05 Feb Harmoni di Tanah Poso: Negosiasi Pernikahan Lisa dan Teguh
Oleh Jekson Molodu
Cerita ini dimulai dari simulasi pelatihan mediator di Sulteng pada tahun 2023, di mana sebuah masalah menarik muncul dalam perencanaan pernikahan pasangan kekasih, Lisa dan Teguh. Lisa, seorang make-up artist, menerima surat wasiat dari almarhum ayahnya, yang meminta pernikahan mereka berlangsung meriah dan menyediakan daging babi panggang untuk saudara-saudara ayahnya yang non-Muslim.
Ketika Lisa menyampaikan permintaan tersebut kepada Teguh, seorang guru honorer yang taat beragama, konflik pun muncul. Teguh menolak. Sebab, menurutnya pesta yang mewah hanya akan membuang-buang uang. Lagi pula, Teguh hanyalah seorang honorer yang tidak seberapa gajinya. Teguh juga menolak untuk menyediakan babi panggang. Keluarga dari Teguh adalah muslim yang taat. Mana mungkin menyediakan makanan yang dilarang agama.
Peran Teguh dan Lisa dimainkan dengan sangat baik oleh para peserta pelatihan mediator, yang merupakan para tokoh dari berbagai latar agama. Hal yang menarik, dalam cerita Lisa tetap ingin menjakankan permintaan terakhir ayahnya dan Teguh tetap pada prinsip agamanya.
Proses negosiasi dimulai, dengan para pihak diminta untuk mengutarakan opsi kesepakatan bersama. Meskipun terdapat perbedaan keyakinan agama, para peserta memerankan karakter masing-masing dengan penuh pemahaman dan toleransi. Hasilnya, sebuah kesepakatan unik tercapai. Misalnya, “ok… daging babi panggang boleh ada, tapi harus disimpan dilantai tiga” kata Teguh yang diperankan oleh seorang pendeta. Tapi, Lisa yang diperankan peserta muslim menyarankan “Daging panggang dapat disimpan ditempat terpisah selain lantai tiga, soalnya nanti depe miyak mo manetes”. Percakapan yang diwarnai dengan candaan ini membawa suasana riang dan memecahkan ketegangan.
Percakapan tentang daging babi panggang ternyata menjadi topik yang membawa keharmonisan para peserta, bahkan sampai pada hari terakhir pelatihan. Keberagaman agama tidak menjadi penghalang, melainkan justru membantu membangun pemahaman dan toleransi di antara mereka.
Kisah Lisa dan Teguh mewakili banyak kisah serupa di Poso, di mana kehidupan bersaudara dan saling menghargai menjadi nilai yang dijunjung tinggi. Meskipun dalam ruang privat agama masing-masing mungkin ada perbedaan, namun dalam kehidupan bersama, mereka adalah saudara yang hidup berdampingan.
Seolah menggambarkan semangat Poso masa depan, cerita ini menyiratkan visi tentang sebuah Poso yang penuh persaudaraan, keadilan, dan kedamaian. Babi panggang yang awalnya menjadi sumber konflik, ternyata mampu membongkar sekat-sekat pemisah, membawa tawa dan kebijaksanaan dalam mewujudkan perdamaian di tanah bekas konflik kemanusiaan tersebut.
*) Jekson Molodu adalah alumni Fellowship Pelatihan Mediasi di Sulawesi Tengah