12 Des Menangkal Kebrutalan ISIS di Indonesia
Fenomena ISIS (Islamic State of Iraq and Syam) belakang ini menjadi perhatian publik internasional karena aksi-aksi brutal yang mereka lakukan. Aksi-aksi yang mereka lakukan diluar batas nalar-nurani manusia. Mulai dari pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, dan aksi bom bunuh diri.
Korban dari gerakan ISIS tersebar luas, mulai dari warga lokal Iraq dan Suriah sampai warga negara asing. Hal ini dapat dilihat, ISIS menyemlih James Foley dan Peter Kassig seorang jurnalis dan pekerja sosial asal Amerika, Membunuh orang-orang Iraq, menculik dan menjadikan wanita Yazidi sebagai budak Seks militan ISIS, dan memenggal tujuh puluh tentara senior Suriah pada 27 Oktober 2014 lalu.
Yang mengherankan adalah korban yang menjadi sasaran mereka bukan hanya orang luar Islam, tetapi juga orang Islam sendiri. Menurut laporan Human Right Watch bulan Juni, militan ISIS melakukan pembunuhan massal ratusan orang sekaligus di Mosul, Iraq. Dari korban tersebut banyak terdapat orang Islam.
Pertanyaan penting dari fenomena ISIS adalah mengapa ISIS begitu brutal dan banyak korban dari aksi mereka tersebar luas mulai dari warga lokal dan asing maupun muslim dan non-muslim?
Analisa Piazza
Seorang analis, James A. Piazza, ahli dalam bidang terorisme dari University of Carolina at Charlotte, yang menerbitkan sebuah artikel, “Is Islamist Terrorism More Dangerous?: An Empirical Study of Group Ideology, Organization, and Goal Structure”, dalam jurnal Terrorism and Political Violence, Routledge, 2009.
Piazza membedakan dua tipe teroris antara “universal/abstract” dan “strategic”. Perbedaan tersebut berdasarkan afiliasi organisasi dengan jaringan al-Qaeda dan samarnya tujuan/cita-cita mereka, terutama yang disandarkan pada ideologi yang memandu mereka.
Universal/Abstract: Tujuan teroris tipe ini dalam melancarkan serangan lebih sering bertujuan untuk mengkomunikasikan “pesan” mereka. Bagi kelompok tipe ini, tingginya korban akibat serangan mereka akan menarik perhatian media, baik lokal maupun global.
Tipe universal/abstract juga tidak jelas dalam mendefinisikan musuh mereka. Mereka menganggap semua yang tidak sejalan dengan ideologi mereka adalah musuh. Mulai dari “orang-orang Barat”, warga sipil, aparat pemerintah, bahkan dari kalangan Islam sendiri. Dari ketidakjelasan definisi mereka mengenai lawan, menghasilkan perilaku brutalitas dan korban yang banyak.
Strategic: Tipe Strategic group mempunyai banyak keterbatasan dan ciri yang jelas jika dilihat dari tujuan atau cita-cita mereka. Keterbatasan dan ciri dari tujuan mereka cenderung bersifat lokal, seperti: bertujuan untuk pembebasan wilayah tertentu (kasus Hamas di Palestina), memperjuangkan kemerdekaan oleh kelompok etnik tertentu, atau menggulingkan pemerintahan.
Tipe strategic group mendefinisikan lawan mereka secara jelas dan secara sempit. Sehingga aksi dan korban dari serangan kelompok strategic group tidak lebih banyak dari tipe universal/abstract.
Melihat dari dua tipe tersebut, jelas bahwa ISIS termasuk dalam tipe universal/abstract. Hal ini dapat dilihat dari kedekatan ISIS secara ideologi dan organisasi dari al-Qaeda. Kasus-kasus yang saya kemukakan di awal menjadi bukti sahih bahwa mereka termasuk dalam tipe ini. Dan tentunya sangat berbahaya.
Respon Pemerintah
Melihat kebrutalan ISIS, pemerintah perlu melakukan langkah konkret terhadap masalah ini. Setidaknya langkah konkret berupa program penyadaran masyarakat tentang bahaya ideologi dan organisasi ISIS.
Untuk menangkal ideologi kekerasan ISIS harus dilakukan program yang sistematis dan harus sampai terinternalisasi dalam masyarakat. Dengan masyarakat yang sadar akan bahaya ideologi kekerasan, inilah sebenarnya puncak dari keberhasilan program anti-terorisme.
Ada dua hal penting untuk dilakukan pemerintah dalam melibatkan warga negara terkait program menangkal ideologi kekerasan. Pertama, penguatan kembali sosialisasi empat pilar kebangsaan sampai ke tingkat terendah (RT/RW). Kedua, pendidikan anti terorisme dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Karena, usia remaja merupakan fase yang rentan dalam rekrutmen kelompok teroris atau radikal lainnya.
Namun langkah yang dilakukan pemerintah dalam merespons masalah ISIS jangan sampai melanggar prinsip demokrasi. Pemerintah harus berhati-hati dalam mengeluarkan agenda atau program dalam rangka mencegah ideologi atau organisasi kekerasan di Indonesia. Dalam sistem demokrasi, semua ideologi diberi ruang bebas sebagai ekspresi dari kebebasan berserikat dan mengekspresikan diri, apapun itu.
Rangga E Saputra adalah peneliti magang di Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina.
Sumber: Warta Kota, 6 Desember 2014.