22 Jun Kesadaran Baru dan Ketahanan Komunitas di Tengah Covid-19
Pemuka agama memiliki modal sosial yang kuat untuk terlibat mengatasi musibah Covid-19, karena mereka memiliki legitimasi, jaringan kelembagaan, dan pengaruh di masyarakat. Peran strategis mereka terutama diharapkan dalam membangun ketahanan komunitas dan menumbuhkan kesadaran tentang kesehatan. Hal tersebut dibahas dalam diskusi bertema “Solidaritas di Tengah Covid-19” yang digelar Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina via aplikasi Zoom pada Jumat, 19 Juni 2020.
Diskusi dipandu oleh Ali Nursahid, Peneliti PUSAD Paramadina, dan dihadiri sekitar 100 orang dengan menghadirkan narasumber Citra Pratnia, Produser Narasi TV; KH. Taslim Sahlan, Ketua FKUB Jawa Tengah; Romo Aloysius Budi Purnomo, Pastor Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata; Ahmad Sajidin, Kordinator Gusdurian Semarang; dan Siswo Mulyartono, Peneliti PUSAD Paramadina.
Diskusi diawali dengan pemutaran film dokumenter berjudul “Cerita Pandemi: Keberagaman di Tengah Corona” yang digarap oleh Narasi TV bersama PUSAD Paramadina. Dalam film itu terlihat seorang pendeta bernama Samuel Tanifan yang mendoakan seorang bidan Muslim yang diduga terpapar Covid-19 di Kairatu, Seram Barat, Maluku. Selain itu ada juga jaringan lintas iman dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jakarta yang menyalurkan bantuan sosial kepada masyarakat yang terdampak Covid-19.
Citra Pratnia menuturkan bahwa cerita solidaritas sosial lintas agama di tengah Covid-19 tersebut mencerminkan nilai toleransi yang diusung oleh Narasi TV. Sebagai bagian dari media, Narasi TV merasa perlu menyampaikan berita-berita optimisme yang menimbulkan harapan di tengah gempuran berita buruk di masa pandemi Covid-19, jelas Citra.
Jiao Sheng Liliani Lontoh, pengurus FKUB DKI Jakarta yang menjadi salah satu tokoh dalam film dokumenter tersebut, menuturkan bahwa bantuan sosial warung kerukunan yang dikelolanya adalah hasil swadaya yang dimulai dari grup WhatsApp. Setelah dana terkumpul, Liliani berkoordinasi dengan RW setempat untuk membagikan 1000 kupon makan gratis kepada warga yang terdampak. Warga tidak merasa curiga dan justru merasa terbantu dengan kupon makan gratis tersebut. Menurut Liliana, pandemi Covid-19 ini memperkuat persaudaraan antar warga meskipun berbeda agama.
Taslim Sahlan mengapresiasi dokumenter tersebut yang menurutnya sudah merepresentasikan kerukunan umat beragama di Indonesia yang menjadi bidang garapan FKUB sejak 2006. Taslim mengungkapkan peran FKUB dalam menangani bencana alam, dan sosial, termasuk bencana Covid-19. FKUB Jawa Tengah sudah menyalurkan bantuan berupa sembako, alat pelindung diri (APD), dan sebagainya, kepada masyarakat terdampak. FKUB Jawa Tengah juga terlibat dalam Gugus Tugas Penanganan Percepatan Covid-19 meskipun tidak masuk dalam struktur formal.
Romo Aloysius Budi Purnomo, atau akrab disapa Romo Budi, yang dikenal sebagai aktivis lingkungan mengungkapkan bahwa bencana Covid-19 tidak bisa dilepaskan dari konteks lingkungan dalam arti alam semesta yang saling terhubung. Menurutnya, virus yang tersebar sekarang tidak lepas dari sikap manusia yang tamak dalam mengeksploitasi alam. Belajar dari bencana ini, kelompok lintas agama harus membangun kesadaran dan kebiasaan untuk bergotong-royong menjaga lingkungan agar tetap lestari. Romo Budi yakin bahwa masyarakat Indonesia memiliki solidaritas yang tinggi dan hal ini bisa terus dikembangkan.
Koordinator Gusdurian Semarang Ahmad Sajidin menceritakan pengalamannya dalam membangun posko saling jaga untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat di Semarang dan sekitarnya. Lembaganya juga melakukan edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan Covid-19. Dalam menyalurkan bantuan, timnya kadang harus melewati hutan belantara untuk sampai ke luar kota Semarang. Pekerjaan yang tidak mudah ini dilakukannya dengan senang hati, kendati resiko penularannya lebih besar, “Di satu sisi ada ketakutan, namun di sisi lain ada keberkahan dari oran-orang yang membutuhkan bantuan,” ungkap Ahmad Sajidin.
Peneliti PUSAD Paramadina Siswo Mulyartono menyampaikan pentingnya solidaritas masyarakat dan peran FKUB di tengah Covid-19. Meskipun Covid-19 kadang menyebabkan diskriminasi berlatarbelakang perbedaan agama, namun bencana ini juga dapat meningkatkan kerukunan seperti yang tergambar dalam film. Krisis ini juga tidak hanya menuntut kelompok keagamaan untuk menyesuaikan diri dan bekerjasama dengan kelompok agama lain, tetapi juga dengan anak-anak muda, media, akademisi, dan lembaga swadaya masyarakat. Dalam hal ini, FKUB memiliki peran strategis untuk menjadi simpul kerja sama dalam memperkuat kerukunan umat beragama dan meluruskan kesalahpahaman masyarakat dalam menyikapi Covid-19.***