Dari Pesimis Menuju Optimis: FoRB Mediator Juru Damai Untuk Dunia

Dari Pesimis Menuju Optimis: FoRB Mediator Juru Damai Untuk Dunia

Oleh Orien Effendy, S.H., M.H.
(alumni pelatihan mediasi Nusa Tenggara Barat)

 

Dari Pesimis Menuju Optimis: FoRB Mediator Juru Damai Untuk Dunia

 Orien Effendi, S.H., M.H.

“Salam Damai” setidaknya itulah yang sangat melekat di pikiran setelah mengikuti pelatihan mediasi selama lima hari di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Pelatihan mediasi ini diselenggarakan oleh Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina bekerjasama dengan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Awal cerita dimulai dari teman kuliah S3 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang membagikan pamflet pengumuman pendaftaran pelatihan mediasi yang diadakan oleh PUSAD Paramadina untuk aktor lintas agama dan masyarakat sipil di Nusa Tenggara Barat.

Sebagai seorang yang masih baru dan belum memiliki banyak relasi, saya jarang mengetahui tentang pelatihan semacam ini. Meskipun sebelumnya saya sudah cukup banyak mendapatkan informasi tentang pelatihan yang diselenggarakan oleh universitas, namun di luar itu, pengetahuan saya masih sangat terbatas. Untungnya, rekomendasi dari teman kuliah membawa saya pada pelatihan mediasi yang luar biasa yang diadakan oleh PUSAD Paramadina.

Saya mendaftar melalui tautan formulir yang tertera di pamflet pengumuman. Meski dalam proses mengisi data pendaftaran, saya sempat terhenti karena harus melampirkan surat rekomendasi dari organisasi atau lembaga. Sebagai seorang mahasiswa, saya berpikir apakah surat rekomendasi dari ketua program studi bisa memenuhi syarat. Setelah berpikir selama seminggu, saya akhirnya meminta surat rekomendasi tersebut dua hari sebelum batas akhir pendaftaran. Dengan berbagai dokumen yang telah diisi di formulir pendaftaran, saya menunggu pengumuman peserta yang lolos seleksi administrasi.

Pelatihan mediasi yang diadakan oleh PUSAD Paramadina ternyata tidak berbiaya, yang menjadikan banyak peminat. Menurut informasi dari panitia PUSAD Paramadina pendaftar mencapai tujuh puluh orang dan hanya beberapa puluh orang yang lolos seleksi administrasi untuk mengikuti tahap berikutnya. Dalam tahap ini, saya termasuk salah satunya.

Pada akhirnya, pengumuman tiga puluh peserta yang lolos diumumkan, dan nama saya ada di dalamnya. Saya merasa bersyukur, bahagia, dan juga gugup dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa saya akan terpilih. Saya menceritakan hal ini kepada rekan-rekan, dan mereka memberikan pujian serta apresiasi. Saya merasa beruntung bisa menjadi bagian dari pelatihan bergengsi ini.

Meskipun jarak yang cukup jauh antara tempat tinggal saya di KEK Mandalika dengan lokasi pelatihan di pusat Kota Mataram, sekitar 59 KM, tidak pernah saya keluhkan. Setiap hari pelatihan mediasi yang diadakan oleh PUSAD Paramadina selalu penuh tantangan dan penasaran, baik dari materi yang diajarkan maupun simulasi yang dilakukan. Semangat untuk belajar dan rasa penasaran setiap hari menjadi dorongan bagi kami, para peserta untuk melibas jarak dan mendapatkan ilmu yang berharga dari pelatihan ini.

Beberapa alasan yang membuat pelatihan mediasi yang diadakan oleh PUSAD Paramadina dianggap sebagai pelatihan terbaik adalah sebagai berikut:

  • Materi pelatihan. Materi yang disajikan sangat komprehensif. Para coach menjelaskan bahwa materi dan durasi pelatihan sebanding dengan pelatihan mediator yang diadakan oleh Mahkamah Agung. Setelah saya menggali informasi lebih lanjut, memang terlihat bahwa kedua pelatihan memiliki materi yang tidak jauh berbeda. Modul ringkasan yang disediakan sangat informatif dan mudah dipahami.
  • Simulasi yang seru. Materi yang diajarkan di pelatihan ini dihadirkan dengan tantangan yang menarik melalui simulasi. Berbeda dengan pelatihan sebelumnya yang cenderung didominasi oleh teori atau materi, pelatihan yang diadakan oleh PUSAD Paramadina menyajikan lebih banyak simulasi yang menonjol. Ini menjadikan pengalaman pelatihan lebih variatif, karena setiap harinya memberikan tantangan yang berbeda bagi para peserta. Kehadiran tantangan-tantangan ini  membuat para peserta selalu bersemangat mengikuti pelatihan, karena mereka selalu dapat menantikan tantangan baru setiap hari.
  • Para coach hebat dan berpengalaman. Para pelatih selama proses pelatihan mampu meredakan ketegangan dan menciptakan suasana yang nyaman. Menurut pendapat saya, semua pelatih dari PUSAD Paramadina berhak diakui sebagai pelatih terbaik dalam mediasi pelatihan ini. Mereka memiliki kecerdasan yang luar biasa, wawasan yang luas, dan ide-ide yang inspiratif. Kemampuan mereka ini terbentuk melalui pengalaman yang kaya, menjadikan mereka mentor-mentor ulung selama pelatihan. Setiap keahlian yang dimiliki oleh masing-masing pelatih saling melengkapi dan mereka saling mengandalkan satu sama lain. Para pelatih bekerja dengan cepat, tanpa terlihat merasa lelah, dan memberikan arahan serta penjelasan dengan jelas selama proses pelatihan. Secara singkat, coach dari PUSAD Paramadina adalah yang terbaik yang pernah saya temui.
  • Keberhasilan ice breaking. Saya percaya bahwa pencapaian yang mengatasi rasa jenuh selama pelatihan mediasi oleh PUSAD Paramadina sangat bergantung pada keberhasilan ice breaking. Ini memiliki dampak besar, dan manfaatnya sangat dirasakan oleh para peserta. Jam-jam setelah makan siang sering dianggap sebagai saat-saat di mana rasa kantuk mungkin muncul, namun dengan adanya kegiatan ice breaking, para peserta tetap segar dan semangat. Terlebih lagi, selama lima hari pelatihan, mereka tidak pernah merasa curiga.
  • Mengapa pelatihan ini tidak menjenuhkan? Saya mencoba merangkumnya dalam beberapa hal yaitu sebagai berikut:
        1. Kombinasi teori atau materi dengan latihan keterampilan, dan simulasi dilakukan setiap harinya tanpa terasa memaksa.
        2. Fasilitator mampu menciptakan suasana santai melalui berbagai permainan seru dan kegiatan lainnya.
        3. Setiap peserta diberi kesempatan untuk berbicara, berkat peran tegas para pelatih yang seringkali secara tiba-tiba mengundang peserta berbicara.
        4. Antusiasme dalam menyerap pengetahuan dan melatih keterampilan dari pelatihan mediasi ini begitu tinggi.
        5. Manajemen waktu pelatihan yang sangat baik memastikan kelancaran seluruh sesi.
        6. Tata letak ruangan, ice breaking, dan sistem ARISAN yang menarik serta berkontribusi.
        7. Melalui pengalaman berkelompok dengan rekan atau peserta yang berbeda setiap harinya, para peserta dapat saling mengenal satu sama lain.
  • Disiplin dan manajemen waktu yang terencana. Pengaturan waktu yang terencana selama mediasi pelatihan yang diselenggarakan oleh PUSAD Paramadina sangat efektif, terbukti dari ketegasan panitia, yaitu para pelatih, yang dikenakan sanksi bagi peserta yang datang terlambat. Sanksi diterapkan baik saat peserta terlambat masuk ke tempat pelatihan di pagi hari maupun saat kembali setelah rehat, makan siang, dan kegiatan lainnya. Disiplin ini menjadi faktor kunci yang memastikan pelatihan mediasi berjalan lancar sesuai rencana dari awal hingga akhir.