Refleksi Setahun Penganan COVID-19 di Indonesia

Refleksi Setahun Penganan COVID-19 di Indonesia

Setahun terakhir telah memaksa kita untuk mengubah tata cara berkehidupan guna beradaptasi dengan pandemi. Banyak ahli percaya bahwa COVID-19 bukan pandemi terakhir yang akan kita hadapi sehingga merefleksikan apa yang terjadi selama setahun belakangan menjadi penting guna mempelajari dan mempersiapkan penanganan pandemi selanjutnya.

Dalam rangka merefleksikan hal tersebut, Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina, bekerja sama dengan United Nations Development Program (UNDP) menggelar webinar nasional bertajuk “Refleksi Setahun Penanganan COVID-19 di Indonesia: Ke Mana Kita Melangkah?” pada hari kamis, 11 maret 2021.
Acara ini menghadirkan tujuh narasumber dari berbagai bidang yaitu: Prof. Zubairi Djoerban (Ketua Satgas Covid-19 PB Ikatan Dokter Indonesia); Phillips J. Vermonte (CSIS), Haidar Bagir (Gerakan Islam Cinta); Kalis Mardiasih (Aktivis Muda NU); Pdt. Jacky Manuputty (PGI); Purwani Diyah Prabandari (Jurnalis Tempo); dan Ihsan Ali-Fauzi (Direktur PUSAD Paramadina). Diskusi dimoderatori oleh Siti Nurhayati dari PUSAD Paramadina.

Ihsan Ali-Fauzi selaku direktur PUSAD Paramadina menekankan pentingnya merenungi apa yang telah kita pelajari selama setahun terakhir. “Meskipun angka COVID-19 menurun, ia juga terasa semakin dekat. Kita belum tahu pasti kapan pandemi akan benar-benar usai, sehingga kita perlu berefleksi sebelum mulai mengambil langkah selanjutnya,” ucapnya.

Salah satu dampak langsung yang ditimbulkan pandemi COVID-19 adalah semakin pentingnya evidence-based medicine di bidang kesehatan. Prof. Zubairi Djoerban memaparkan kebijakan penanganan COVID-19 yang sempat berubah-ubah diakibatkan hasil temuan dan informasi mengenai COVID-19 yang terus berkembang. “Awalnya, masker tidak diwajibkan bagi yang tidak sakit kemudian menjadi wajib. Khususnya setelah muncul bukti bahwa virus ini dapat menyebar lewat udara atau airborne,” paparnya.

Pandemi tidak hanya berdampak pada bidang kesehatan. Philip Vermonte menerangkan refleksi pandemi dari dimensi tata kelola, pengetahuan dan sains, serta sosial budaya. “Krisis akibat pandemi dapat diselesaikan dengan sains dan ilmu pengetahuan sehingga upaya untuk memajukan keduanya harus terus dibangun,” tegasnya. Transparansi, tata kelola, dan infrastruktur akumulasi data penting untuk terus diperbaiki. Dalam konteks tata kelola pemerintahan, koordinasi yang tidak lancar antara pemerintah pusat dengan daerah maupun antar pemerintah daerah juga menjadi tantangan penanganan pandemi.

Partisipasi masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan penting untuk mengendalikan penyebaran COVID-19. Sayangnya, persepsi resiko masyarakat Indonesia yang masih rendah menyebabkan sebagian warga abai. Persepsi ini juga kerap dipengaruhi budaya dan pemahaman agama yang menganggap wabah sebagai takdir.

Dalam merefleksikan pengaruh pandemi terhadap agama dan spiritualitas, Haidar Bagir menuturkan pentingnya menjadikan pelajaran yang kita ambil dari masa pandemi menjadi kebiasaan baik yang baru.
“Pandemi membuat kita sadar pentingnya hidup lebih sehat, memerhatikan kebersihan lingkungan hidup, dan menjaga keseimbangan alam. Alam sebagaimana tubuh manusia didesain memiliki keseimbangan dan kemampuan untuk mengobati dirinya sendiri selama kita terus memperlakukan dia dengan layak,” ucapnya.
Haidar Bagir juga menambahkan bahwa agama tidak boleh sekadar dimaknai sebagai ritual. Agama harus mencakup hubungan rohani antara individu dengan Tuhan serta menjalin persaudaraan dengan siapapun yang mencari kebaikan dari agama meski di luar kelompok agamanya sendiri.

Hal di atas diamini Pendeta Jacky Manuputty yang menekankan pentingnya menjaga solidaritas lintas iman, suku, dan ras di masa pandemi maupun selama-lamanya. “Pandemi COVID-19 menjadi instrumen koreksi kemanusiaan yang sangat dalam. Kita juga dituntut untuk memaknai kembali arti kemanusiaan dan siapa kita sebagai manusia,” tuturnya.

Selain yang dialami manusia pada umumnya, pandemi juga memiliki dampak khusus terhadap kelompok perempuan. “Pandemi berat bagi semua orang, tetapi perempuan merasakan dampak pandemi yang lebih berat lagi,” ucap Purwani Diyah Prabandari. Perempuan banyak terlibat di garis depan penanganan COVID-19. Mulai dari tenaga kesehatan global yang mayoritasnya perempuan, ibu rumah tangga dan pekerja perempuan seperti teller dan resepsionis juga memiliki peran penting di garis depan kehidupan sehari-hari.

Munculnya beragam lelucon seksis seputar pandemi juga menjadi isu yang hangat dibicarakan. “Tagar positifkan istri untuk mengganti kematian ribuan pasien COVID-19 sempat ramai di media sosial. Padahal isu perencanaan kehamilan dan akses kesehatan reproduksi masih menjadi permasalahan,” tutur Kalis Mardiasih. Ia menambahkan bahwa anak perempuan khususnya menjadi lebih rentan menjadi korban perkawinan anak akibat krisis ekonomi yang dialami keluarganya.

Selain memunculkan pengalaman khas perempuan, pandemi juga semakin memperlihatkan adanya ketimpangan sosial di masyarakat. “Bagi mereka yang memiliki rumah mewah dan kolam renang, beban mental ketika harus di rumah saja menjadi lebih mudah dilewati ketimbang mereka yang memiliki rumah sempit atau bahkan tidak layak,” ucap Kalis.

No Comments

Post A Comment

%d blogger menyukai ini: