Bahtiar Effendy: Tantangan Kita Beda dengan Tantangan Cak Nur

Bahtiar Effendy: Tantangan Kita Beda dengan Tantangan Cak Nur

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Bahtiar Effendy menegaskan bahwa tantangan saat ini berbeda dengan tantangan yang dihadapi oleh Nurcholis Madjid (Cak Nur) ketika tahun 1970-an. Hal ini ia katakan, pada saat acara peringatan 40 tahun Pembaharuan Islam di Indonesia di kampus Universitas Paramadina, Kamis, (7/1).

Acara ini untuk memperingati Cak Nur yang telah mempresentasikan paper berjudul Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat Islam tanggal 3 Januari 1970 di Taman Ismail Marzuki (TIM) yang dinilai sebagai tonggak awal pembaruan pemikiran Islam di Indonesia.

Bahtiar menjelaskan persoalan yang dihadapi Cak Nur saat itu adalah bagaimana mendobrak kejumudan berfikir umat Islam saat itu. Umat Islam, katanya, selain jumud, juga lebih mementingkan kuantitas dan formalitas daripada kualitas dan substansial. Dia mengatakan, Cak Nur juga telah berhasil meredakan ketegangan antara agama dengan demokrasi dan negara. Akan tetapi, katanya, tantangan saat ini bukan lagi mengenai kejumudan berfikir, tapi jauh lebih komplek.

Dia mengatakan ada empat tantangan umat Islam saat ini. yaitu, (1) pragmatis tokoh-tokoh Islam; (2) agama tidak memiliki fungsi sosial; (3) tidak adanya harapan masa depan yang diekpresikan dengan aksi terorisme; dan (4) artikulasi keagamaan yang menyebalkan dari para agamawan. Ini tantangan yang harus dipecahkan, ujarnya.

Sementara itu, Gurubesar Filsafat Islam UIN Jakarta, Mulyadi Kartanegara, menilai Cak Nur sebenarnya sangat menghargai tradisi keilmuan Islam klasik. Akan tetapi, katanya, sisi Cak Nur ini belum banyak yang diungkap. Ini bisa dilihat dari buku Cak Nur Tradisi Khazanah Intelektual Islam , katanya.

Akan tetapi, peneliti khazanah Islam klasik ini juga mengkritik sikap modernisme Cak Nur. Modernisme, katanya, terlalu mengagungkan tradisi keilmuan yang berasal dari barat. Sementara tradisi keilmuan Islam sendiri tidak mendapat perhatian serius. Ini bisa dilihat dari kampus yang didirikan oleh Cak Nur; Universitas Paramadina. Paramadina dan juga kampus Islam pada umumnya, katanya, hanya mengikuti ilmu sains barat. Sementara sains dan ilmuan Islam klasik tidak dipelajari, katanya.

Dia menjelaskan, saat ini barat sedang mempelajari khazanah keilmuan timur, karena kebuntuan dari ilmu-ilmu barat. Umat Islam, katanya, sudah seharusnya yang pertama mempelajari khazanahnya sendiri. Kebiasaan orang modernis mengikuti barat. Jika barat mempelajari khazanah Islam, baru ikut mempelajarinya. Seharusnya
kita yang pertama, katanya.

Pada sisi lain, ketua panitia penyelenggara, Ihsan Ali Fauzi, menegaskan peringatan 40 tahun pembaharuan pemikiran Islam ini bukan untuk mengkultuskan sosok Cak Nur. Tapi hanya mengkaji kembali pemikiran-pemikirannya. Kita akan lihat, mana pemikiran yang relevan untuk dikembangkan dan mana yang harus ditinggalkan. Jadi bukan mengkultuskan, katanya. (cr-12)

Sumber: Pelita