Agama, Kebangsaan dan Demokrasi

Agama, Kebangsaan dan Demokrasi

Jumat, 31 Oktober 2014, Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD), Yayasan Paramadina, kembali menyelenggarakan acara tahunan Nurcholish Madjid Memorial Lecture (NMML). Bertempat di Aula Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, NMML yang ke-8 ini menghadirkan Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, rohaniawan, filsuf, dan Direktur Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Dalam orasinya di depan sekitar 300 hadirin, kawan baik almarhum Nurcholish ini membawakan pidato bertema “Agama, Kebangsaan, dan Demokrasi: Nurcholish Madjid dan Kemanusiaan”.

Bertolak dari pernyataan Nurcholish Madjid bahwa “Islam adalah agama kemanusiaan terbuka,” Romo Magnis Suseno mengajak kita untuk merenungkan kembali arti agama sebagai agama yang menghormati martabat manusia. Menurutnya, iman kepada Allah hanya benar kalau terwujud dalam hormat terhadap manusia, ciptaan tertinggi Allah. Agama, segenap agama, mesti dapat dirasakan sebagai sesuatu yang positif. Karena itu maka kita harus menolak keagamaan dengan wajah keras, keagamaan yang mengancam, membenci dan meremehkan mereka yang berbeda. Romo Magnis kemudian menyeru kaum agamawan dari berbagai agama untuk menegaskan kembali komitmen untuk memperlihatkan bahwa agama adalah rahmat bagi seluruh alam, tanpa kecuali.

[wpfilebase tag=file id=158 /]