BELAJAR DARI DUA GURU – IHSAN ALI-FAUZI

BELAJAR DARI DUA GURU – IHSAN ALI-FAUZI

Pengantar buku Sains Religius, Agama Saintifik

Ditulis oleh: Ihsan Ali-Fauzi

 

Saya kurang bergairah mengikuti polemik terkait sains dan agama yang berkembang akhir-akhir ini, sekalipun ini sebenarnya tema penting untuk kerja-kerja saya. Dua alasannya perlu saya kemukakan agak detail di sini.

Pertama, dari beberapa sumbangan yang sempat saya baca, saya memperoleh kesan kurang tersedianya ruang di hati kita untuk bisa reach out ke pihak lain yang menjadi lawan polemik kita: menyimak baik-baik argumennya, mengunyah dan bergumul dengannya, membangun kemungkinan kebenaran kita bersama. Tanpa kesiapan mental seperti ini, jendela kesempatan untuk berdialog makin menyempit dan kemajuan bersama dalam kerja-kerja keilmuan pasti sulit dicapai.

Di samping itu, kedua, saya merasa bahwa yang berlangsung seringkali adalah pameran penguasaan akan informasi tertentu (yang belum tentu benar), bukan pertukaran buah pikiran yang darinya kita berharap akan memperoleh shared knowledge. Saya tidak tahu apakah ini mencerminkan gejala yang sering disebut “memudarnya kepakaran” atau juga “post-truth”. Jika benar ini yang terjadi, sikap saya yang mengabaikannya sudah tepat, karena saya merasa itu gak mutu. Bagi saya, sementara kita bisa beda pendapat tentang lima nama pakar tafsir al-Qur’an di Indonesia, kita akan segera bersepakat bahwa salah satunya pastilah M. Quraish Shihab. Lalu, tentang fakta dan pernyataan mengenainya, hanya orang gila yang menolak kabar bahwa Gubernur DKI Jakarta sekarang ini adalah Anies Baswedan.

Maafkan jika saya tidak bisa melangkah lebih detail dari itu, karena di sini bukan ruangnya dan saya tidak mau terlibat dalam polemik sejenis itu. Sementara ini saya cukup puas dengan dan menikmati hasil pertukaran pikiran (kadang sangat panas) dalam ilmu-ilmu sosial, bidang yang saya geluti saat ini. Dalam pertukaran itu, tidak penting apakah kerja-kerja Anda diilhami oleh wahyu atau inspirasi atau wangsit dan dari mana Anda memperolehnya. Alih-alih mengenainya, pertukaran dimulai dengan mengapa (rencana) kerja keilmuan Anda itu penting dan relevan, apa pertanyaan penelitiannya, apa cara terbaik menjawab pertanyaan itu, dan seterusnya. Asyiknya lagi, pertukaran tentang metode itu dilanjutkan dengan kerja aktual penerapannya – dan dari sanalah shared knowledge terus diakumulasi.

Karena latar belakang kegundahan di atas, saya menyambut baik ajakan Mas Haidar Bagir dan Mas Ulil Abshar Abdalla untuk membuat sedikit catatan terkait buku mereka ini. Walaupun beberapa esai dalam buku ini ditulis ketika polemik di atas berlangsung, saya merasa ada pilihan sadar kedua penulisnya untuk menghindar dari terlibat langsung di dalamnya. Saya menerima ajakan ini selain karena keduanya adalah guru-guru saya dalam satu dan lain cara (karenanya saya haram menolak ajakan itu), saya juga menemukan praktik berpolemik yang baik dari perjumpaan intelektual keduanya yang patut kita contoh.

Saya sudah mengenal Mas Haidar sejak dekade 1980-an, ketika dia mulai sekolah pascasarjana di IAIN Jakarta, tinggal di Ciputat, dan belakangan kami bersama-sama mengelola Jurnal Ulumul Qur’an di bawah kepimpinanan almarhum M. Dawam Rahardjo. Pada masa itulah kami sering jalan bersama – persisnya, saya diajaknya jalan bertemu tokoh-tokoh tertentu, misalnya almarhum Nurcholish Madjid. Sebelum mengenalnya secara pribadi, saya sudah mengetahuinya sebagai lulusan ITB, aktivis Masjid Salman, lalu pendiri dan direktur Penerbit Mizan. Untuk aktivis mahasiswa Muslim seperti saya di tahun 1980-an, atribut-atribut yang menempel pada Mas Haidar itu sangat menggetarkan. Inilah yang membuat saya dan beberapa teman, ketika kuliah tingkat dua di IAIN Jakarta pada 1985, rela menjadi “agen” penjual buku-buku Pustaka Salman dan Penerbit Mizan pada International Book Fair di Istora Senayan. Kedai kami kecil saja, yang termurah yang bisa kami sewa, tetapi pengunjungnya membludak, menandai populernya buku-buku terbitan dua penerbit asal Bandung itu. Ketika ada pengunjung yang bertanya apakah saya kuliah di ITB atau redaktur pada Penerbit Mizan, saya pura-pura tidak mendengarnya agar saya tetap disangka terkait dengan dua lembaga itu seraya tetap tidak berbohong.

Dalam perjumpaan kami, yang terus berlangsung hingga kini dengan intensitas yang naik dan turun (seperti iman?), ada banyak segi dari Mas Haidar yang darinya saya belajar. Tetapi satu yang tidak umum adalah tingkat kecintaannya kepada beragam segi pengetahuan yang sangat tinggi, mungkin bisa disebut obsesif – dan dia menjalaninya dengan ketrampilan manajemen seorang lulusan teknik industri ITB yang kebetulan keturunan Arab. Padanya saya seperti menemukan semangat “semuanya pada dasarnya harus bisa kita terbitkan sampai kita terbukti tidak bisa menerbitkannya.” Selain Penerbit Mizan yang sudah kita kenal, saya juga tahu bahwa dia mendirikan beberapa lembaga pendidikan, yang di salah satunya saya menitipkan anak saya. Buah kecintaannya akan pengetahuan itu saya alami sendiri ketika dia meminta saya menyunting Membumikan al-Qur’an, kumpulan karangan M. Quraish Shihab, yang hingga sekarang katanya masih terus dicari.

Tetapi, di luar itu, Mas Haidar adalah seorang pembaca yang rakus dan penulis produktif dengan minat yang sangat luas. (Mungkin tak banyak yang tahu bahwa dia, ketika sekolah pascarsarjana di Universitas Harvard, AS, menulis kolom mingguan soal manajemen di Prospek, majalah yang kini almarhum.) Dengannyalah saya pertama kali mendiskusikan bukan saja karya-karya para pemikir Muslim kontemporer seperti Fazlur Rahman atau Ali Shariati, tetapi juga karya-karya sarjana Barat yang kritis terhadap kebijakan Barat atas negeri-negeri Muslim seperti Edward Said dan Noam Chomsky. Meskipun awalnya saya merasa bahwa Mas Haidar sering apologetik dalam beberapa tulisannya dan dalam pilihan-pilihan bukunya untuk diterbitkan Mizan, belakangan saya memahami urgensinya. Nada apologetis itu masih terasa dalam buku ini, sesuatu yang tetap saya sadari urgensinya, yakni sebagai titik berangkat yang liberating, untuk mendongkrak kepercayaan diri kaum Muslim yang menjadi pembaca utamanya. Hubungan kami ditandai dengan kami bersama-sama menyunting buku Mencari Islam (1990), di mana kami menerbitkan sepuluh otobiografi anak-anak muda kala itu, termasuk Rizal Panggabean, Saiful Mujani, Miranda Risang Ayu, Hamid Basyaib, dan Yudi Latif. Saya yang menulis sebagian besar pengantar kami di situ, tetapi judulnya, yang kami syukuri hingga sekarang karena maknanya yang “abadi” (sic!), berasal dari Mas Haidar: “Mencari Islam, Mencari Diri Sendiri.”

Hubungan saya dengan Mas Ulil tidak seintensif itu, tetapi saya juga belajar banyak darinya. Mas Ulil saya kenal lebih belakangan, mungkin di akhir 1980-an, ketika dia tiba-tiba berkunjung ke kantor Jurnal Ulumul Qur’an yang sudah saya singgung. Karena berasal dari kubu tradisionalis NU (mudahnya begitu, mengikuti nomenklatur), kunjungannya ke kantor kami memerlukan keberanian ekstra, karena kami memang lebih dekat ke kubu modernis. Tapi ini juga menunjukkan minatnya yang besar kepada “mencari Islam”: dari kantor saya, kami langsung naik oplet ke rumah saya di Cawang, untuk saya pinjamkan kepadanya beberapa buku Fazlur Rahman (tentu saja fotokopian, sehingga boleh tidak dikembalikan). Sesudah itu, saya kira pembentukan ICMI yang menghebohkan waktu itu membuat kami jarang bertemu, karena dua patron kami, Mas Dawam dan Gus Dur, juga berbeda haluan. Kami bertemu kembali, seingat saya, sesudah Reformasi 1998 di Utan Kayu, yang antara lain berujung pada pembentukan Jaringan Islam Liberal. Saya sudah sekolah di AS sewaktu JIL resmi dibentuk, tetapi nama saya termasuk dalam susunan para pendiri, karena KTP saya diperlukan untuk itu dan saya harus mengirimkannya dari AS.

Sesudah itu tidak ada yang istimewa dalam hubungan kami: pada awal 2000-an, saya melanjutkan sekolah, sementara Mas Ulil tumbuh menjadi salah satu penggerak liberalisasi pemikiran Islam pasca-Reformasi, terutama dengan bendera JIL, seperti terekam dalam kumpulan esainya Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam (2007). Seingat saya, urgensi liberalisasi pemikiran Islam inilah yang menjadi alasan JIL dulu berdiri, bukan panggilan ke arah liberalisasi ekonomi atau seruan kepada ateisme, misalnya. Sementara itu, riset-riset ilmu sosial mutakhir makin menunjukkan bahwa tesis sekularisasi sudah jelas harus dilupakan (Peter Berger, Talal Asad), bahwa debat tentang sekularisme harus beralih ke tentang agama dalam ruang publik (José Casanova), dan bahwa demokrasi tidak mensyaratkan sekularisme (Alfred Stepan, Ahmet Kuru). Apakah perkembangan-perkembangan baru ini yang membuat JIL seperti mati suri atau karena Ulil sendiri mulai sekolah di AS, saya tidak tahu dengan pasti.

Saya belajar dari Mas Ulil bukan terutama dalam segi-segi di atas, tetapi dalam pembelaannya terhadap NU dari mana dia berasal. Secara singkat, pembelaan itu bisa dirumuskan seperti: “Memang ada masalah konservatisme keagamaan dalam NU, tetapi di sana ada juga yang membebaskan dan mari kita bersama memperkuat sisi yang terakhir ini.” Hal ini penting bagi siapa pun yang peduli pada masa depan negeri ini, karena kita tahu betapa besar dan berpengaruhnya jamaah ini dalam kehidupan kebangsaan kita. Pembelaan itu tidak saja saya baca misalnya dalam satu artikelnya di Kompas ketika Gus Dur dulu mau dilengserkan, tetapi juga dalam percakapan ringan misalnya terkait temuan-temuan beberapa sarjana tentang intoleransi dan konservatisme di kalangan jamaah ini. Hal yang sama juga saya alami ketika mempresentasikan temuan-temuan riset PUSAD Paramadina mengenai pemolisian konflik agama, yang mengangkat kasus anti-Syiah di Sampang, Madura, dan anti-Ahmadiyah di Cikeusik, Banten. Pembelaan Mas Ulil (dan kawan-kawannya yang lain, sesama “intelektual NU” di Lakpesdam, misalnya) mencerminkan dilema-dilema yang harus diatasi ketika kita ingin mendorong Islam di Indonesia untuk melangkah lebih jauh. Saya tidak sepenuhnya menerima pembelaan-pembelaan itu, tetapi saya jadi lebih mengerti duduk perkaranya.

Alhasil, buku kecil ini ditulis dua guru yang perlu kita sambut gembira. Uraian panjang saya di atas dimaksudkan untuk menunjukkan hal itu: bukan saja pemikiran, tapi juga biografi mereka merupakan sumber penting dari mana kita bisa mengambil pelajaran.

Pertumbuhan keduanya sebagai manusia memperlihatkan kontras yang menarik: yang satu tumbuh besar sebagai aktivis Masjid Salman, lulusan ITB, dan keturunan Arab; yang satunya lagi berkembang dari pesantren, asli Jawa, sempat belajar di sekolah tinggi konservatif yang dikelola langsung Pemerintah Arab Saudi, tetapi juga pendiri JIL. Di luar itu mereka sama-sama  pernah sekolah di Universitas Harvard, AS, dan sama-sama pernah menuai kontroversi. Tetapi bagi saya ini kesamaan yang trivial saja. Yang jauh lebih penting adalah kesamaan ini: sementara keduanya pernah menjadi Muslim fundamentalis (mengikuti “Qutbisme”, istilah Mas Ulil), diam-diam atau terang-terangan, keduanya juga diselamatkan oleh pencarian terus akan makna keberislaman yang hakiki, yang hanya mungkin terjadi jika pikiran kita tetap terbuka kepada kemungkinan-kemungkinan baru. Mereka terus “mencari Islam, mencari diri sendiri.” Belakangan keduanya mengajak kita untuk lebih dalam mengenal sufisme, juga dalam buku ini: jika yang satu lebih sering mengutip Jalaluddin Rumi, yang lainnya al-Ghazali.

Keduanya pernah berpolemik, yang diawali artikel Mas Ulil di Kompas, 18 November 2002, dengan judul yang persis digunakan untuk kumpulan esainya di atas. Kritik Mas Haidar atas artikel itu sangat mendasar, menyangkut ketiadaan metodologi Islam liberal. Sambil menunjukkan pentingnya metodologi itu, dalam satu kesempatan dia bahkan menulis makalah berjudul “Seandainya Aku Seorang Muslim Liberal.” Yang menarik, tidak ada kata atau sebutan kasar yang merendahkan derajat lawan polemik disampaikan di sini. Karena sebagian besar pertukaran pikiran berlangsung di sebuah milis yang tidak lengkap saya ikuti, saya lupa apakah Mas Ulil pernah menjawab kritik-kritik itu secara terbuka. Tetapi jangan-jangan tindakan tidak menjawab adalah pilihan berpolemik yang bijaksana, ketika kita merasa bahwa pertukaran pikiran harus berhenti dan pilihan harus diambil. Setahu saya, hubungan keduanya pun baik-baik saja sampai sekarang.

Bagi saya sebagai pembaca, makna terpenting esai-esai pendek dalam buku ini adalah ajakan keduanya kepada rekan-rekan seiman mereka, sesama Muslim, untuk terlibat dalam kerja-kerja pengetahuan dengan penuh keyakinan dan percaya diri. Keterlibatan itu bukan saja tidak apa-apa, tidak menyalahi titah agama, tetapi bahkan menjadi bagian penting dari menjadi Muslim yang baik. Semangat ini tercermin kuat sekali dari judulnya, “Sains Religius, Agama Saintifik.” Diskusi khususnya Mas Ulil tentang ateisme saya kira juga dimaksudkan untuk itu, bukan untuk berpolemik langsung dengan para pengusungnya.

Akhirnya, sebagai murid yang baik, saya juga mau mengajukan permintaan baru, sambil mendoakan semoga keduanya terus panjang umur dan tambah produktif. Akan berguna sekali jika nanti Mas Haidar dan Mas Ulil bisa lebih rajin mendetailkan lagi apa-apa yang sudah mereka mulai di sini, misalnya tentang pengalaman keagamaan menurut al-Gahazali atau Rumi atau siapa saja dari khazanah intelektual kita, mengingat keduanya gandrung sekali kepada William James. Dengan begitu kita bisa membaca pengalaman keagamaan emaknya Mas Ulil, misalnya, secara lebih padat dan kaya dari sekadar kutipan sajak Sapardi Djoko Damono.

No Comments

Post A Comment

%d blogger menyukai ini: