02 Nov Rahasia Menjadi Pendengar yang Baik
Siti Nurhayati
PUSAD Paramadina
Pernah gak kamu menjadi pendengar untuk curhatan teman, kakak, adik atau siapapun? Terkadang kita merasa yakin bahwa kita sudah menjadi pendengar yang baik. Namun, sadarkah kita bahwa terkadang kita tanpa disengaja melakukan “menolak untuk mendengar”?
Apa sih sebenernya “menolak untuk mendengarkan” itu?
“Menolak untuk mendengarkan” atau dikenal dengan istilah dalam Bahasa Inggris, block to listening bisa diartikan sebagai hambatan atau rintangan yang muncul ketika kita sebagai pendengar. Penutur cerita dalam situasi ini merasa kurang nyaman atau bahkan merasa tidak didengarkan. Ini merupakan suatu hal yang perlu dihindari agar hubungan komunikasi tetap terjaga dengan baik.
Menjadi pendengar yang baik bukan hanya sebatas mendengarkan kata-kata, tetapi juga tentang menghargai perasaan, motivasi, dan konteks di balik cerita yang disampaikan. Saya belakangan semakin menyadari bahwa perilaku block to listening sangat menghambat dalam hubungan komunikasi.
Berikut jenis-jenis block to listening:
- Menyela
“Tapi, tunggu dulu. Aku juga pernah mengalami hal yang sama,” demikian kalimat yang meluncur dari mulutku menyela penutur ketika bercerita. Saya tiba-tiba saja ingin membagikan pengalaman serupa yang pernah saya alami dan menganggap cerita saya itu relevan. Setelah itu, teman saya tidak melanjutkan cerita dan malas mendengar komentar yang saya berikan.
Saya belekangan menyadari bahwa menyela degan cara itu bukan hanya perilaku yang tidak sopan, namun saya juga tidak memperoleh keutuhan cerita penutur. Menjadi pendengar yang baik berarti menghargai penutur cerita dengan cara mendengarkan seluruh cerita sebagaimana dia rasakan.
- Membantah
Saya cukup sering memotong pembicaraan dengan kalimat, “Maaf, tapi menurutku itu tidak benar”, ketika mendengar cerita seoran teman. Rupanya, ungkapan ini tidak hanya merusak suasana hati teman saya, tetapi juga membuat ia enggan melanjutkan ceritanya. Bahkan kemarahan terkadang semakin memuncak setelah mendengar penyataan tersebut. Perilaku membantah harus kita hindari ketika mendengarkan orang lain bertutur masalah yang tengah dihadapi.
Saya berusaha untuk tidak lagi menggunakan potongan kalimat tersebut karena menyadari bahwa hal itu sangat mengganggu proses komunikasi. Menyadari hal ini, kini saya berusaha keras menciptakan suasana nyaman dengan tidak membantah omongan penutur. Dengan begitu, saya berarti menghormati pandangan orang tersebut dan memberikan dukungan dalam setiap percakapan.
- Menjawab
Cerita belum selesai, bahkan penutur cerita belum menyampaikan apa yang menjadi keinginannya, tiba-tiba saya menjawab “Aku tahu solusi yang baik untuk masalahmu”. Bayangkan, bagaimana reaksi penutur cerita ketika mendengarnya. Sebagai pendengar yang baik, kita seharusnya tidak menjawab dengan cepat dan reaktif ketika penutur cerita tidak meminta tanggapan pendengar. Menjawab secara spontan belum tentu sesuai dengan yang diinginkan oleh penutur cerita.
Jangan-jangan, penutur memiliki jawaban dan solusi sendiri. Tugas kita hanya mendengarkan. Dia tidak membutuhkan jawaban kita. Dia hanya ingin unek-uneknya didengarkan. Saya berusaha keras untuk tidak lagi menjawab setiap cerita. Saya biarkan dia merasakan kenyamana dalam bertutur.
Dengan menerapkan tips-tips ini, saya merasakan perubahan positif dalam hubungan komunikasi dengan orang lain. Semoga pengalaman ini juga dapat bermanfaat untuk teman-teman yang ingin menjadi pendengar yang baik. Mari kita terus belajar dan tumbuh bersama.