Wabah Corona dan Kritik Atas Peradaban

Wabah Corona dan Kritik Atas Peradaban

Diskusi daring seputar pandemi Covid-19 yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina sudah memasuki seri ketiga. Kali ini tema yang diangkat adalah “Wabah Corona dan Kritik Atas Peradaban”. Pemilihan tema tersebut berangkat dari pertanyaan seberapa buruk wajah peradaban saat ini setelah virus Covid-19 menyebar di seluruh dunia? Sejauh mana pandemi Covid-19 menjadi portal bagi normalitas baru? Model peradaban baru macam apa yang dibayangkan pasca pandemi Covid-19? Diskusi kali ini masih diampu oleh Haidar Bagir, Penggerak Islam Cinta sekaligus Pimpinan Penerbit Mizan dan dipandu oleh Husni Mubarok, Peneliti PUSAD. Diskusi dilaksanakan pada Jumat, 8 Mei 2020 dengan peserta sebanyak 140 orang. Diskusi ini diselenggarakan via aplikasi telekonferensi Zoom dan disiarkan langsung di kanal Youtube PUSAD Paramadina.

Haidar Bagir memulai diskusi dengan mengutip dua buku yang ditulis oleh E.F Schumacher yaitu Small is Beautiful dan A Guide for the Perplexed. Dalam buku yang pertama, Schumacher ingin menyadarkan bahwa manusia sebenarnya bukan makhluk fisik saja, namun juga makhluk spiritual. Kemudian ia menyelingi dengan pendapat Teilhard de Chardin seorang filsuf Perancis yang mengatakan bahwa manusia bukanlah makhluk fisik yang mendapatkan pengalaman spiritual, melainkan makhluk spiritual yang mendapatkan pengalaman fisik.

Haidar juga memperkuat argumentasinya dengan mengutip al Qur’an, laqad khalaqna alinsana fii ahsani taqwiim (At-Tin: 4) yang ia artikan, “manusia adalah sebaik-baiknya bentuk karena ada di maqom tertinggi yaitu maqom ruhani”. Dari maqom tertinggi itu manusia diturunkan ke tempat yang serendah-rendahnya, tsumma radadnahu asfala safiliina (At-Tin: 5). Di antara martabat itu lengkapnya ada martabat ketuhanan, martabat ruhani, martabat malquti, barzahi, dan alam khalq (alam empiris). Manusia berasal dari alam tertinggi, karena merupakan tajali allah, namun setelah diciptakan di alam tertinggi, manusia diturunkan ke alam terendah (empiris).

Dalam buku A Guide for the Perplexed, Schumacher ingin mengingatkan bahwa yang harus dikejar manusia dalam kehidupan sejatinya bersifat spiritual; tujuan manusia tidak mungkin bisa dicari di alam empirik karena manusia adalah makhluk spritual yang tidak mungkin terpuaskan oleh sesuatu kecuali itu bagian dari alam spritual. Kemudian dalam buku Small is Beautiful, Schumacher juga melakukan kritik terhadap peradaban yang materialistik, namun pernyataan itu tidak diartikan sebagai sikap anti dunia materialistik. Kritik itu dibangun untuk meletakkan dunia materialistik secara proporsional. Demikian juga dengan Islam yang tidak menolak ke duniawian, dalam Islam spiritualitas bisa didapatkan lewat karier di dunia. “Buku ini terbit 40 tahun sekian yang lalu, namun buku ini betul-betul meramalkan dengan baik kejadian hari ini,” kata Haidar.

Kemudian Haidar menjelaskam perbedaan antara tujuan hidup dan sarana untuk mencapainya yang sejauh ini banyak disalahpahami. Menurut Pimpinan Penerbit Mizan ini tujuan hidup manusia adalah kebahagiaan. Selama ini banyak yang menganggap bahwa kemakmuran dan kebahagiaan itu sama, padahal tidak. Kemakmuran yang ditempatkan pada tujuan akan membuat tujuan sesungguhnya, yaitu kebahagiaan akan semakin sulit tercapai. Kemakmuran yang sekarang banyak dipahami adalah sesuatu yang besar, banyak, cepat, dan materialistik. Kondisi tersebut seolah-olah benar padahal kita mengacaukan antara tujuan dan sarana.

Dalam bukunya, Schumacher memberikan salah satu contoh negara yang mengejar kebahagian ketimbang kemakmuran, Burma atau Myanmar. Schumacher menilai pola hidup masyarakat Burma yang lebih mementingkan spiritualitas menandai kebahagian hidup yang ingin dicapai. Namun, kondisi yang sekarang terjadi di Myanmar pun tidak seperti yang digambarkan Schumacher 40 tahun silam, sehingga tidak bisa lagi dijadikan representasi negara yang mengejar kebahagiaan hidup. Haidar memberikan contoh negara lain dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di dunia, yaitu Bhutan. Haidar menilai negara itu menjadikan kebahagian sebagai tujuan hidup masyarakatnya, bukan sesuatu yang besar dan cepat seperti peradaban manusia sekarang yang memuja segala yang besar dan cepat.

Menurut Haidar, peradaban yang serba cepat beresiko menyebabkan kerusakan yang luar biasa, karena intervensi atau invasi kita terhadap alam terlalu besar sehingga tidak memberikan kesempatan kepada alam untuk mencapai keseimbangan baru. Selain alam yang butuh keseimbangan, jiwa manusia juga butuh keseimbangan. Jiwa manusia itu butuh keindahan, kelembutan, dan butuh mendapati tanda-tanda spiritual yang masih murni seperti dari tumbuhan dan lautan yang jernih. “Jadi merusak alam sama saja merusak jiwa kita sendiri, bukan hanya kerusakan fisik tapi kerusakan psikologis dan spiritual,” tuturnya.

Peradaban yang serba materialistik dibangun dengan memanipulasi nafsu-nafsu rendah manusia. Manusia dibanjiri produk baru dan fasyen baru, demi memuaskan keserakahan sekelompok orang. Maka bukan saja peradaban ini mengandung benih penghancuran dirinya, tetapi di dalamnya mengandung benih penindasan sekelompok orang kepada kelompok lain yang pada akhirnya membuat manusia semakin jauh dari kebahagiaan.

Haidar menengarai peradaban yang terbangun saat ini mengalami reduksi dalam tiga filsafat sains yaitu, reduksi ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

Secara ontologis, manusia sudah memisahkan dirinya dengan alam semesta dan menganggap dirinya menguasai alam sehingga bisa berbuat sekehendaknya. Padahal menurut Haidar semua makhluk itu bersaudara karena berasal dari satu wujud atau tajali nya Tuhan, dan berbeda level saja. Maka apabila terjadi kerusakan terhadap alam semesta jiwa manusia pun ikut rusak. Secara epistemologis, peradaban modern memisahkan antara subjek dan objek, padahal epistemologi tradisional tidak memisahkan keduanya. Dan secara aksiologis, aspek etika dan estetika jauh tertinggal dari teknologi.

Pandemi Covid-19 ini adalah kehendak Yang Maha Kuasa untuk memberhentikan sejenak perkembangan yang serba besar dan seolah-olah tidak tertahan. Manusia diminta untuk berpikir dan merenung, bahwa ada cara hidup lain yang lebih tenang dan supaya alam terjamin kelestariannya. Alam semesta mendapatkan kesempatan untuk hidup sebagaimana mereka harus hidup, tidak seperti saat diserbu oleh kehidupan manusia. Semua ini akan tercapai kalau ada kesadaran kolektif umat manusia. Tanpa kesadaran kolektif tidak akan memberikan dampak apa-apa, setidaknya harus ada banyak kelompok manusia yang berhasil mendapatkan hikmah dan kesadaran dalam lokalitas tertentu. Agamawan dan saintis perlu mengkonservasi hikmah ini dalam bentuk buku, ceramah, atau poadcast untuk mengawetkan ingatan agar memperbesar peluang manusia untuk mendapatkan tujuan kebahagiaan hidupnya.

 

 

 

 

 

 

No Comments

Post A Comment

%d blogger menyukai ini: