05 Feb From Nothing to be Something: Perjalanan Pelatihan Mediasi yang Penuh Tantangan
Oleh Irvan Baktiar Lasiro
Pengalaman menarik saya dalam pelatihan mediasi dimulai dari membaca pamflet yang dikirimkan oleh seorang dosen di WAG Sivitas Akademika STT GKST Tentena. Dosenpun sempat bertanya “ada mahasiswa yang mau ikut?”. Karena belum ada yang merespon, maka saya mengirim pesan ke dosen tersebut “ Pak, kalau saya ikut pelatihan mediasi ini, apakah akan ada dispensasi mengenai kehadiran?”. Dosen itu membalas “Ya, Tentu”. Awalnya saya ingin mengurungkan niat untuk mengikuti pelatihan tersebut, tetapi ketika pendaftaran akan ditutup, dosen itu ngechat saya, “Irvan, jadi ikut?”. Lalu, saya membalas “Tidak, Pak. Soalnya domisilinya harus wilayah Kabupaten Poso. Dosen itu berkata “ Daftar saja”. Meskipun awalnya ragu, saya akhirnya mendaftar setelah mendapat izin dari Sivitas mengenai kehadiran di kampus. Proses pendaftaran menjadi lebih meyakinkan setelah mendapatkan dukungan penuh dari dosen dan teman-teman.
Saat proses seleksi online, Saya diwawancarai oleh Coach Uthe, seorang trainer dari PUSAD Paramadina. Wawancaranya berjalan dengan baik tanpa ada hambatan, walaupun saya berbeda dengan peserta lain yang fasih lidah. Setelah selesai wawancara, saya pesimis dan berasumsi kalau saya tidak akan lulus. Tetapi, saya bersyukur. Saya mendapatkan dukungan dari Kak Jekson. Nah, setelah beberapa hari menunggu, tiba-tiba masuk pesan dari admin PUSAD Paramadina. Tak disangka, saya berhasil dinyatakan lulus. Saya bahagia sekali. Mendengat hal itu, dosen saya pun senang sampai-sampai harus diumumkan di ibadah kampus. Pada tanggal 10 November 2023, peserta terpilih bertemu lagi secara online untuk melakukan orientasi pelatihan. Lalu, dijelaskan rundown kegiatan mulai dari tanggal 14-18 November 2023. Pada part ini cerita sesungguhnya akan dimulai.
Pelatihan dimulai pada tanggal 14 November 2023, di kantor Sinode GKST. Awalnya, Saya merasa senang bertemu peserta lain meskipun baru pertama kali bertemu rasanya seperti sudah kenal lama. Kegiatan pembukaan diawali dengan sarapan pagi dan materi perkenalan. Serangkaian kegiatan menarik dan permainan perkenalan membuat suasana semakin seru.
Sampailah pada sesi simulasi dimulai dengan Segitiga Atas dan Bawah, yaitu Sambutan Mediator. Saya mengira bahwa hanya akan diberi arahan, ternyata harus tampil satu-satu di depan peserta lain dan para coach. Meskipun gugup saat tampil di depan peserta dan coach. Pertama kali, saya menerima feedback yang baik dari Coach Aya. Hari berikutnya, simulasi mediasi di Dodoha Mosintuwu membuatnya belajar tentang teknik DUT (Dengar, Ulang, Tanya), yang terasa sangat sulit pada awalnya. Namun, saya bisa melewatinya.
Hari berikutnya, saya mengalami tantangan berat dan ingin menyerah. Pada tahap ini, saya dengan Ibu Pdt. Herlina (peserta) menjadi mediator dan co-mediator untuk menyelesaikan Segitiga Atas. Waktu itu, Coach Uthe sebagai pengajarnya. Selama simulasi saya tidak mampu berkata-kata. Pada saat cerita para pihak, suasananya berubah sekali. Rasa tegang, gugup, keringat dingin. Saya mau menyerah saja. Tapi, dukungan dari Kak Mey (peserta) dan kawan-kawan yang lainnya membantu untuk tetap semangat.
Sampailah pada hari terakhir, yang dikenal sebagai single fighter. Saya harus menyelesaikan tahap Segitiga Atas dan Bawah sekaligus. Sebelum saya menjadi mediator dalam simulasi, saya berperan sebagai pihak dan juga observer. Menjadi para pihak dan observer ini mudah saja. Tetapi, ketika menjadi mediator segalanya berubah. Saya berusaha untuk percaya diri lagi, tapi masih susah. Seringkali saya dibantu untuk menyelesaikan tahap-tahap yang sulit. Saya jadi pesimis dan ingin cepat selesai. Meskipun mengalami kesulitan, feedback positif dari para coach membuatnya semakin termotivasi. Saya semakin semangat untuk belajar lebih keras lagi.
Beberapa saat kemudian, ujianpun dilaksanakan pada tanggal 27 November 2023. Saya sudah melakukan beberapa persiapan, mulai dari berlatih bersama teman, menonton video, dan membuka selebaran kertas yang diberikan pada saat simulasi. Meskipun gugup dan gelisah, saya berhasil menyelesaikan ujian dengan penguji Coach Aya dan Coach Uthe. Saya mendapatkan feedback positif dan hal tersebut membuat saya semakin semangat untuk terus belajar.
Saya merefleksikan pengalaman pelatihan mediasi ini sebagai perjalanan pengetahuan yang berharga. Sesuai judul tulisan saya From Nothing ti be Something artinya dari yang tidak tahu apa-apa (nol) menjadi punya pengetahuan tersendiri yang harus dibagikan kepada orang lain. Saya berangkat dari mata kuliah Konseling Pastoral pada semester empat lalu, yang hanya terfokus pada teori saja. Ketika mengikuti pelatihan ini, saya dapat mengkombinasikan tehnik-tehnik simulasi yang diajar dan dipraktekkan dengan proses pendampingan pastoral. Pengalaman ini sangat berharga bagi saya, dari saat ini sampai ke depannya. Saya berkomitmen untuk terus mengasah keterampilan yang didapatkan dan mengaplikasikannya untuk jemaat. Saya berterima kasih kepada PGI dan PUSAD Paramadina, serta para coach dan teman-teman peserta yang selalu memberikan dukungan positif dan motivasi. Terkhusus untuk coach Aya yang selalu memotivasi saya untuk terus bertumbuh menjadi baik. Terima kasih semua, semiga sehat selalu.
*) Irvan Baktiar Lasiro adalah alumni Fellowship Pelatihan Mediasi di Sulawesi Tengah