Merekrut Jihadis Lewat Media Sosial

Merekrut Jihadis Lewat Media Sosial

“Wah, terlihat keren dan gagah,” ungkap Akbar Maulana (17 tahun) saat melihat foto temannya di media sosial menenteng senapan M-16. Akbar nyaris mengikuti jejak Yazid, teman satu asramanya asal Indonesia, untuk bergabung dengan kelompok ISIS di Suriah.

Film Jihad Selfie mengisahkan remaja asal Aceh, Akbar Maulana, mendapat beasiswa belajar di Imam Hatip High School (setara Madrasah Aliyah di Indonesia) di Kayseri, Turki. Pada satu masa, teman karibnya, Yazid, yang dikenal pintar dan gemar mengakses internet tersebut tiba-tiba menghilang tanpa kabar berita. Lalu foto Yazid muncul di Facebook dengan latar belakang bendera ISIS. Ternyata Yazid juga telah merekrut Bagus, teman lain asal Indonesia yang juga sedang belajar di Turki.

Film dokumenter durasi 49 menit tersebut menelusuri bagaimana perekrutan kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah begitu gampang terjadi. Kelompok ini menggunakan media sosial untuk merekrut anggota baru. Sang sutradara, Noor Huda Ismail, melacak adanya warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS di Suriah dan Irak dengan memanfaatkan media sosial, seperti Facebook, Twitter, WhatsApp, Instagram, dan Skype.

Dalam diskusi dan pemutaran film Jihad Selfie di kantor Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina (28/11/2016), tampil sebagai narasumber Taufik Andrie Produser Eksekutif film Jihad Selfie sekaligus pengurus Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP) dan Ihsan Ali-Fauzi Direktur PUSAD Paramadina.

Menurut Taufik Andrie, media sosial telah mengubah pendukung pasif menjadi pendukung aktif. Korbannya adalah para remaja, pengakses internet terbesar, dengan menjalin komunikasi intensif dan akhirnya membujuk korbannya untuk terlibat langsung dalam aksi kekerasan, seperti bom bunuh diri.

Meski isu radikalisme kompleks penyebabnya, tetapi salah satunya dapat dicegah dengan membangun komunikasi yang sehat dan hangat sesama anggota keluarga. Pencarian jatidiri para remaja lewat dunia maya mengakibatkan minimnya komunikasi antar anak denga orang tua. Bagi Taufik, faktor keluarga menjadi salah satu peran yang dapat mencegah para remaja tersesat dalam kelompok ISIS.

Kelebihan film ini adalah menampilkan banyak narasumber hasil wawancara, sehingga sejumlah motivasi dan media yang digunakan dalam merekrtut jihadis terpapar jelas. Salah satunya adalah Junaidi, tukang bakso di Malang yang bergabung dengan Abu Jandal, mengorek keterangan Fauzan Ansori yang pernah menjadi pembaiat ISIS di Indonesia, serta menjumpai Yusuf yang pernah bergabung dalam kelompok MILF (Moro Islamic Liberation Front) yang sekarang bertobat dan membangun bisnis kuliner di Solo.

Film Jihad Selfie patut diapresiasi sebagai film yang dengan jeli menelusuri jaringan radikalisme di Indonesia. Proses produksi film ini dimulai sejak Maret 2015 hingga Juni 2016. Pengambilan gambarnya dilakukan di beberapa tempat, mulai Turki, Mesir, Lamongan, Jakarta, Semarang, hingga Pulau Nusakambangan. Memuat juga sejumlah video rekaman acara pengajian dan baiat oleh simpatisan kelompok radikal terhadap beberapa orang di Jakarta.***

No Comments

Post A Comment

%d blogger menyukai ini: