Membangun Komunitas Tangguh di Masa Wabah: Pengalaman Penghayat Kepercayaan/Agama Leluhur

Membangun Komunitas Tangguh di Masa Wabah: Pengalaman Penghayat Kepercayaan/Agama Leluhur

Pandemi Covid-19 menghantam semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk para Penghayat Kepercayaan dan Agama Leluhur. Sebagai kelompok minoritas, apakah mereka mempunyai cara-cara tersendiri dalam menghadapi pandemi? Dan bagaimana cara mereka membangun komunitas yang tangguh dalam menanggulangi dampak negatif akibat Covid-19? Bermula dari pertanyaan itulah, Rumah Bersama (CRCS UGM, Satunama, LIPI, PUSAD Paramadina, MLKI, Puan Hayati, ICRS, Komnas Perempuan) menggelar diskusi daring bertajuk, “Membangun Komunitas Tangguh di Masa Wabah: Pengalaman Penghayat Kepercayaan/ Agama Leluhur”.

Diskusi yang dipandu Husni Mubarok, Peneliti PUSAD Paramadina, ini menghadirkan narasumber Engkus Ruswana, Penghayat Budi Daya, Muslam Hadiwiguna Putera, Pengudi Ilmu Kebatinan Inti Sarining Rasa (PIKIR), dan Suprih Suhartono, Penghayat Kepribaden. Diskusi ini juga menghadirkan Andy Yentriyani, Komisioner Komnas Perempuan, dan Kunthi Tridewiyanti, Dosen Universitas Pancasila, sebagai penanggap. Diskusi daring ini dilaksanakan pada Kamis, 14 Mei 2020 via aplikasi telekonferensi Zoom dan disiarkan langsung di kanal Youtube PUSAD Paramadina dengan jumlah peserta mencapai 100 orang lebih.

Engkus Ruswana memulai diskusi dengan memaparkan konsep dasar dari hidup dan kehidupan Penghayat Budi Daya. Menurutnya sikap masyarakat terhadap wabah atau bencana sangat ditentukan oleh pola pikir dan pemahaman terhadap hakikat hidup dan kehidupan. Engkus menjelaskan prinsip dasar kehidupan Penghayat Budi Daya yang disebut dengan sangkan paraning dumadi yang artinya adalah hubungan manusia dengan alam, manusia dengan sesama makhluk hidup, dan manusia dengan Tuhan. Dari konsep itu kemudian diturunkan lagi menjadi mamayu hayuning bawana yang artinya untuk mencari hakikat hidup tidak melihat dari luar diri manusia, melainkan melihatnya dari dalam terlebih dahulu. Ketika manusia melihat hakikat hidup dari dalam dirinya, maka ada konsep tri tangtu di mana dalam diri manusia ada lahir, batin, dan ingsun. Lahir adalah fisik dari manusia, batin yang menggerakannya, dan ingsun ialah yang menggerakan keduanya.

Secara hakikat lahir manusia misalnya, bernafas dengan oksigen atau udara yang masuk membawa sari pati alam dan sisanya dikeluarkan melalui hembusan nafas dan buang angin. Manusia juga minum air untuk kebutuhan tubuhnya yang sisanya juga dibuang lewat buang air kecil, begitupun saat manusia memakan makanan yang dimasak, atau saat menyerap cahaya matahari yang di dalamnya ada sari pati panas. Dari semua yang dikonsumsi manusia ada empat unsur yaitu, udara, air, bumi, dan api (panas) yang berasal dari alam, unsur-unsur itu kemudian disebut dengan sedulur papat kalima pancer. Namun di alam semesta ini, tidak hanya manusia yang membutuhkan udara, air, bumi, dan api, makhluk lainnya seperti hewan dan tumbuhan juga memerlukannnya. Engkus mengatakan dari sana dapat disimpulkan bahwa unsur pembentuk raga manusia sama dengan pembentuk raga dari binatang, dan tumbuhan. Namun, yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah unsur ingsunya.

Semua raga makhluk hidup berasal dari unsur yang sama, yaitu dari sari pati alam, dan dari sumber yang sama yaitu Tuhan YME. Oleh karena unsurnya sama dan sumbernya sama, berarti manusia harus saling menghargai hidup yang diwujudkan dalam perilaku hidup. Perilaku hidup termanifestasi dalam cara memperlakukan tumbuh-tumbuhan, hewan dan alam semesta, karena setiap makhluk memiliki keterkaitan dengan alam yang tidak bisa dipisahkan.

Untuk mewujudkan mamayu hayuning bawana di Sunda juga ada tuntunan silih asih, silih asuh, silih asah, yang artinya saling mengasihi, membangun, dan mengasah atau memperkaya. Selain itu ada juga konsep cageur, pinter, bageur, selamet yang artinya sehat, berpengetahuan, baik dan selamat. Kemudian tuntunan hidup lainnya, dahar sakadar tambah lapar, nginum sakadar tambah hanahang, sare sakedar tambah tunduh, artinya makan hanya sekedar untuk mengatasi lapar, minum sekedar untuk mengatasi  haus, dan tidur untuk mengatasi ngantuk.

Engkus menjelaskan juga prinsip hidup bermasyarakat Penghayat Budi Daya, yaitu lahir kawula ning nagara, batin kawula ning raksa, simkuring kawula ning gusti, artinya lahir berbakti kepada negara, batin berbakti kepada rasa sejati, dan sang aku atau ingsun berbakti kepada Tuhan YME. Dari prinsip pertama, Engkus menghubungkannya dengan kebijakan pemerintah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berkala Besar (PSBB), dan pembatasan fisik (physical distancing). Para penganut Budi Daya ikut menaati kebijakan pemerintah tersebut. Sementara itu, untuk ketahanan pangan, Budi Daya memiliki konsep gotong royong dalam pertanian, dengan adanya lumbung padi bersama yang digunakan dalam keadaan paceklik seperti pandemi Covid-19 saat ini.

Dalam masyarakat Penghayat Budi Daya dan masyarakat Sunda pada umumnya, peran perempuan atau ibu sangat penting, terlebih saat masa pandemi Covid-19 ini. Seorang ibu harusnya bisa memberikan pembelajaran kepada kelurganya agar tidak tertular Covid-19. Engkus memberikan banyak contoh tentang kedudukan perempuan di masyarakat Sunda di antaranya, ngindung ka waktu ngabapa ka zaman, indung nu ngandung bapak nu ngayuga, dan indung tunggul rahayu bapak tangkal darajat.

Menurut Engkus selama pandemi Covid-19 penghayat kepercayaan melakukan hubungan yang harmonis dengan kelompok lintas iman, organisasi masyarakat, dan aktivis demokrasi. Di tingkat daerah keterlibatan penghayat kepercayaan dengan negara cukup bervariasi, “ada yang sudah merangkul dengan baik, ada yang setengah-setengah, ada juga yang tidak, dan di tingkat pusat juga masih menihilkan keberadaan kami,” ujar Engkus. Engkus mengungkapkan untuk masyarakat penghayat Budi Daya yang umumnya petani, kehidupannya tidak banyak terganggu Covid-19. Mereka harus tetap bertani dalam rangka ketahanan pangan nasional, “mereka tetap bertani dengan tetap menjaga jarak, kalau mereka berhenti kita bisa kelaparan,” pungkasnya.

Suprih Suhartono, Penghayat Kepribaden, melanjutkan diskusi dengan memaparkan konsep kepercayaan Kepribaden yang dalam beberapa hal memiliki kesamaan dengan penghayat Budi Daya. Pertama ia menjelaskan konsep sangkan paraning dumadi yang berarti kembali ke asalnya. Menurut konsep itu manusia terdiri dari raga dan roh, di mana raga berasal dari empat unsur alam yaitu, tanah, air, udara, dan panas, sedangkan roh atau hidup berasal dari Tuhan. Apabila manusia wafat, empat unsur alam tadi cepat atau lambat akan kembali pada alam, bagi orang yang pemahaman kepercayaannya tinggi, unsur itu akan hilang sangat cepat melebur dengan alam. Sementara roh atau hidup tidak langsung kembali kepada Tuhan, ia harus menjalani laku supaya kembali kepada Tuhan. Oleh sebab itu, Penghayat Kepribaden harus melakukan laku vertikal kepada Tuhan dan laku horizontal kepada alam.

Selain konsep sangkan paraning dumadi, Penghayat Kepribaden juga meyakini konsep Manunggaling kawula gusti yaitu, menyatunya hamba dengan Tuhannya. Penghayat Kepribaden dalam hidupnya senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan, dengan senantiasa berdoa sesuai tuntunan leluhur masing-masing, misalkan jika dia orang Jawa maka dengan bahasa Jawa, dan jika orang Sunda dengan bahasa Sunda. Tuntunan luhur Penghayat Kepribaden ada yang disebut dengan panca gaib yang terdiri dari, kunci, asmo, mijil, singkrir, pauling. Jika laku panca gaib dipahami, dijalankan dengan benar dan sungguh-sungguh hidup (roh) dengan dirinya dapat sambung rasa atau berkomunikasi memberikan tuntunan pada raganya, “roh kita masing-masing ini akan bisa berkomunikasi dengan raganya,” jelasnya.

Secara horizontal Penghayat Kepribaden memiliki konsep yang sama dengan Budi Daya yaitu, mamayu hayaning bawana; memelihara kedamaian dunia berikut isinya, prinsipnya wujud cinta manusia kepada Tuhan termanifestasi dari cinta kepada ciptaannya. Dalam konsep mamayu hayaning bawana terdapat lima prinsip yang dinamakan lima laku pakumahi rogo yaitu, sabar, nerimo, ngala, tresna, dan welas asih. Untuk mengamalkan mamayu hayaning bawana harus dimulai dari kedamaian dan ketentraman diri sendiri, setelah itu baru bisa menjaga kedamaian keluarga, dan masyarakat yang lebih luas lagi.

Dengan konsep hidup dan kehidupan yang sudah dipaparkan oleh Suprih, Penghayat Kepribaden pun memiliki sikap terhadap pandemi Covid-19 berdasar pada keyakinannya. Menurutnya pandemi Covid-19 adalah peringatan kepada manusia di dunia yang sering melanggar ke benaran, menganggap orang lain sesat,  dan Tuhan. Coovid juga sebagai hukuman kepada manusia yang menganggap tidak ada negara lain yang  menyamakan, selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya. Pandemi Covid-19 dimaknai sebagai hukuman kepada manusia yang menghalalkan segalanya untuk mencapai keinginannya. Namun Penghayat Kepribaden juga memaknainya sebagai anugerah Tuhan, agar manusia lebih sensitif terhadap sesamanya yang lemah dan kurang mampu.

Selama pandemi Covid-19 Suprih mengatakan sudah menyosialisasikan pentingnya menjaga kebersihan, menggunakan masker, dan pembatasan fisik (physical distancing) kepada para Penghayat Kepribaden di berbagai daerah. Sosialisasi itu dilakukan melalui grup WhatsApp dan surat edaran. Selain itu, paguyuban Kepribaden juga membagikan masker gratis kepada warga, lalu rapat pengurus dan sarasehan langsung ditiadakan, diganti dengan rapat dari via aplikasi telekonferensi di rumah masing-masing. “Kegiatan yang berskala nasional pun kita jadwalkan ulang, jadi nanti setelah pandemi Covid-19 ini selesai akan banyak acara yang kami selenggarakan,” tutur Suprih.

Di akhir pemaparannya, Suprih menyarankan agar masyarakat ke depannya melakukan penggalangan dana sosial untuk mengantisipasi jika ada bencana atau wabah dikemudian hari. Ia juga menyarankan agar setiap rumah menanam tanaman obat untuk kesehatan keluarga, dan membuat tempat cuci tangan di tempat-tempat strategis.

Muslam Hadiwiguna Putera, Pengudi Ilmu Kebatinan Inti Sarining Rasa (PIKIR) menjadi narasumber terakhir dalam sesi pemaparan materi ini. Muslam menjelaskan sumber ajaran yang dianut oleh PIKIR berasal dari kearifan lokal masyarakat Jawa dengan lima pokok ajaran yaitu, sangkan dumadi ning bawano, sangkan paraning dumadi, mamayu hayuning bawana, manunggaling kawulo gusti, dan bebudi bowo leksono.

Pertama, sangkan dumadi ning bawano, artinya asal-usul itu Tuhan sendiri yang menciptakan. Kedua, sangkan paraning dumadi artinya asal-usul terjadinya makhluk dari tidak ada menjadi ada, dan kembali tidak ada atau kembali kepada Tuhan. Ketiga, mamayu hayuning bawana yang diartikan, mamayu itu mengayom, hayu  itu selamat, bawono itu jagat raya, dan secara sederhana diartikan sebagai penyelamatan jagat raya atau lingkungan hidup. Keempat, manunggaling kawulo gusti penyatuan manusia dengan Tuhan, dalam konsep ini manusia harus mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Tuhan. Manusia yang sudah sangat dekat dengan Tuhan ia mengetahui apa yang akan terjadi, bagaimana harus bersikap, dan tindakan apa yang harus diambil. Namun untuk sampai tahap itu, harus disertai dengan sikap tanggap saat menangkap sandi, tanda, atau sasmita yang ditampakan oleh Tuhan. “Oleh sebab kedekatan kita kepada Tuhan banyak kebocoran-kebocoran yang diberikan kepada manusia,” ungkapnya.

Dalam kepercayaan PIKIR, mereka meyakini bahwa leluhur terdahulu sudah mengetahui pandemi Covid-19 ini. Hal itu berdasar pada kitab pitutur kaki (Turki), sebuah kitab berisi pesan-pesan dari leluhur atau disebut aki, tentang kejadian yang akan datang di masa depan. Dalam kitab itu dijelaskan akan ada perang tanpa senjata satu lawan satu yang jika tidak waspada akan mati. Perang itu melawan lelembut yang sekarang dimaknai bisa sebagai bakteri, virus, amuba, atau jasad  renik. Kitab Turki juga menjelaskan agar manusia membantu sesamanya, menjalin persaudaraan, dan bersabar menghadapi peperang ini.

Di akhir pemaparannya, Muslam mengatakan bahwa Covid-19 bukanlah masalah, jika imunitas tubuh manusia berada dalam kondisi baik. Dalam kearifan lokal ada banyak cara untuk meningkatkan imunitas tubuh, caranya adalah mengonsumsi empon-empon atau obat-obatan alami seperti, jambu biji, jeruk, dan daun kelor. Daun kelor sendiri juga digunakan dalam berbagai kegiatan oleh warga PIKIR di berbagai kegiatannya. “Dari dulu kami sudah menggunakan dau kelor, tandanya leluhur kita dulu sudah tau manfaat dari daun itu,” tutup Muslam.

Setelah ketiga narasumber selesai memaparkan materinya, giliran penanggap memberikan tanggapan terhadap pemaparan yang sudah diberikan. Penanggap pertama adalah Andy Yentriyani, Komisioner Komnas Perempuan. Andy mengatakan pembicaran seputar penghayat di Komnas Perempuan sudah dimulai sejak perubahan administrasi undang-undang kependudukan dibicarakan. Pada saat itu Komnas Perempuan merangkul perempuan-perempuan dari kelompok Penghayat Kepercayaan untuk menggali pengalaman perempuan penghayat dalam kehidupannya sehari-hari.

Secara nilai yang dianut oleh Penghayat Kepercayaan, perempuan berada di kedudukan yang setara dengan laki-laki, namun Andy mengatakan dalam praktiknya tidak selalu demikian. Perempuan Penghayat Kepercayaan memiliki pengalaman berbeda dalam kehidupan sehari-harinya, pengalaman berbeda inilah yang menyebabkan kebutuhan-kebutuhan yang spesifik perlu diperhatikan dalam proses perjuangan pemenuhan hak sebagai warga, karena konstitusi Indonesia menjamin warganya bebas dari diskriminasi. Kendati konstitusi negara menjamin kesetaraan antar masyarakat, masih harus dibarengi dengan pendidikan publik tentang kesetaraan itu sendiri, agar tidak menutup kemungkinan diskriminasi yang dilakukan secara struktural dan kultural dalam relasi berbangsa dan bernegara.

Andy juga menambahkan nilai-nilai hidup semesta yang dianut para Penghayat Kepercayaan memungkinkan mereka menjadi komunitas yang tangguh ketika berhadapan dengan keadaan sulit, dengan ketahanan pangan, obat-obatan, dan resep hidup sehat. Selain itu pembatasan fisik juga tidak menghambat ritual ibadah mereka, “belajar dari kearifan lokal membuat kita lebih mengakar dan kuat menghadapi masa depan,” jelasnya.

Tanggapan berikutnya diberikan oleh, Kunthi Tridewiyanti, Dosen Universitas Pancasila. Mantan rekan kerja Andy di Komnas Perempuan ini mengatakan dirinya melakukan pengamatan terhadap kelompok Penghayat Kepercayaan terutama kepada perempuannya. Dari berbagai pengamatannya, ia dapat mengambil banyak pelajaran kehidupan dari kearifan lokal yang dilakukan Penghayat Kepercayaan.

Menurutnya nilai-nilai kearifan lokal harus dikembalikan, karena kearifan lokal bisa menyatukan kehidupan, dengan berbagai ritual upacara, dan semua ajaran tentang penyatuan dengan alam. Misalnya, di tengah pandemi Covid-19 bangsa Indonesia secara umum terancam ketahanan pangannya, namun tidak dengan Penghayat Kepercayaan yang sudah memiliki sistem ketahanan pangan yang mandiri dan sudah sangat lama teruji,  “kearifan lokal bangsa Indonesia itu perlu ditumbuh kembangkan,” kata Kunthi.

Selain itu, Kunthi juga melakukan advokasi terhadap masyarakat Penghayat Kepercayaan yang selama ini kerap mendapatkan diskriminasi. Dalam undang-undang adminstasi kependudukan mislanya, saat munculnya istilah Penghayat Kepercayaan sempat menjadi perbincangan panas, hingga akhirnya undang-undang itu menjadi dasar perlindungan penghayat yang mengalami diskriminasi.

 

No Comments

Post A Comment

%d blogger menyukai ini: