Orang Berkebutuhan Khusus pun Bisa Menjadi Mediator

Orang Berkebutuhan Khusus pun Bisa Menjadi Mediator

Oleh: Muhammad Rhaka Katresna (Balad Kawit Seja)

 

Nama saya Rhaka dan saya tinggal di Bandung. Saya selalu tertarik untuk belajar tentang mediasi, sebuah proses menyelesaikan konflik dan perselisihan melalui dialog dan negosiasi. Namun, sebagai orang dengan Autisme dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), saya menghadapi banyak tantangan dan hambatan dalam mengejar minat saya. Saya sering merasa salah dipahami, lalu dihakimi dan ditolak oleh orang lain yang tidak menghargai perspektif dan kemampuan saya yang unik. Saya juga kesulitan dengan keterampilan sosial, komunikasi, dan pengaturan diri, yang membuat saya sulit untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelompok dan berinteraksi dengan orang-orang dari latar belakang dan budaya yang berbeda.

Latar di atas membuat saya sangat terkejut dan senang ketika menerima kabar bahwa saya diterima sebagai peserta pelatihan mediator lintas iman, yang diselenggarakan PUSAD Paramadina dan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). PUSAD Paramadina adalah sebuah pusat penelitian yang fokus pada kajian demokrasi, perdamaian, dan agama, sedangkan PGI adalah sebuah persekutuan gereja-gereja di Indonesia yang mempromosikan ekumenisme, keadilan, dan martabat manusia. Pelatihan ini diadakan dari 16 hingga 20 Oktober 2023, di Bandung, Jawa Barat, dan bertujuan untuk membekali peserta dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan untuk menjadi mediator yang efektif di berbagai konteks dan situasi.

Sempat Khawatir

Saya sangat antusias untuk mengikuti pelatihan ini, tetapi saya juga merasa gugup dan cemas tentang bagaimana saya akan mengatasi lingkungan baru dan harapan dari para pelatih dan peserta lainnya. Saya bertanya-tanya apakah mereka akan menerima saya apa adanya, atau apakah mereka akan menghakimi saya karena kondisi saya. Saya khawatir bahwa saya tidak akan dapat mengikuti instruksi, memahami konsep, atau melakukan tugas. Saya takut bahwa saya akan ditinggalkan, diabaikan, atau diejek oleh orang lain.

Namun, begitu saya tiba di tempat pelatihan, saya menyadari bahwa kekhawatiran saya tidak beralasan. Para pelatih dan peserta lainnya sangat ramah, bersahabat, dan mendukung. Mereka menyapa saya dengan hangat, memperkenalkan diri, dan menanyakan tentang diri saya. Mereka mendengarkan saya dengan penuh perhatian, menghormati pendapat saya, dan menghargai kontribusi saya. Mereka juga membantu saya kapan pun saya membutuhkan bantuan, bimbingan, atau tanggapan. Mereka membuat saya merasa nyaman, percaya diri, dan berharga.

Pelatihannya sangat informatif, menarik, dan menyenangkan. Para pelatih menggunakan berbagai metode dan teknik untuk menyampaikan materi, seperti kuliah, diskusi, simulasi, peran, permainan, dan latihan. Mereka menjelaskan prinsip, teori, dan model mediasi dengan cara yang jelas dan sederhana. Mereka juga mendemonstrasikan keterampilan dan strategi mediasi, seperti mendengarkan aktif, parafrase, ringkasan, reframing, pertanyaan, menghasilkan opsi, dan mencapai kesepakatan. Mereka memberi kami kesempatan yang cukup untuk berlatih dan menerapkan apa yang kami pelajari dalam skenario yang realistis dan relevan. Mereka juga memberi kami umpan balik yang konstruktif dan bermanfaat untuk meningkatkan kinerja dan pemahaman kami.

Berkesan dan Bermakna

Salah satu pengalaman yang paling berkesan dan bermakna bagi saya adalah ketika saya berpartisipasi dalam sesi praktik mediasi dengan dua peserta lainnya. Skenarionya adalah tentang konflik antara dua tetangga karena anjing yang berisik. Saya memainkan peran mediator, sedangkan dua lainnya memainkan peran pihak yang bersengketa. Pada awalnya, saya merasa gugup dan tidak yakin tentang bagaimana menangani situasi itu. Saya takut bahwa saya akan membuat kesalahan, mengatakan hal-hal yang salah, atau gagal menyelesaikan konflik. Namun, ketika saya mengikuti langkah dan tahapan proses mediasi, saya menjadi lebih percaya diri dan nyaman. Saya mampu menjalin hubungan dengan para pihak, mengklarifikasi masalah, mengeksplorasi kepentingan dan kebutuhan mereka, memfasilitasi komunikasi mereka, dan membantu mereka menemukan solusi yang dapat diterima bersama. Saya merasa diberdayakan dan diakui bahwa saya dapat melakukan mediasi untuk komunitas saya.

Pelatihan ini adalah pengalaman yang mengubah hidup saya. Ini tidak hanya mengajarkan saya tentang mediasi, tetapi juga tentang diri saya sendiri. Ini membantu saya untuk mengatasi ketakutan, keraguan, dan ketidakpercayaan diri saya. Ini juga membantu saya untuk mengembangkan kekuatan, potensi, dan kemampuan saya. Ini menunjukkan kepada saya bahwa saya memiliki sesuatu yang berharga untuk ditawarkan kepada dunia, dan bahwa saya dapat membuat perbedaan positif dalam kehidupan orang lain. Ini juga menunjukkan kepada saya bahwa saya tidak sendirian, dan bahwa saya memiliki jaringan teman dan kolega yang mendukung saya dan peduli dengan saya.

Saya sangat berterima kasih kepada PUSAD Paramadina dan PGI yang memberi saya kesempatan ini untuk belajar dan berkembang. Saya juga sangat berterima kasih kepada para pelatih dan peserta lainnya yang membuat pelatihan ini menjadi pengalaman yang indah dan tak terlupakan. Saya berharap untuk tetap berhubungan dengan mereka dan terus belajar dari mereka. Saya juga berharap untuk menggunakan apa yang saya pelajari dalam pelatihan ini untuk melayani komunitas saya dan mempromosikan perdamaian dan harmoni dalam masyarakat. Saya percaya bahwa mediasi adalah alat yang kuat yang dapat mengubah konflik menjadi peluang untuk dialog, pemahaman, dan kerjasama. Saya bercita-cita menjadi mediator profesional yang dapat membantu orang-orang menyelesaikan perselisihan mereka secara damai dan hormat.