[Transkripsi Diskusi] Menemukan Konsensus Kebangsaan Baru: Negara, Pasar, Cita-cita Keadilan

[Transkripsi Diskusi] Menemukan Konsensus Kebangsaan Baru: Negara, Pasar, Cita-cita Keadilan

Berbagi Artikel

Nurcholish Madjid Memorial Lecture merupakan acara yang diadakan setahun sekali yang menampilkan sejumlah intelektual dari berbagai latarbelakang keilmuan untuk berpidato mengenang Cak Nur. Sebelumnya kami telah mengundang Komaruddin Hidayat, Goenawan Mohamad, Syafi’i Maarif, Karlina Supelli, dan William Liddle. Pada kesempatan kali ini, kami mengundang Faisal Basri, seorang ekonom, aktivis anti-korupsi dan dosen Universitas Indonesia.

Keseluruhan acara yang kami susun pada malam yang berbahagia ini adalah sebagai berikut: pertama adalah sambutan Ketua Yayasan Wakaf Paramadina, Prof. Dr. Didik J. Rachbini. Kedua adalah peluncuran buku “Memperbaiki Mutu Demokrasi di Indonesia: Sebuah Perdebatan” karya Prof. Dr. William Liddle. Ketiga adalah orasi ilmiah, “Menemukan Konsensus Kebangsaan Baru: Negara, Pasar, Cita-cita Keadilan,” oleh Faisal Basri. Terakhir adalah penutup dan ramah tamah.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, kami atas nama panitia mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak. Acara ini terselenggara atas kerjasama Yayasan Wakaf Paramadina dengan The Asia Foundation.

 

Sambutan Ketua Yayasan Wakaf Paramadina, Didik J. Rachbini

Bismillahirrahmanirrahim. Selamat malam dan salam sejahtera untuk kita semua. Saya sebagai ketua yayasan hanya memberikan sambutan saja karena yang kompeten membicarakan pasar adalah saudara Faisal, sahabat saya dan sahabat Jokowi juga. Teman-teman aktivis biasanya kalau mendengar kata “pasar” otomatis akan mengatakan itu kapitalis, liberal, neolib, dan seterusnya. Tapi nanti tanya ke saudara Faisal. Diskusi ini akan mendalam dan sangat bagus.

Tentunya terima kasih sekali kepada saudara Ihsan yang sangat produktif. Saudara Ihsan ini kebalikan dari SBY. SBY banyak rapat tapi tidak produktif, sementara Ihsan jarang rapat tapi produktif sekali.

Apakah pasar bisa menegakkan keadilan? Tentu di sampingnya ada negara. Banyak pihak yang ingin menghilangkan pasar dan menyerahkannya pada birokrasi seolah-olah beras dan lain-lain didistribusikan Politbiro dari atas ke bawah. Ternyata hasilnya Politbiro itulah yang korup. Jadi pasar itu sunnatulah, hukum yang spontan, the spontaneous order. Dalam hal ini Faisal dan saya tak jauh berbeda karena sama-sama pendiri yayasan. Beliau juga pernah menjadi pengurus Yayasan Paramadina.

 

Transkripsi selengkapnya:

Post a Comment