21 Mei Aksi Marah Kailash
Nobel Perdamaian 2014 diberikan pada Kailash Satyarthi bersama Malala, atas usahanya menghapus perburuhan kanak-kanak. Kamis ini, 7 Mei 2015, Forum Muda Paramadina membahas video ceramahnya di Ted Talks yang bertajuk How To Make Peace? Get Angry. Selama ini, kemarahan dipandang sebagai hal buruk. Kemarahan adalah sesuatu yang harus ditekan dan dihilangkan, namun bagi Kailash, kemarahan menjadi prasyarat untuk menjaga perdamaian. Bagaimana mungkin? Kailash kemudian menceritakan pengalaman-pengalamannya yang diliputi kemarahan pada ketidakadilan. Ia marah pada kemiskinan yang merenggut teman-temannya dari sekolah, ia marah pada diskriminasi berdasar kasta, terakhir, dia marah pada penjualan anak-anak untuk dijadikan buruh.
Siapapun harus marah di hadapan ketidakadilan. Marah, menurut Kailash adalah sebentuk energi, dan sebagaimana energi lain, ia tak bisa diciptakan maupun dimusnahkan, tetapi melulu berubah. Kita dapat mengubah kemarahan itu menjadi ide, dan aksi. Para peserta sepakat bahwa ceramahnya memberi motivasi, namun rumit dalam aplikasi. Bagaimana memastikan setelah marah kita memperoleh ide dan melakukan aksi?
Diskusi kemudian mengarah kondisi ketidakadilan yang memancing kemarahan Kailash dan perbandingannya dengan kondisi ketidakadilan di Indonesia. Politisi India yang lantang menentang diskriminasi dan berjanji untuk mendukung ide-ide progresif ternyata tak memenuhi janjinya, sesuatu yang juga kerap ditemukan pada politisi-politisi di Indonesia. Meskipun di Indonesia tak ada sistem kasta, namun diskriminasi masih saja terjadi. Jemaat Ahmadiyah, penganut agama lokal, misalnya, kerap tak mendapat pencatatan sipil yang semestinya mereka peroleh sebagai warga negara yang setara dengan pemeluk keyakinan lainnya. Hal ini kemudian membawa kesulitan-kesulitan tertentu dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Begitu pula kisah Kailash dengan polisi yang memenjarakannya setelah dia melaporkan tentang perbudakan anak-anak, dapat kita bandingkan dengan Rudy Soik, polisi yang mengungkap trafficking dan kini malah dipidanakan. Jika hendak meneladani Kailash, bagaimana kita menghadapi ketidakadilan ini? Ide apa yang hendak kita kembangkan, aksi apa yang hendak kita sumbangkan?
Sebagai lembaga yang mengedepankan penelitian ilmiah dalam upaya memperkuat interaksi damai antara agama dan demokrasi, kita dapat mengembangkan penelitian mengenai ketidakadilan dan peluang-peluang yang dimiliki oleh masyarakat sipil dan negara untuk saling membantu mengenyahkan ketidakadilan tersebut. Hal ini, misalnya telah kita coba dalam laporan penelitian yang tertuang dalam buku Pemolisian Konflik Beragama. Pada buku itu kita membuat penelitian berpasangan yang menemukan bahwa meskipun masih jauh dari ideal, polisi acapkali melakukan tugasnya, dan mesti terus menerus didorong untuk menjadi penegak hukum yang melindungi korban.