Riset Sosial di Masa Pembatasan Sosial

Riset Sosial di Masa Pembatasan Sosial

Penyebaran virus COVID-19 menjadi tantangan bagi semua lapisan masyarakat, tidak terkecuali kalangan mahasiswa dan peneliti ilmu sosial. Hampir semua kampus kini sudah menghentikan aktivitasnya dan memberlakukan pembelajaran jarak jauh. Demikian juga, banyak pusat penelitian sosial yang menunda aktivitas risetnya dan bekerja dari rumah.

Saat para pekerja medis dan para saintis bekerja tanpa henti menghadapi wabah ini, para ilmuwan sosial seolah “sepi pekerjaan”. Padahal, sebagaimana pelajaran dari wabah-wabah sebelumnya, riset dan wawasan dari ilmu sosial tetap diperlukan dan bahkan lebih mendesak lagi di masa seperti sekarang.

Menanggapi hal tersebut, PUSAD Paramadina menyelenggarakan diskusi yang membincang bagaimana riset sosial bisa terdampak dan sekaligus bisa berdampak di masa pandemi COVID-19 ini. Diskusi yang merupakan kegiatan rutin bulanan yang bertajuk Reading in Social Sciences (RISOS) ini diselenggarakan secara online melalui aplikasi telekonferensi Zoom pada Kamis, 14 Mei 2020 pukul 15.00 – 17.00 WIB. Diskusi diikuti oleh sekitar 120 peserta dan disiarkan secara langsung di kanal YouTube dan Instagram PUSAD Paramadina.

Narasumber diskusi kali ini adalah Sri Lestari Wahyuningroem (atau biasa disapa Ayu), Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta; Irma Hidayana, peneliti kesehatan publik lulusan Columbia University, AS dan co-founder LaporCovid19; serta Husni Mubarok, peneliti PUSAD Paramadina. Diskusi dipandu oleh Irsyad Rafsadie dari PUSAD Paramadina.

Para narasumber membincang berbagai pertanyaan seperti seberapa penting riset sosial di masa pandemi? Riset dan wawasan ilmu sosial apa yang paling diperlukan saat ini? Bagaimana riset sosial bisa dilakukan di tengah pembatasan sosial? Dan pelajaran apa yang bisa diambil dari riset-riset sosial yang ada sejauh ini, misalnya bagi peneliti atau mahasiswa yang sedang menyusun skripsi atau studi lainnya?

Semua narasumber sepakat bahwa riset sosial tetap penting dan harus dilakukan di tengah berbagai keterbatasan di masa pandemi. Mereka menguraikan berbagai persoalan yang memerlukan wawasan ilmu sosial, mulai dari kebijakan publik, perilaku masyarakat, hingga perilaku individu.

Tapi peneliti tidak bisa memaksakan diri menggunakan metode biasa dan penyesuaian pun tidak terhindarkan, tegas Ayu. Dengan sendirinya, penyesuaian harus disertai dengan pengakuan akan keterbatasan, bukan mengakali dengan berbuat curang atau melanggar etika penelitian. Ayu menceritakan bahwa kampusnya pun sudah menyarankan para mahasiswa untuk menyesuaikan metode penelitiannya.

Tetapi Ayu juga berusaha menunjukkan gambar besarnya dan mengingatkan bahwa sebelum pandemi pun, dunia penelitian di Indonesia sudah dirundung banyak masalah struktural maupun kultural. Di antara yang paling akut adalah minimnya dukungan pemerintah serta buruknya mentalitas peneliti yang hanya mengejar kredit atau mencari proyek, alih-alih menjawab masalah yang dihadapi masyarakat.

Irma turut mempertegas pentingnya wawasan ilmu sosial dari perspektif kesehatan publik. Banyak peneliti sudah bekerjasama mengumpulkan agenda riset sosial, dan berbagi metode pengumpulan data di masa pandemi. Selain melakukan penyesuaian terhadap riset yang sedang berjalan, Irma juga melakukan riset baru. Sebagian dilatari oleh kegelisahannya melihat kesimpangsiuran data pemerintah, Irma dan beberapa kawannya merintis platform online bernama Laporcovid19.org. Platform ini menerima laporan masyarakat melalui aplikasi obrolan populer, mengolah datanya, dan menampilkannya kepada publik. Platform ini kini menjadi salah satu sumber informasi alternatif yang penting dan banyak dirujuk.

Menurut Irma, riset-riset kecil dan cepat semacam ini sangat diperlukan saat ini. Beberapa peserta diskusi mempertanyakan keabsahan riset-riset cepat dalam menjawab masalah dan menginformasikan pengambilan kebijakan. Tetapi bagi Irma, hal itu tergantung pada pertanyaan riset yang diajukan. Riset cepat tentu sulit menjawab persoalan sosial yang makro. Tapi dengan segala keterbatasannya, riset cepat bisa diandalkan dalam menjawab pertanyaan spesifik seperti jumlah pasien atau warga terdampak di suatu daerah.

Salah satu bentuk penelitian lain yang bisa dilakukan di masa pandemi, menurut Irma, adalah kajian mengenai sejarah wabah. Wabah semacam ini pernah terjadi sebelumnya, dan kajian sejarah mestinya bisa menunjukkan apa yang bisa dipelajari dari pengalaman sebelumnya, kata Irma.

Beberapa peserta diskusi mengeluh soal metode etnografi yang sulit sekali dilakukan di masa pandemi. Beberapa mungkin masih bisa dilakukan melalui telepon dan internet. Tapi persebaran teknologi di Indonesia masih sangat timpang sehingga etnografi mengenai masyarakat terpinggirkan, misalnya, sulit dilakukan.

Tetapi Husni menilai bahwa etnografi masih mungkin dilakukan meski dengan banyak keterbatasan. Ia berbagi pengalaman dalam melakukan diskusi daring bersama kelompok penghayat dan masyarakat adat yang menurutnya cukup berhasil. Selain ketimpangan, tantangan utama riset berbasis internet menurutnya adalah distraksi akibat berjubelnya informasi yang tersedia.

Husni juga menceritakan survei nasional via telepon yang dilakukan Saiful Mujani Research & Consulting sebagai salah satu contoh riset dan komunikasi riset yang cukup berhasil. Survei ini mengambil sampel dari responden yang pernah diwawancara dalam survei-survei sebelumnya. Rilis survei ini, yang memperlihatkan sikap warga terhadap kondisi pandemi dan kebijakan pemerintah, sempat menjadi perbincangan hangat selama beberapa waktu.

Dalam penutupnya, Husni mengingatkan kembali mengenai pentingnya membuat jurnal dan catatan serta meluruskan niatan etis peneliti dalam melakukan riset sosial. Hal ini diperkuat oleh Ayu dan Irma yang menegaskan bahwa situasi ini mestinya mendorong semua pihak untuk menggugat struktur bermasalah dan kebiasaan buruk yang selama ini dianggap normal. Mereka menantang para peserta untuk menjadikan situasi luar biasa ini sebagai kesempatan untuk merancang dan menghasilkan penelitian yang juga luar biasa.

Untuk itu, para peneliti muda dan mahasiswa didorong untuk memiliki komunitas pendukung yang memungkinkan mereka untuk saling belajar dan berbagi dalam melakukan riset sosial. Forum Reading in Social Sciences ini diharapkan dapat menyediakan wadah semacam itu. ***

 

 

No Comments

Post A Comment

%d blogger menyukai ini: