Islam dan Demokrasi di Indonesia: Toleransi Tanpa Liberalisme

Islam dan Demokrasi di Indonesia: Toleransi Tanpa Liberalisme

ISLAM DAN DEMOKRASI DI INDONESIA:
TOLERANSI TANPA LIBERALISME

Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Yayasan Paramadina menggelar diskusi terbatas membahas buku Jeremy Menchik Islam and Democracy in Indonesia: Tolerance Without Liberalism pada Kamis (9/3) di Pisa Kafe, Jakarta Selatan. Hadir sebagai penanggap Ihsan Ali-Fauzi, Ulil Abshar Abdalla, dan Zainal Abidin Bagir. Diskusi dibagi dua sesi dengan moderator Samsu Rizal Panggabean dan Husni Mubarok.

Dalam sambutan pembukaan diskusi, Direktur PUSAD Paramadina, Ihsan Ali-Fauzi, mengungkapkan bahwa forum ini sangat baik untuk mendiskusikan toleransi dan demokrasi, tema yang juga menjadi perhatian utama PUSAD Paramadina. “Di sini ada peneliti, ada penggiat kebebasan beragama, dan ada wakil pemerintah (Kementerian Agama), dan tentunya ada Jeremy yang sudah datang dari Boston. Buat saya temuan Jeremy orisinil, metodenya meyakinkan, dan relevan. Ulil pernah bilang ke teman-teman FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama), sebelum bekerja untuk kebebasan beragama, mari kita clear dulu di dalam diri kita. Maksudnya bereskan dulu dirimu sendiri, kamu toleran atau tidak,” ungkap Ihsan Ali-Fauzi.

Samsu Rizal Panggabean, selaku moderator membuka perbincangan dengan membahas topik utama Jeremy Menchik. “Biasanya kita bicara mengenai yang keras-keras (terorisme, FPI), atau yang liberal-liberal seperti JIL. Tapi sekarang kita bicara megenai umat Islam di tengah-tengah yang lebih besar, ada NU, Muhammadiyah dan Persis. Kita berdiskusi, apa implikasi praktis dan implikasi kebijakannya buat kita di sini,” papar Rizal.

Agama bukanlah urusan privat di Indonesia, tetapi bagian dari ruang publik. Menurut Jeremy, demokrasi Indonesia paling terkonsolidasi di Asia Tenggara. Demokrasi Indonesia juga lebih baik dibanding negara lain dengan tingkat keragaman serupa, misalnya Nigeria. Gejala tersebut mengejutkan banyak pengamat. Memang tidak sempurna, tapi cukup berhasil. Banyak yang memandang Indonesia sebagai democratic overachiever.

Jeremy memuat puzzle yang menarik untuk dikaji. Bagaimana Islam (ormas Islam di Indonesia) memahami nilai-nilai demokrasi, toleransi dan lainnya? Apa yang menjelaskan sikap mereka? Apa implikasinya terhadap demokrasi? Pertanyaan tersebut ingin dijawab oleh Jeremy karena teori yang ada mengenai toleransi tidak memadai untuk menjelaskannya.

Data dikumpulkan oleh Jeremy Menchik selama dua puluh empat bulan di Indonesia. Dengan melalui empat metode: penelusuran arsip; observasi langsung terhadap sidang uji materi UU PNPS di Mahkamah Konstitusi pada 2010; survey 1000 tokoh NU, Muhammadiyah dan Persis tingkat Cabang, dan; wawancara mendalam.

Buku yang terdiri dari tujuh bab tersebut menggali bagaimana pemuka Muslim memahami toleransi, bagaimana implikasinya terhadap demokrasi, dan membandingkannya dengan demokrasi lain.

Namun Jeremy mengingatkan, bahwa buku tersebut bukan kritik terhadap liberalisme. “Saya tidak sedang menunjukkan bahwa di Indonesia tak ada liberal, atau bahwa liberalisme adalah sesuatu yang asing di Indonesia,” ungkap Jeremy.

Pembedaan yang penting dalam memahami NU dan muhammadiyah adalah adanya pemisahan antara akidah/ibadah dan muamalah dalam urusan agama dan urusan sosial. Bukan pemisahan publik dan privat, atau negara dan gereja. Letak perbedaan antara toleransi komunal dengan toleransi sekular-liberal dilihat dari empat aspek: unit analisis, sistem hukum, pemilahan kategoris, dan nilai pokok.

“Nilai inti toleransi komunal adalah iman, sementara toleransi sekular lebih menjunjung kebebasan dan otonomi. NU dan Muhammadiyah tidak liberal. Mereka tidak mendukung hak individu. Tapi bukan berarti mereka tak toleran,” ungkap Jeremy.

Dari hasil survey Jeremy, iman lebih diutamakan ketimbang toleransi. Mereka umumnya membolehkan non-Muslim menduduki jabatan pemerintahan atau mengajar di sekolah negeri, tapi sedikit sekali yang membolehkan non-Muslim mengajar di Pesantren atau membangun Gereja di lingkungannya.

Terdapat tiga kesimpulan besar dalam penelitian Jeremy Menchik. Pertama, ormas Islam membayangkan negara dan masyarakat yang punya kebebasan masing-masing, tapi tidak bebas mencampuri iman agama lain. Kedua, toleransi komunal dan godly nationalism sejalan dengan demokrasi. Kebijakan serupa bisa kita temukan di India, Yunani, Austria, Romania, Senegal, dan Bulgaria. Sekularisme perlu dipikirkan lagi, bukan pembedaan negara dan gereja. Ketiga, dan ini yang Jeremy harapkan, buku ini dapat menjadi kontribusi konseptual, menunjukkan dengan meletakkan aktor dan agensi agama di pusat analisis, kita bisa memahami gerakan dan pranata sosial secara lebih jelas dan membantu membuka peluang pengembangan teori politik.***

No Comments

Post A Comment