah yang (terus) direproduksi “Laskar Tuhan” berjubah putih dengan melakukan serangkaian serangan membabi-buta pun mesti kita curigai sebagai bentuk peniruan kekerasan yang tak berkebudayaan? Begitukah? Na’udzubillah!

*) Ahmad Khotim Muzakka, Bergiat pada Idea Studies IAIN Walisongo, Semarang

 

Sumber: http://www.tempo.co/read/kolom/2012/05/18/585/Libido-Kekerasan-dan-Laskar-Tuhan-

No Comments

Post A Comment