19 Jun Ekstremisme Kekerasan di Bima, Nusa Tenggara Barat: Lingkungan Radikal dan Upaya-upaya Binadamai
Nama Bima, Nusa Tenggara Barat, sering muncul dalam berbagai laporan tentang peristiwa ekstremisme kekerasan di Indonesia sepanjang dua dekade terakhir. Apa yang sebenarnya terjadi di sana terkait terorisme? Siapa saja tokoh-tokoh kuncinya dan bagaimana benih-benih terorisme tumbuh? Jenis ideologi dan masyarakat radikal seperti apa yang berkembang? Sejauh mana upaya-upaya binadamai berlangsung?
Laporan ini menggarisbawahi tiga kesimpulan pokok. Pertama, perkembangan terorisme di Bima adalah tantangan pengelolaan demokrasi yang sangat berat: Aksi-aksi yang terkait dengannya dan dampaknya yang besar sudah cukup terdokumentasikan; setidaknya sebagian aktor, kelompok, dan jaringan teror di dalamnya sudah teridentifikasi; dan ideologi-ideologi pendukung kekerasan ekstremisme yang mendasarinya sudah dikenal. Terorisme di wilayah itu juga memiliki akar-akar cukup dalam.
Kedua, di Bima terdapat lingkungan sangat radikal yang mengembangkan pemikiran dan praktik keislaman yang anti-sistem yang dinilai thaghut dan membolehkan cara-cara kekerasan, khususnya di Kelurahan Penatoi. Tetapi di Bima juga ada lingkungan radikal yang lebih luas, di mana cita-cita Islamisme memperoleh dukungan kuat. Hubungan di antara lingkungan radikal dan kelompok ekstremis kekerasan berlangsung dalam cara-cara yang dinamis, yang bukan saja mendukung tetapi juga mengekang dan meredam perkembangan lebih jauh kelompok yang terakhir.
Akhirnya, ketiga, meskipun ada lingkungan radikal di Bima, di wilayah itu juga kita temukan langkah-langkah penguatan infrastruktur binadamai yang berlangsung cukup baik. Langkah-langkah ini berlangsung di sektor keamanan, terutama polisi, bantuan ekonomi dalam rangka reintegrasi, dan penguatan hubungan-hubungan sosial di antara kelompok masyarakat dan negara, khususnya melalui lembaga seperti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Bima. Sayangnya, langkah-langkah ini belum memperoleh dukungan seperti yang seharusnya.
Jakarta, Mei 2019