Beragama di Masa Corona: Mengembangkan Teologi Ikhtiar

Beragama di Masa Corona: Mengembangkan Teologi Ikhtiar

Di Tengah Pandemi Covid-19 ini peran agamawan sangat penting terutama dalam menyikapi dua tipe masyarakat. Pertama tipe masyarakat yang beribadah secara individu dan kedua masyarakat yang beribadah secara bersama-sama atau berjama’ah.

Kendati Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa untuk beribadah dari rumah, masih ada sebagian masyarakat yang menunaikannya di tempat ibadah. Tindakan tersebut berisiko menularkan virus Covid-19 kepada orang lain, bahkan tanpa adanya gejala.

Dalam ranah teologi ada pertanyaan mendasar yang akan dijawab dalam diskusi kali ini, di antaranya:  apa makna situasi seperti ini? Kenapa Tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang menciptakan wabah ini dan semua masalah yang menyertainya?

Mungkin bagi sebagian orang pertanyaan itu  sudah selesai dijawab, namun bagi sebagian lainnya, perlu pemahaman lebih lanjut untuk menjawabnya, sehingga diskusi ini menjadi sangat penting. Topik perbincangan dalam diskusi kali ini adalah “Beragama di Masa Corona: Mengembangkan Teologi Ikhtiar” bersama Haidar Bagir, penggagas Gerakan Islam Cinta dan pemimpin Penerbit Mizan. Diskusi dipandu oleh Husni Mubarok, Peneliti Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina, dan dilaksanakan secara daring pada Jumat, 24 April 2020.

Haidar Bagir memulai diskusi dengan menjawab pertanyaan, kenapa Tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang menciptakan semua masalah ini? Menurut Haidar, Tuhan menciptakan masalah agar manusia melakukan ikhtiar atau usaha dalam setiap kehidupannya. Dengan ikhtiar tersebut manusia diharapkan mampu melampaui masalahnya. Lalu siapapun di antara manusia yang mampu melampaui masalahnya, dia adalah manusia yang amalnya paling sempurna atau ihsan.

Ihsan adalah tingkatan tertinggi dari perbuatan manusia setelah Islam dan iman. Dalam ihsan ada kelembutan hati dan cinta kasih, “Orang yang mau menundukkan egoismenya demi membahagiakan orang lain, itu yang dinamakan ihsan. Bukan hanya beramal baik, tapi dia beramal sesempurna-sempurnanya,” jelas Haidar. Jika Tuhan tidak memberikan masalah atau ujian, maka hal tersebut adalah sesuatu yang absurd. Manusia adalah makhluk yang diciptakan Tuhan agar mampu berikhtiar, lain halnya dengan tumbuh-tumbuhan, hewan, dan bebatuan.

Dari penjelasan soal ikhtiar, Haidar melanjutkannya dengan penjelasan tentang teologi. Setidaknya dia menjelaskan empat mazhab teologi yang ada dalam Islam, yaitu Jabariyah (predeterminisme), Asy’ariyah, Syiah, dan Qadariyah. Jabariyah adalah mazhab teologi yang meyakini semua yang ada di alam semesta sudah ditakdirkan Tuhan, manusia tidak punya andil di dalamnya. Sedangkan Qadariyah meyakini bahwa setelah  diciptakan Tuhan alam semesta, bekerja sendiri dengan hukum kausalitas. Haidar memberikan contoh jam tangan yang dibuat oleh manusia dengan komponen mesin yang saling berkaitan. Setelah jam itu selesai dibuat, ia akan bekerja dengan sendirinya.

Di antara dua kutub mazhab tersebut, ada yang letaknya di tengah-tengah yaitu Asy’ariyah, dan Syiah, Haidar juga memasukkan tasawuf ke dalam kategori ini. Dalam teologi Asy’ariyah manusia mempunyai peran dari setiap tindakannya, namun tidak lepas juga dari peran Tuhan atau yang dinamakan dengan al kasb al ilahi. Lebih lanjut Haidar menjelaskan bahwa  al kasb al ilahi adalah peran Tuhan dalam memberikan kekuatan atau kekuasaan sebagaimana mestinya. Penggerak Islam Cinta ini memberikan contoh saat Nabi Ibrahim dibakar, semestinya api yang membakar Nabi Ibrahim mampu menghanguskan sekujur tubuhnya, namun dalam konteks ini api tidak punya kekuatan atas hal itu. Di sanalah Tuhan berperan tidak memberikan kuasa kepada api untuk membakar Nabi Ibrahim.

Di sini Haidar menyikapi pandemi Covid-19 dengan teologi Asy’ariyah seperti yang sudah dijelaskan. Baginya usaha atau ikhtiar dalam menghadapi virus ini sangat diperlukan, misalnya saja saat MUI menganjurkan untuk beribadah dari rumah atau tidak berjama’ah di masjid. Fatwa MUI itu adalah bentuk ikhtiar untuk menekan penyebaran virus di masyarakat. Manusia tidak serta-merta berpasrah dengan dalih “semuanya sudah ditakdirkan oleh Tuhan”. Menurutnya mereka yang berpikiran seperti itu termasuk orang-orang yang jahil (bodoh) atau mengalami pengerasan identitas keagamaan, alih-alih anti kepada sains. Setelah usaha atau ikhtiar dilakukan, selanjutnya manusia harus bertawakal (berserah sepenuhnya kepada Tuhan) di sinilah al kasb al ilahi.

Kemudian Haidar memberi penjelasan lebih lanjut tentang, kenapa masalah itu ada. Menurutnya, masalah itu bisa menjadi bala (ujian) dan azab. Bala adalah cara Tuhan meningkatkan kualitas keimanan hambanya tanpa ada sangkut-pautnya dengan dosa. Tuhan memberikan bala kepada semua hambanya. Sementara azab adalah cara Tuhan menguji atau menghukum hambanya yang berdosa.  Pandemi Covid-19 ini, menurut Haidar adalah bala (ujian) bagai semua umat manusia baik yang berdosa ataupun tidak. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas keimanan hamba-hambanya. Meski demikian, bala maupun azab adalah bentuk rahmat dari Tuhan kepada hamba-hambanya.

Diskusi dilanjutkan dengan tanya jawab yang melibatkan peserta diskusi berjumlah lebih dari 100 orang. Dengan penjelasan teologi Asy’ariyah dalam konteks Covid-19, Haidar ingin memberikan penegasan bahwa bala (ujian) ini harus dilalui dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh dan bertawakal. Siapapun yang berhasil melewati ujian ini kelak menjadi pribadi yang lebih baik atau Tuhan memberikan tempat yang terbaik, misalnya orang miskin yang meninggal akibat Covid-19 tapi Tuhan memberinya surga. Sedangkan orang kaya yang hidup, tapi selama pandemi tidak membantu tetangganya yang kesusahan, maka ia gagal dalam melewati ujian tersebut.

 

No Comments

Post A Comment

%d blogger menyukai ini: