Logika Tawar Menawar dalam Kerukunan Beragama

Logika Tawar Menawar dalam Kerukunan Beragama

 

“Apa yang dimaksud dengan logika tawar-menawar? Bahwa penolakan masyarakat sekitar atas pembangunan masjid di Kelurahan Batuplat dan di tempat‐tempat lain di NTT adalah sebuah tawaran: Jika gereja khususnya di Jawa (Barat) dan di tempat lain tidak bisa dibangun, maka masjid di NTT pun jangan harap bisa dibangun.”

 

Logika tawar-menawar menginspirasi intoleransi antarumat beragama di Indonesia. Gagasan ini  penulis dapatkan dari pengalaman riset penulis di NTT bulan lalu. Penulis berkesempatan membantu sebuah riset pemolisian konflik agama (konflik sektarian dan sengketa pembangunan tempat ibadah) di beberapa kota di Indonesia, termasuk sengketa pembangunan masjid di Kelurahan Batuplat, Kota Kupang, yang mayoritas masyarakatnya adalah Kristen.

Yang perlu kita ketahui adalah pengalaman pahit dalam sengketa pembangunan tempat ibadah tidak hanya dimonopoli oleh masyarakat Kristen di  pulau Jawa, tapi juga masyarakat Muslim di NTT, masyarakat Hindu di Yogyakarta, dan lain sebagainya. Karena semua masyarakat agama mengalaminya, sengketa pembangunan tempat ibadah menjadi MASALAH BERSAMA, bukan semata masalah satu kelompok agama tertentu.

Sengketa semacam ini perlu disadari sebagai cerminan ideal yang menunjukkan bahwa konflik berbasis agama pada dasarnya adalah MASALAH BERSAMA dan, jika dibiarkan, akan merugikan semua. Oleh karenanya, setiap warga negara dewasa, yang bukan Kristen pun, seharusnya tegas melawan intoleransi dalam kasus Gereja Yasmin misalnya. Atau, setiap warga negara dewasa, yang bukan Muslim pun, seharusnya mengecam penolakan pembangunan masjid di NTT.

Apa yang di maksud dengan logika tawar menawar? Dari sepuluh responden mulai dari pemuda, tokoh agama Islam dan Kristen, hingga dosen teologi yang kami wawancarai sebagian dari mereka  mengatakan bahwa penolakan masyarakat sekitar atas pembangunan masjid di  Kelurahan Batuplat dan di tempat-tempat lain di NTT adalah sebuah tawaran: Jika gereja khususnya di  Jawa (Barat) dan di tempat lain tidak bisa dibangun, maka masjid di NTT pun jangan harap bisa dibangun.

Dengan menggunakan logika semacam itu, masyarakat Batuplat telah membayar mahal. Berdasarkan pengakuan sejumlah responden: Yang Kristen tidak lagi mengunjungi tetangga yang Muslim ketika Lebaran tiba; yang Muslim pun juga demikian saat Natal.

Modal sosial yang telah dibangun dan dirawat selama puluhan bahkan ratusan tahun dipertaruhkan dal am logika tawar menawar yang bersifat jangka pendek dan berbasis untung‐rugi—yang kesemua sifat ini hanya bisa menggerogoti  toleransi  antar‐umat beragama di Batuplat dan di Indonesia.

 

Titik Firawati

Researcher
Program on Peace Building and Violent Radicalism
Institute of International Studies, Universitas Gadjah Mada

 

Sumber: http://iis.fisipol.ugm.ac.id
February 2013 |  Volume 15 | Issue 1

[wpfilebase tag=file id=88 /]

Post A Comment

%d blogger menyukai ini: