Catatan Pengantar Diskusi Film “A Separation”

Catatan Pengantar Diskusi Film “A Separation”

 

Apa yang lebih berat daripada menonton tragedi pribadi?

Tapi itu yang akan kita diskusikan hari ini setelah menyaksikan “A Separation”, sebuah film besutan Asghar Farhadi yang dirilis tahun 2011. Film ini dibuka dengan adegan di pengadilan. Kedua orang menghadap kamera – pasangan suami istri Nader dan Simin – tampak mengungkapkan argument masing-masing terkait rencana perceraian mereka. Aura konflikterbangun sejak awal film dan tak ada yang benar-benar selesai hingga akhir drama.

Dengan halus, Farhadi, penerima penghargaan Golden Globe Award dan Academy Award untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik 2012 untuk film ini, mengubah jalinan konflik dan perselisihan di antara tokoh-tokoh dalam film ini menjadi tragedi yang paling nyata: tragedi yang kita hadapi sehari-hari serta melibatkan diri kita vis-a-visorang-orang terdekat,alter ego kita sendiri. Tragedi itu, seperti kutipan dari Salman Rushdie di atas, sedemikian subtil hingga kita tak lagi menyadari keberadaannya. Tragedi yang mengendap dalam bawah sadar, dan baru disadari ketika ada pemantik dari luar.

Film ini, meski sederhana dalam tekniknya, adalah salah satu film yang dengan sangat intens mengaduk emosi penontonnya. Tak ada hitam atau putih. Semuanya abu-abu. Tak ada protagonist ataupun antagonist. Protagonist adalah antagonist sekaligus. Tak ada pemenang mutlak, atau pihak yang kalah telak. Yang ada adalah gradasi kekalahan, tapi itupun tergantung pada sudut pandang, pengalaman serta bias pribadi penonton.

Artikel ini adalah bahan diskusi dalam pemutaran film A Separation yang akan dilaksanakan pada 11 April 2014, pukul 16:00 di Pisa Cafe Mahakam

[wpfilebase tag=file id=154 /]

No Comments

Post A Comment

%d blogger menyukai ini: