Luka Beta Rasa, Krisis dan Solidaritas: Belajar Gerakan Bina damai dari Ambon

Luka Beta Rasa, Krisis dan Solidaritas: Belajar Gerakan Bina damai dari Ambon

Sebagai bagian dari rangkaian diskusi Film Luka Beta Rasa yang digarap Narasi TV, PUSAD Paramadina menyelenggarakan diskusi bertajuk “Luka Beta Rasa, Krisis dan Solidaritas: Belajar Gerakan Bina damai dari Ambon”. Film yang dikembangkan dari buku Keluar dari Ekstremisme ini mengangkat kisah anak-anak dari kalangan Islam dan Kristen di tengah konflik Ambon yang menjadi tentara dan ikut berperang bersama orang-orang dewasa.

Diskusi ini diselenggarakan pada Kamis, 21 Mei 2020 via aplikasi telekonferensi Zoom, dan disiarkan langsung di kanal Youtube PUSAD Paramadina. Diskusi dipandu oleh Ali Nursahid, Peneliti PUSAD Paramadina dan dihadiri lebih dari 100 orang dari berbagai kalangan.

Narasumber diskusi kali ini adalah, Pendeta Jacky Manuputty, Pegiat Perdamaian dan Sekretaris Umum PGI; Zen RS, Pemimpin Redaksi Narasi; Diah Kusumaningrum, Dosen Fispol dan MPRK UGM; Sri Lestari Wahyuningrum, Dosen Fisip UPNV Jakarta; Ronald Regang, Mantan Tentara Anak, Pegiat Perdamaian, dan Tokoh Utama Film Luka Beta Rasa; serta Ihsan Ali Fauzi, Direktur PUSAD Paramadina. Diskusi ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan musik oleh Tashoora, pencipta official soundtrack Sintas di film Luka Beta Rasa.

Pendeta Jacky Manuputty memulai diskusi dengan menjelaskan keterlibatan anak-anak kecil dalam konflik di Ambon pada tahun 1999-2000-an. Anak-anak dijadikan tentara membantu orang-orang dewasa yang berperang. Menurut Jacky, mereka melegitimasi tindakannya sebagai perang suci, dan memengaruhi anak-anak untuk ikut terlibat langsung. Pasca konflik, mantan tentara anak atau kombatan menjadi kelompok yang hampir tidak tertangani. Banyak di antara mereka yang pergi ke Jakarta, dan kota-kota lain. Di luar kota mereka terlibat dengan perdagangan narkoba, dan masalah sosial lainnya.

Jacky menilai ada yang salah dari cara penyelesaian konflik yang selama ini dilakukan. Selama ini orang-orang yang terlibat didorong untuk melupakan masalah dan melanjutkan hidup ke depan. Namun tak dinyana cara itu tidak bisa menyelesaikan masalah, dan menyembuhkan luka yang tergores begitu dalam. Penyebab konflik tidak pernah dijelaskan secara terbuka oleh pemerintah, sehingga menimbulkan tanya di antara kedua kelompok yang berseteru.

Meski demikan, Jacky dan pegiat bina damai lainnya berupaya melakukan transformasi terhadap mantan kombatan anak dari petarung menjadi pegiat bina damai atau peran posistif lainnya. Transformasi itu dilakukan dengan melakukan penyembuhan atau konseling kepada mereka.

Dalam upayanya, Jacky memadukan dua pendekatan yaitu, individual approach dan supporting community. Individual approach adalah metode penyembuhan dengan konsultasi antara individu dengan seorang konselor atau seperti konseling pada umumnya.

Sementara itu, supporting community adalah proses penyembuhan di mana mantan kombatan berada di dalam satu komunitas yang mendukung usahanya untuk berubah menjadi individu yang lebih baik. Dukungan komunitas sangat penting untuk memulihkan kepercayaan diri, seperti yang dialami Ronald Regang dan Iskandar. Keduanya sempat dilupakan saat konflik mereda, namun saat komunitas tempat mereka berada mendukung agar mereka berubah, keduanya kini bertransfomasi menjadi pegiat bina damai.

Zen RS melanjutkan dengan menjelaskan latar belakang film dokumenter berdurasi 35 menit ini. Pertama, ini bertolak dari nilai yang diusung bersama oleh Narasi TV dan PUSAD Paramadina, yaitu nilai-nilai toleransi, dan perdamaian. Kedua, ini dilatari keinginan Narasi TV untuk membuat karya jurnalistik yang lebih ekstensif berdasarkan pada riset. Dan ketiga, Narasi TV berharap agar pers dapat menjadi media perdamaian pasca konflik. Menurut Zen, jurnalisme tidak hanya berperan penting saat konflik terjadi, melainkan juga setelah konflik selesai.

Menurut Zen selama konflik, media di Ambon gagal berperan sebagai perantara perdamaian dan cenderung terjebak dalam polarisasi antara kedua kubu yang berkonflik. Zen kemudian mengaitkannya dengan kecenderungan pers di masa ini. Menurutnya media di Indonesia saat ini cenderung lebih mementingkan kecepatan, dan judul yang sensasional, membuat mereka gagal menjadi agen bina damai. Akibanyat banyak peristiwa yang rentan menjadi konflik horizontal gagal disikapi media dengan tepat.

Zen mencontoh pemberitaan media dalam kasus Meiliana warga Tanjung Balai, Medan yang dianggap menistakan agama. Dalam kasus ini, hampir semua media melakukan peliputan secara parsial dan tergesa-gesa.

Dengan kondisi media yang seperti itu, Narasi TV merasa perlu untuk terlibat dalam penanganan pasca konflik secara tepat, sehingga Narasi memutuskan untuk membuat film Luka Beta Rasa bersama PUSAD Paramadina.

Narasumber berikutnya, Diah Kusumaningrum, berbagi penelitiannya seputar rekonsiliasi sehari-hari di Ambon. Menurutnya, rekonsiliasi sehari-hari adalah aktivitas di mana dua kelompok yang berkonflik saling merengkuh satu sama lain saat hal itu terlarang atau berbahaya untuk dilakukan.  Berbeda dengan rekonsiliasi formal yang dilakukan pemerintah, rekonsiliasi sehari-hari dilakukan antar warga dengan peran kesehariannya, misalnya sebagai orang tua, pedagang, fotografer, dan wartawan serta dilakukan untuk merajut rekonsiliasi di kehidupan mereka sehari-hari.

Diah mencontohkan kerjasama yang dilakukan oleh ibu-ibu Muslim dan Kristen dalam mengembalikan anak mantan kombatan ke sekolahnya masing-masing. Mereka mengumpulkan uang untuk membayar sekolah anak-anak mantan kombatan sampai akhir tahun ajaran. Upaya ini dilakukan agar anak-anak bisa keluar dari lingkaran kekerasan dan menatap masa depan yang lebih baik. Selain itu ada juga kelompok wartawan Muslim dan Kristen yang bahu-membahu mengembangkan pusat media jurnalisme damai yang tidak melaporkan kejadian hanya dari satu sudut pandang saja.

Elemen masyarakat lainnya yang ikut berperan dalam melakukan rekonsiliasi sehari-hari adalah para tenaga medis yang berbeda keyakinan. Tenaga medis Muslim dan Kristen bekerja sama dalam memberikan pelayanan medis. Awalnya masyarakat Ambon menolak ditangani oleh dokter yang berbeda agama. Namun dengan upaya terus-menerus yang dilakukan oleh tenaga medis tersebut, masyarakat Ambon akhirnya mulai berinteraksi dengan orang yang berbeda agama, dan lambat-laun menjadi terbiasa.

Bekerja dengan orang yang berbeda agama pada saat itu adalah aktivitas yang sangat berbahaya. Mereka yang melakukannya dianggap sebagai pengkhianat, murtad, judas, dan sebagainya. Kendati begitu, mereka tetap berkeras hati merengkuh satu sama lain, karena mereka tahu tanpa bekerja sama, semuanya tidak bisa kembali ke kehidupan normal.

Bagi Diah, film Luka Beta Rasa ini memberikan gambaran yang jelas tentang rekonsiliasi yang dilakukan oleh anak-anak muda melalui kegiatan yang lebih positif seperti, bermusik, tari, dan fotografi. Film ini juga memberikan gambaran rekonsiliasi di ranah narasi. Dengan ini, orang akan teringat dengan upaya anak muda Ambon untuk saling merengkuh satu- sama lain.

Upaya bina damai perlu terus dilakukan agar struktur dan kultur perdamaian terus terbangun di Ambon. Struktur dan kultur perdamaian ini tidak hanya harus cukup, tapi harus ada cadangannya. Cadangan itu berfungsi agar saat terjadi krisis atau tekanan dari luar, masyarakat tidak akan kembali tersulut dan terjebak dalam kekerasan.

Sri Lestari Wahyuningrum, melanjutkan dengan menceritakan pengalaman hijrah tokoh perempuan yang ditulisnya di buku Keluar dari Ekstremisme, yaitu Khairunisak Rusli. Khairunisak sempat berada dalam lingkaran kekerasan di Aceh, ia menjadi tentara dan bahkan menjadi komandan perempuan Inong Balee.

Saat berusaha keluar dari lingkaran kekerasan pasca-konflik, ia merasa kecewa dengan tindakan diskriminasi terhadap perempuan. Usainya konflik tidak menjamin kaum perempuan dapat merengkuh keadilan. Melihat kondisi itu, Khairunisak memilih strategi lain dalam melakukan bina damai, yaitu dengan masuk ke partai politik lokal.

Ihsan Ali Fauzi, kemudian menjelaskan secara singkat dua hal penting yang mendasari penulisan buku Keluar dari Ekstrimisme yang dijadikan referensi film Luka Beta Rasa. Pertama, Ihsan menjelaskan bahwa hijrah tidak hanya dimaknai proses berubahnys seseorang dari sikap yang sekuler menjadi lebih religius. Hijrah juga bisa dimaknai sebagai perubahan dari pelaku kekerasan menjadi pegiat binai-damai. Kedua, makna kekerasan juga harus diperluas tidak hanya sebatas terorisme, pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM) dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Ihsan, tema ini masih relevan didiskusikan karena konflik horizontal antar warga di Indonesia masih rentan terjadi, dan konflik lama pun bisa timbul kembali jika akarnya tidak diselesaikan. Menurutnya, persatuan dan persaudaraan antar masyarakat tidak akan terajut kuat, jika tidak ada kerja keras dari berbagai pihak untuk mewujudkan itu.

Ronald Regang merasa bahwa ia termasuk salah satu anak beruntung karena bisa kembali menemukan jalan pulang. Ia berterimakasih kepada Pendeta Jacky yang sudah membimbingnya keluar dari lingkaran kekerasan, karena banyak mantan tentara anak yang tidak menemukan jalan pulang, dan memilih keluar dari Ambon.

Bersama komunitas Ambon Bergerak, di sana ia terlibat dalam berbagai kegiatan anak-anak muda, seperti bermusik, berpuisi, dan kegiatan lainya. Ia juga terlibat dalam kegiatan kemanusiaan seperti membagikan bantuan untuk korban bencana dan wabah Covid1-9. Menurut Ronald, kegiatan-kegiatan positif harus dilakukan agar pikiran dan hati anak-anak muda tidak mudah terepangaruhi oleh kekerasan.

 

No Comments

Post A Comment

%d blogger menyukai ini: