[Ringkasan Artikel RISOS #3] MENEGUHKAN LAGI PERAN AKAL, KEBEBASAN DAN TOLERANSI: MEMPERTIMBANGKAN TAWARAN MUSTAFA AKYOL 🗓

[Ringkasan Artikel RISOS #3] MENEGUHKAN LAGI PERAN AKAL, KEBEBASAN DAN TOLERANSI: MEMPERTIMBANGKAN TAWARAN MUSTAFA AKYOL 🗓

Reading in Social Sciences (RISOS) #3

MENEGUHKAN LAGI PERAN AKAL, KEBEBASAN DAN TOLERANSI:
MEMPERTIMBANGKAN TAWARAN MUSTAFA AKYOL
Jumat, 25 Maret 2022, pukul 14:00-16:00 WIB.

Ringkasan Buku

Judul: Reopening Muslim Minds: A Return to Reason, Freedom, and Tolerance
Penulis: Mustafa Akyol
Penerbit: ST. Martin’s Essentials, 2021
Tebal: v + 298 halaman

Dalam buku ini, Akyol mengulas bagaimana perkembangan sejarah pemikiran Islam
berpengaruh pada kemajuan dan kemunduran peradaban Islam. Akyol menjelaskan bahwa
sejarah awal islam ditandai oleh kontestasi di antara dua aliran etika yang disebutnya “teori
perintah ilahi” dan “teori objektivisme etis”. Aliran etika yang pertama berkembang terutama
dalam bentuk Aliran Asy’ariyah, satu aliran teologi Sunni yang menekankan kewenangan
mutlak kitab suci dan ulama (sarjana agama).
Akyol mengulas bagaimana aliran Asy’ariyah tumbuh menjadi aliran teologi yang dominan
dalam sebagian besar sejarah Islam bukan karena kekuatan argumentasinya, tetapi karena
dukungan para pemimpin otoritarian kepadanya. Hal ini disebabkan oleh kesamaan
kepentingan di antara elite politik dan agama yang memutuhkan kepatuhan mutlak rakyatnya
dalam memerintah. Pemaksaan kehendak penguasa dijustifikasi menggunakan interpretasi teks
keagamaan yang menguntungkan kepentingan elit tertentu. Menurut Akyol, kecenderungan ini
terus bertahan di masa modern, di mana aliansi pemimpin otoriter dan ulama konservatif terus
membungkam kebebasan dengan mengatasnamakan perintah Tuhan.
Di sisi lain, “objektivisme etis” diusung oleh aliran yang disebut sebagai Mu’tazila. Aliran ini
menekankan pentingnya menggunakan akal dan rasionalitas berpikir dalam menginterpretasi
teks ilahi. Prinsip keterbukaan pada pemikiran kritis juga mendorong umat Muslim untuk tetap
menggunakan nurani atau conscience dalam diri masing-masing dalam menentukan baik dan
buruk. Alih-alih terjebak pada pemahaman teks ilahi secara literal, aliran ini menekankan
pentingnya melihat konteks dan merayakan reason. Keterbukaan pemikiran ini merayakan
upaya untuk mencari ilmu pengetahuan baru yang pada gilirannya melahirkan banyak ilmuwan
maupun filsuf Muslim yang buah pikirannya berkontribusi pada kemajuan peradaban manusia
hingga sekarang.

Akibat pemikirannya, banyak pemikir Islam dari kedua aliran di atas yang mengalami
persekusi pada periode sejarah tertentu. Namun pada akhirnya Akyol menunjukkan bagaimana
warisan pemikiran Asy’ariyah saat ini lebih mendominasi banyak institusi keagamaan di
negara-negara Muslim dan berdampak pada pembungkaman ulama yang tidak sependapat
dengannya dengan tuduhan “kesesatan” atau heresy. Akyol mendemonstrasikan bagaimana
kecenderungan untuk menyebut pemikiran yang berbeda sebagai “sesat” membunuh budaya intelektualisme dan keterbukaan menerima kebenaran dari peradaban lain.
Melalui kajian historis, Akyol menunjukkan bagaimana pembungkaman terhadap aliran
apapun (khususnya Mu’tazila) berpengaruh pada stagnasi bahkan kemunduran peradaban
Islam. Tradisi pembuktian kebenaran melalui cara-cara yang etis, rasional dan saintifik
dianggap tidak penting atau bahkan membahayakan keimanan seorang Muslim. Islam yang
ketika pertama kali turun membawa nilai-nilai kemanusiaan seperti pemenuhan hak kelompok
lemah dan minoritas, kesetaraan gender, toleransi, dan keadilan sosial justru mengalami
kemunduran. Akyol mendorong agar kaum Muslim mereguk kembali nilai-nilai pencerahan,
yang pernah menjadi landasan kokohnya peradaban Islam (yakni penghormatan atas akal dan
pikiran, kebebasan, dan toleransi), berdasarkan sumber-sumber tradisi Islam sendiri.
Sambil mengklarifikasi berbagai aspek dari kandungan Al-Qur’an dan sejarah Islam yang
sering disalahpahami, Akyol mengajak para pembacanya untuk menengok kembali warisan
para pemikir Muslim awal yang menghargai tinggi akal dan pikiran, sains dan teknologi,
kebebasan dan tanggung jawab individual manusia sebagai makhluk Tuhan, khususnya
sumbangan pemikiran filsuf Muslim abad ke-12 Ibn Rusyd.

Akyol menggarisbawahi pentingnya menerapkan nilai-nilai ini untuk meneguhkan kembali
peradaban Islam. Ringkasnya, seraya mengutip satu ayat Al-Qur’an, Akyol menulis: “The big
remedy we need … is really having ‘no compulsion in religion.’ It is, in other words, giving up
coercive power in the name of Islam. … This means no more religious and moral policing, no
threats to apostates and ‘innovators,’ no blasphemy laws, no public flogging or stoning, and
no violence or intimidation in the family.”***

Scheduled ical Google outlook Artikel Jurnal