12 Des Kita Butuh Konsensus Kebangsaan Baru
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang masih berproses untuk menjadi (in the making). Dalam proses itu, bangsa ini perlu “mendefinisikan dan menetapkan kendaraan yang memungkinkan roh keadilan hadir dalam tiap langkah kebijakan.”
Demikian pidato Faisal Basri dengan tema “Menemukan Konsensus Kebangsaan Baru: Negara, Pasar, Cita-cita Keadilan” dalam Nurcholish Madjid Memorial Lecture (NMML) di Universitas Paramadina, Selasa (11/12/2012).
Dalam pidatonya, dosen yang memperoleh Master of Arts (M.A.) dari Vanderbilt University, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, ini menelurusi persoalan ekonomi yang tengah dihadapi hampir semua negara, tak terkecuali Indonesia. Faisal memperlihatkan bahwa dalam empat tahun terakhir, kinerja perekonomian Indonesia sangat mengagumkan.
Menurut mantan ketua Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM, Indonesia adalah satu-satunya negara yang selama 2009-2012 menunjukkan kecenderungan (trend) pertumbuhan ekonomi yang tidak menurun di tengah terpaan krisis ekonomi global yang belum berkesudahan sejak 2008.
Hal itu menurut Faisal ditunjang oleh sejumlah perkembangan positif pasca Indonesia bangkit dari krisis ekonomi 1998. Perubahan-perubahan mendasar dalam perkembangan politik, sosial, dan demografi turut mengiringi perubahan sosok perekonomian.
Namun, Faisal juga menunjukkan sejumlah keprihatinan mendalam dan kemunduran. Kemunduran itu terlihat dari terkikisnya kedaulatan pangan, energi, dan finansial, pelemahan sektor industri manufaktur, dan defisit perdagangan sektor ini sejak 2008. Yang lebih mengkhawatirkan menurut Faisal adalah ketimpangan, baik ketimpangan pendapatan, ketimpangan antarsektor, maupun ketimpangan antardaerah.
Faisal memandang bahwa reformasi ekonomi masih meninggalkan sosok institusi ekonomi ekstraktif (extractive economic institutions). Demikian pula, demoktratisasi selama ini belum beranjak dari sosok instutusi politik ekstraktif (extractive political institutions). Institusi ekonomi dan politik yang ekstraktif itu harus diubah menjadi institusi ekonomi dan politik yang inklusif.
Inklusi institusi politik dan ekonomi, menurut Faisal, akan mendorong partisipasi luas masyarakat dalam berpolitik dan berekonomi, yang dilengkapi dengan jaring-jaring pengaman yang mumpuni. Dengan demikian, redistribusi kekayaan nasional lebih terjamindan keadilan sosial lebih mungkin terwujud.
Inilah konsensus kebangsaan baru yang ditawarkan Faisal, di mana peran komunitas bisnis, komunitas politik, dan civil society menemukan titik keseimbangannya. Dengan begitulah Indonesia bisa menjadi negara besar, berkeadilan sosial, dan sejahtera.
Kegiatan Tahunan
NMML adalah kegiatan tahunan Pusat Studi Agama & Demokrasi (PUSAD), Yayasan Paramadina. Selain untuk mengenang sosok dan pemikiran almarhum Nurcholish Madjid, pendiri Yayasan Paramadina, NMML juga dimaksudkan untuk melanjutkan sumbangan pemikirannya bagi bangsa Indonesia dewasa ini dan di masa depan.
NMML tahun ini adalah yang keenam. Sebelumnya, NMML disampaikan pernah oleh Komaruddin Hidayat (2007), Goenawan Mohamad (2008), Ahmad Syafii Maarif (2009), Karlina Supelli (2010), dan R. William Liddle (2011). Hampir semua pidato NMML di atas sudah dibukukan, sesudah diberi komentar oleh para intelektual, politisi, aktivis LSM dan lainnya.
Orasi Ilmiah ini dihadiri sejumlah tokoh nasional, politisi, aktivis, wartawan, dosen, dan mahasiswa. Hadir di antara peserta Didik J. Rachbini (Ketua Yayasan Paramadina), Tosca Santoso (Direktur KBR68H), Martin Sinaga (Anggota Federasi Gereja Lutheran Sedunia), Usman Hamid (Direktur Eksekutif Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan) dan tokoh nasional lainnya. Tak kurang dari sekitar 250 peserta hadir dalam acara ini.
Sebagaimana NMML sebelumnya, sejumlah tokoh akan diundang untuk mengomentari pidato Faisal Basri. Setelah komentar tersebut terkumpul, kami akan meminta Faisal untuk menanggapi balik. Seluruh naskah yang terkumpul kemudian akan kami terbitkan. Harapannya, buku tersebut bukan saja mendokumentasikan perdebatan, tetapi menjadi tradisi intelektual di Indonesia untuk membiasakan perdebatan menjadi wacana publik melalui buku.
Peluncuran Buku
Selain orasi ilmiah, pada NMML kali ini kami meluncurkan buku Memperbaiki Mutu Demokrasi di Indonesia: Sebuah Perdebatan karya R. William Liddle. Disunting oleh Ihsan Ali-Fauzi dan Samsu Rizal Panggabean, buku ini bermula dari pidato Liddle dalam acara NMML ke-V pada 2011 lalu.
Pidato tersebut ditanggapi oleh delapan orang penanggap, yaitu Faisal Basri, AA GN Ari Dwipayana, Usman Hamid & AE Priyono, Airlangga Pribadi, Goenawan Mohamad, Sri Budi Eko Wardani dan Burhanuddin Muhtadi. Liddle kemudian memberikan tanggapan balik di bagian akhir buku ini.
Sejumlah penanggap hadir dalam peluncuran buku ini. Mereka antara lain Usman Hamid dan Burhanuddin Muhtadi. Sementara itu Liddle tidak menghadiri peluncuran buku ini karena tengah berada di Amerika Serikat. Namun, Liddle sempat berpesan bahwa ia sangat senang dengan tanggapan-tanggapan yang ditujukan kepadanya juga dengan penerbitannya. Buku ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Paramadina dengan The Asia Foundation.