Terorisme 2011: Perlunya Pendekatan Baru

Terorisme 2011: Perlunya Pendekatan Baru

Pada tahun 2011, terorisme dan topik terkait seperti radikalisasi keagamaan, intoleransi, dan diskriminasi kembali menyita perhatian media. Dari pemberitaan media tersebut, ada dua hal menarik yang dapat kita diskusikan. Yang pertama adalah taktik baru dan yang kedua adalah generasi pelaku yang juga baru.

Taktik baru yang dimaksud di sini adalah penggunaan bom buku. Ini adalah bom dengan kapasitas ledak yang kecil, seperti tampak dari salah satu bom buku yang meledak di kompleks Radio 6811 di Utan Kayu, Jakarta. Kendati demikian, kebaruan taktik ini sempat menjadi perhatian media dan pengamat selama beberapa minggu. Untungnya, tidak ada banyak insiden bom buku yang meledak. Keberhasilan aparat menangani kasus ini kemungkinan besar telah membatasi penggunaannya setelah bulan Maret 2011.

Generasi pelaku baru tampak dari bom bunuh diri di Masjid Polres Cirebon, pada 15 April 2011, dan bom di Gereja di Solo pada 25 September 2011. Generasi baru ini bukan lulusan tempat-tempat konflik internasional seperti Afghanistan dan Filipina Selatan atau Thailand Selatan. Mereka adalah generasi baru lulusan pengajian radikal yang berajal keterampilan membuat bom lewat internet, bukan dalam konteks perang.

Beberapa target bom tahun 2011, yaitu gereja, polisi dan perseorangan, perlu diperhatikan karena dua alasan. Yang pertama adalah pemilahan berbasis agama yang masih sensitif di masyarakat kita dan sangat rentan terhadap serangan. Ini mengisyaratkan perlunya koordinasi dan kerjasama lintas-agama yang dapat membantah asumsi teroris bahwa pemilahan Islam-Kristen sangat rentan dan dapat menjadi sasara empuk aksi teror. Yang kedua adalah, efek dendam yang muncul dari berbagai tindakan lawan-teroris di Indonesia. Dendam adalah salah satu penggerak aksi teror terhadap polisi. Karenanya, cara-cara penanganan terorisme juga perlu menghindari munculnya perilaku balas dendam dari teroris.

Akhirnya, cara memahami terorisme yang menekankan sifat, karakter, dan ideologi pelaku teroris perlu dilengkapi dengan cara lain. Salah satu cara itu, yang dulu pernah ditekankan Charles Tilly, adalah “perspektif relasional”. Maksudnya, kita perlu memperhatikan beberapa proses sosial yang melatari penggunaan aksi teror sebagai strategi.

Sebagai contoh, dalam kasus bom di Masjid Polres, Cirebon, selain kita memperhatikan siapa pelakunya, sifat, dan latar belakang ideologinya, kita juga perlu mempertanyakan bagaimana bahan peledak sampai ke tangan pelaku bom bunuh diri dan puluhan temannya. Apa hubungan antara pelaku bom bunuh diri dengan Polisi sebelumnya dalam berbagai aksi radikal yang bukan aksi bom – seperti protes – di Cirebon? Apa isu yan menjadi fokus aksi-aksi radikal yang melibatkan pelaku dan kawan-kawannya sebelum aksi bom bunuh diri? Bagaimana batas dan jarak antara dia dan polisi tercipta? Situasi masyarakat seperti apa yang melahirkan, memasok, merekrut, dan mengorganisasi teroris tersebut? Formasi konflik apa di masyarakat kita yang membentuk batas yang tegas dan mencolok antara “kita” dan “mereka”?

Pendekatan di atas memungkinkan kita untuk melihat persoalan teroris secara lebih memadai : tanpa menjadikan aparat dan pemerintah sebagai target atau korban semata, melainkan sebagai pelaku dalam pertarungan politik yang lebih luas, yang menciptakan lahan bagi munculnya perilaku radikal termasuk penggunaan strategi teror yang dilakukan pihak-pihak yang terlibat.

Rizal Panggabean
Program on Peace Building and Violence Radicalims (PILAR) Researcher
Institute of International Studies (IIS), UGM

Sumber: http://iis.fisipol.ugm.ac.id
January 2012 |  Volume 2 | Issue 2

No Comments

Post A Comment

%d blogger menyukai ini: