Agama di Era Corona

Agama di Era Corona

Para pemuka dan pemeluk agama didorong untuk menyesuaikan diri dalam menghadapi tantangan virus Corona. Hal ini terjadi di semua agama di seluruh dunia. Kerajaan Arab Saudi melarang umrah dan ibadah haji. Paus menyerukan untuk melakukan ibadah di rumah masing-masing. Bagaimana agamawan beradaptasi dengan tantangan Corona? Apakah Corona menghadapkan agama vs sains? Sikap beragama seperti apa yang dibutuhkan sekarang? Ini menjadi topik perbincangan dalam diskusi “Agama di era Corona” bersama Haidar Bagir, penggagas Gerakan Islam Cinta dan pimpinan Penerbitn Mizan. Diskusi yang dipandu Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina, Ihsan Ali-Fauzi, ini dilaksanakan secara online pada Jumat, 10 April 2020.

Menurut Haidar Bagir, persoalan Covid-19 mestinya bukan persoalan konflik antara pandangan keagamaan dan sains, setidaknya dari perspektif Islam. Hal ini, misalnya, tampak dalam sejarah Islam, di mana sejak zaman Nabi, sudah jelas sekali penghargaan kepada pengobatan. Ada beberapa hadits yang memerintahkan supaya berobat di kala sakit. Bahkan sudah berabad-abad hidup suatu tradisi yang disebut sebagai thibbun nabawi, atau Ilmu Kedokteran Nabi. Karena itulah, salah seorang pemikir Islam, Fazlur Rahman, menulis tentang Health and Medicine in Islamic Tradition (1987).

Bagi Haidar, persoalan yang muncul saat ini adalah “kejahilan” atau kesempitan wawasan tentang agama. Selain itu, ada persoalan pengerasan identitas, sehingga fakta tertutupi oleh fanatisme buta. “Banyak hal yang sekarang tersamarkan, seolah-olah merupakan konflik agama dan sains. Itu sebetulnya bukan, tapi hanya persoalan kesempitan wawasan, fanatisme, dan juga ditambah pengerasan identitas dan sebagainya” ungkap Haidar.

Covid-19 sendiri mestinya membukakan mata banyak orang bahwa selama ini manusia telah salah mengelola sumber daya alam. Jika melihat perbincangan di media sosial, banyak yang memanfaatkan situasi ini sebagai perebutan panggung menjelang pemilihan Presiden. Banyak kritik yang wajar dan benar ditujukan kepada pemerintah yang lamban. Namun hal ini justru dicurigai macam-macam seolah ini hanya urusan kampanye Presiden. “Jadi, yang disesalkan masih banyak yang hanya peduli pada kepentingannya sendiri,” lanjut Haidar.

Terkait peran pemuka agama, Haidar berpendapat bahwa harusnya para pemimpin agama memanfaatkan situasi ini agar umat beragama memiliki sikap yang lebih terbuka. “Saya punya kritik terhadap MUI yang saat Pilkada masuk ke politik. Tapi dalam kasus Pandemi Covid-19 ini, saya kira MUI berhasil menganggapinya secara positif dan apa yang dilakukan berguna.” Haidar juga melihat para ustadz dan kiai yang awalnya berseteru saat momentum politik Pemilu, tetapi sekarang bersatu kembali.

Penggerak Islam Cinta ini melihat manusia bisa menciptakan teknologi canggih, tapi ternyata juga sangat rentan. Ada hal-hal tertentu di mana manusia tidak punya kemampuan untuk mengatasinya. “Kita ini rentan, tidak bisa sendiri, dan membutuhkan solidaritas. Lalu peradaban kita mengandung hal-hal yang membutuhkan koreksi, misalnya persoalan globalisasi”. Haidar menekankan perlunya kita mempelajari kebijaksanaan yang disebut oleh E.F. Schumacher di buku yang diterjemahkan menjadi “Kecil Itu Indah: Ilmu Ekonomi yang Mementingkan Rakyat Kecil (1973).”

Diskusi dilanjutkan dengan tanya jawab dengan peserta diskusi, yang berjumlah lebih dari 100 orang. Haidar berharap bahwa situasi ini menjadi momentum untuk mengambil hikmah. Perjalanan ini masih sangat panjang. Banyak hal yang bisa dipelajari dan jika bisa melewatinya, maka kita bisa mulai memperbaiki peradaban dan cara berpikir kita. Pemuka agama juga bisa mengambil situasi ini sebagai momentum bersama dan menyiapkan langkah-langkah yang lebih panjang di masyarakat. Ihsan Ali-Fauzi menutup diskusi ini dengan mengajak semua kalangan menjadikan momentum ini untuk mendorong sikap keagamaan yang lebih terbuka, dan bukannya jatuh ke lubang yang sama.

Rekaman diskusi via aplikasi Zoom ini dapat disimak di kanal YouTube PUSAD Paramadina (AN)

Link Youtube

Post A Comment

%d blogger menyukai ini: