Konservatisme Ancam Pembaruan

Konservatisme Ancam Pembaruan

Jakarta, Kompas – Pembaruan terhadap pemikiran Islam adalah panggilan zaman atas setiap perubahan masyarakat yang terjadi. Hambatan terbesar untuk melakukan pembaruan itu adalah sikap konservatif atas pandangan keagamaan yang kuat. Jika hasil pembaruan pemikiran itu justru dianggap kontroversial, itu hanya efek samping.

Hal tersebut dikemukakan aktivis Jaringan Islam Liberal, Ulil Abshar-Abdalla, dalam diskusi ”Masa Depan Pembaharuan Islam di Indonesia” yang diselenggarakan di Universitas Paramadina, Jakarta, Kamis (7/1).

Menurut Ulil, pembaruan pemikiran Islam itu juga telah dilakukan para ulama dan cendekiawan Islam terdahulu.

”Walaupun pembaruan itu adalah hukum alam, ada pula hukum alam yang melawan pembaruan itu, yaitu konservatisme terhadap pandangan keagamaan,” katanya.

Lingkungan sosial

Namun, kata Ulil, pembaruan pemikiran itu sekarang dihadapkan pada lingkungan sosial masyarakat yang ingin sukses secara sosial dan religius serta sukses secara materi. Kondisi itu membuat masyarakat lebih mementingkan integrasi umat, tetapi abai dengan pembaruan dan penyegaran pemikiran.

Staf Program Senior The Asia Foundation, Lies Marcoes Natsir, mengakui, proses konservatisme itu telah merasuk ke sekolah dan perguruan tinggi umum. Upaya itu bisa dilakukan oleh guru maupun para senior di sekolah.

Kondisi itu membuat para siswa sekolah dihadapkan pada dua tantangan yang berbeda, yaitu obat-obatan dan fundamentalisme agama. Siswa tidak mendapat pilihan sebagai jalan tengah yang menjembatani di antara kedua hal itu.

Presiden Direktur Kelompok Mizan Haidar Bagir menyatakan, ijtihad atau upaya berpikir mencari hukum atas sesuatu berdasarkan Al Quran dan hadis merupakan sumber dari gerakan pembaruan Islam. (MZW)

Sumber: Kompas
Jumat, 8 Januari 2010 | 02:48 WIB