Kolaborasi Pemda dan FKUB Kunci Sukses Penanganan Pandemik

Kolaborasi Pemda dan FKUB Kunci Sukses Penanganan Pandemik

Peran FKUB  semakin penting di masa Pandemik. Demikian disampaikan Siswo Mulyartono, peneliti PUSAD Paramadina, dalam diskusi bertajuk “Peran FKUB dalam Menangani Covid-19.” Diskusi ini Aliansi Sumut Bersatu (ASB) menggelar diskusi bersama FKUB Kota Medan (Jumat, 29/05). Ilyas Salim, Ketua FKUB Kota Medan, hadir dalam diskusi ini sebagai narasumber.

Siswo mengatakan bahwa Pemda atau Pemkot berkewajiban melibatkan FKUB dalam menangani dampak sosial yang diakibatkan oleh pandemi ini, misalnya FKUB harus menjembatani regulasi pemerintah dengan masyarakat terkait revitalisasi rumah ibadah.

Pembukaan rumah ibadah pasca penutupan sementara, lanjut Siswo menjadi hal yang sangat sensitif, bisa saja masyarakat menilai pemerintah hanya berpihak kepada agama tertentu. Padahal pembukaan rumah ibadah harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan zona aman yang sudah ditentukan. Di sinilah FKUB berperan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat melalui para tokoh agama.

Siswo juga menyarankan agar FKUB bekerja sama dengan anak muda dan LSM yang ada di sekitarnya. Kolaborasi itu dibutuhkan untuk mengoptimalkan peran FKUB sendiri, pasalnya komposisi struktur kepengurusan yang mayoritas dihuni oleh orang tua akan menyulitkan mobilitas FKUB, terlebih dalam penggunaan teknologi informasi. Penggunaan teknologi untuk mengampanyekan pencegahan Covid-19 sudah dilakukan oleh beberapa FKUB, di antaranya oleh FKUB Kota Banjarmasin dan FKUB Kota Tangerang.

Ilyas, narasumber lain, mengatakan sebelum Surat Edaran Kemendagri dikeluarkan, FKUB Kota Medan sudah mengambil tindakan dengan memberikan pemahaman tentang bahaya Covid-19 kepada masyarakat. Menurutnya edukasi dari tokoh-tokoh agama sangat penting, karena sebagian besar masyarakat Kota Medan masih belum memahami secara utuh bahaya dari Covid-19.

Banyaknya masyarakat yang masih melanggar aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) disebabkan karena ketidaksabaran masyarakat dalam menghadapi musibah seperti sekarang ini. Di sinilah peran tokoh agama semakin berat, karena harus memberikan pemahaman terkait kesabaran dalam menghadapi sebuah musibah yang dialaminya sekarang. Namun, di luar itu semua tindakan yang dilakukan masyarakat juga disebabkan pembagian bantuan sosial dari pemerintah yang tidak merata.

Tidak meratanya bantuan sosial dari pemerintah menggerakkan majelis-majelis agama yang ada di FKUB Kota Medan untuk turut menyalurkan bantuan sosial kepada masyarakat terdampak Covid-19. Ilyas pun sudah memberikan imbauan kepada para tokoh agama untuk berbagi dengan masyarakat sekitarnya. Sementara itu, untuk para penjaga rumah ibadah, bantuan sudah diberikan oleh Kementerian Agama (Kemenag).

FKUB Kota Medan juga tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi masa new normal yang akan diterapkan pemerintah. Ilyas mengimbau agar masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan di masa new normal tersebut dan mengoptimalkan kerjasama antara pemerintah, FKUB, LSM, dan masyarakat agar semuanya berjalan lancar.

Aloysius perwakilan FKUB Banjarmasin menambahkan, tokoh-tokoh agama harus bisa mengedukasi masyarakat agar mematuhi PSBB jika ingin pandemi ini cepat selesai. Menurutnya ketidakpatuhan masyarakat akan membuat pandemi ini berkepanjangan, meski ia tidak menampik sulitnya masyarakat mematuhi PSBB dikarenakan tuntutan mencari nafkah untuk keberlangsungan hidup.

Perihal bantuan sosial yang diberikan kepada masyarakat terdampak, juga menyebabkan masalah lain, di mana masyarakat menyalahgunakannya. Aloysius mencatat masyarakat menggunakan bantuan itu untuk kebutuhan yang tidak penting saat ini seperti membeli pakaian. Ia juga menemukan kasus masyarakat menjual bantuan sembako yang didapatkannya untuk memperoleh uang. Padahal bantuan yang diberikan pemerintah berfungsi untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-sehari.

Diskusi ini berujung pada kesimpulan bahwa FKUB harus berkolaborasi dengan semua stake holder terkait seperti, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, LSM, Ormas, dan anak-anak muda untuk menangani dampak sosial dari Covid-19.***

 

No Comments

Post A Comment

%d blogger menyukai ini: