Guru Agama Mengalami Perjumpaan Lintas Agama

Guru Agama Mengalami Perjumpaan Lintas Agama

Oleh: Faiz Badridduja

 

Saya berprofesi sebagai guru untuk mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Seperti kebanyakan orang, saya awalnya menganggap biasa saja ilmu mediasi. Namun, lokalatih mediasi di Bogor yang saya ikuti amat bermanfaat dan memberikan pengalaman yang baik. Ilmu dan keterampilan yang saya peroleh dari lokalatih ini justru menyadarkan saya pada pentingnya perdamaian dan relijiusitas, bahkan menuntun ke banyak pengamalan lintas agama.

Saya yakin mediasi bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, dari lingkup keluarga hingga lingkungan kerja. Mediasi memberi jalan tengah, yang tidak ekstrem kiri atau ekstrem kanan, bagi pengelolaan konflik antaragama yang berorientasi pada perdamaian di masa depan. Substansi lokalatih mediasi ini sangat utuh dan menyeluruh. Para pemateri membekali kami dengan aspek teoretis, dari yang paling mendasar yaitu seperti definisi dan tahapan mediasi, hingga analisis konflik, mengelola emosi, peraturan nasional yang berlaku disertai contoh kasus, dan lain-lain.

Namun, porsi terbesar lokalatih ini menitikberatkan praktik atau pengalaman bersimulasi memediasi kasus. Karena itu, perubahan paling signifikan yang saya rasakan adalah ketika mempraktikkan apa yang disampaikan dalam pelatihan ini, seperti mengekpresikan empati menggunakan labelling (menyematkan perasaan), mengubah sudut pandang pembicaraan dari negatif menjadi positif menggunakan paraphrasing (memadatkan pernyataan secara efektif) dan re-framing (membingkai-ulang pernyataan ke arah positif), juga mengelola konflik.

Untuk yang terakhir itu, saya belajar tentang pentingnya bersabar menghadapi kedua pihak yang bersengketa. Sebagai contoh, di sekolah tempat saya mengajar, pernah terjadi perundungan antar siswa yang berdampak pada perselisihan antara guru dan walimurid.

Pengalaman lokalatih ini pun menambah wawasan saya tentang keberagaman, karena pesertanya itu memiliki berbagai latar belakang. Panitia atau fasilitator punya cara cerdas dalam memilih peserta yang tepat. Saya bisa berkenalan baik dengan pemuka agama Hindu di Bogor, Pak Ketut. Saya mengambil manfaat dari cengkerama kami berupa wawasan kehinduan di Bali, ritual masuk Sinduwedani untuk memasuki agama Hindu layaknya syahadat dalam Islam, dan obrolan ringan soal latar beliau yang bersuku Bali dan mau berbagi dengan saya bersuku Sunda. Darinya, saya mengetahui makna nama Ketut yang merupakan nama gelar dalam urutan anak sebagaimana Made, Gede, dan Putu.

Saya juga berinteraksi dengan peserta terfavorit di lokalatih ini, Bu Margaretta. Beliau beagama Katolik dan yang membuat saya kagum adalah perannya yang luar biasa. Beliau bukan hanya ibu bagi anak-anak kandungnya, tapi juga bagi satu orang anaknya yang bungsu yang ia angkat dari orang tua berlatar muslim asal Karawang. Ia mendidik anak bungsunya itu sesuai kebutuhan agama anaknya. Ia mengirim anaknya tersebut ke sekolah dan lembaga pengajian Islam, tidak memaksakan untuk mengikuti Katolik. Ia ajarkan anaknya berpuasa di bulan Ramadhan setiap tahun, mengamalkan shalat secara disiplin, dan kmenjaga komitmen untuk taat pada Tuhannya.

Dari semua itu, saya menyerap banyak manfaat baik dari sisi jaringan, ilmu pengetahuan, pengalaman baru, dan tantangan untuk mengamalkan. Saya mengharapkan hal yang sama dengan Sabda Nabi, Khairu al-Nās anfa’uhum li al-Nās (Sebaik-baik manusia ialah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia). Saya ucapkan banyak terima kasih kepada para coach: Pak Fahmi, Pak Syeh, Kang Husni, Kak Uthe, Kak Aya, Kak Eka, Kak Agung, Kak Nada, juga pihak FKUB Kota Bogor yang terjun langsung jadi peserta: Kang Has, Kyai Mahfud, dan jajarannya. Sebagai penutup, saya tak lupa juga berterima kasih pada teman-teman peserta yang hangat menyambut: Mbak Alifa, Ka Anisa, Teh Ai, Teh Neng Ayu, Mas Alam, serta my buddy, Pak Sutan.