05 Feb Perubahan Menjadi Mediator: Membawa Harapan Bagi Sesama
Oleh: Velma Riri Bambari
Halo, perkenankan saya untuk berbagi cerita yang tumbuh dari motivasi pribadi saya sendiri. Sebelumnya, izinkan saya memperkenalkan diri, saya adalah Velmariri Bambari, berasal dari sebuah desa terpencil di Lembah Bada Desa Gintu. Saya adalah seorang aktivis dan pegiat kemanusiaan, khususnya dalam perlindungan perempuan dan anak-anak. Sebagai seorang difabel yang menggunakan tongkat, saya hidup dengan moto bahwa kekurangan bukanlah hambatan untuk berkarya bagi sesama.
Pekerjaan saya fokus pada pendampingan terhadap korban kekerasan fisik dan psikis, kekerasan seksual, penelantaran ekonomi, korban KDRT, serta pendampingan terhadap perempuan yang mengalami diskriminasi. Saya melakukan semua ini dengan ketulusan dan keikhlasan untuk selalu membantu sesama. Dalam pekerjaan ini, saya menggunakan ilmu advokasi dan paralegal sebagai alat untuk membela hak-hak mereka.
Meski begitu, seringkali saya harus menangani kasus pertengkaran antar tetangga yang memerlukan pendekatan mediasi. Melalui peran saya sebagai penengah, saya berusaha memberikan solusi dan saran agar pihak yang bersengketa dapat menyelesaikan masalah dengan meruntuhkan kepercayaan diri mereka terhadap solusi yang saya tawarkan.
Setelah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh PGI dan PUSAD Paramadina di Tentena Kabupaten Poso selama 5 hari, saya merasa sangat terkesan dengan ilmu yang diberikan, terutama dalam penguasaan keterampilan mediasi. Pelatihan ini benar-benar memberikan pandangan baru dan berbeda dari apa yang selama ini saya lakukan.
Poin yang paling menarik bagi saya adalah pentingnya seorang mediator untuk dapat menahan diri, tidak bersikap asumsi, dan mematuhi kode etik mediator, terutama ketidakberpihakan. Konsep kesetaraan juga memberikan kesan mendalam dan tertanam kuat di dalam hati saya. Hal ini membuat saya menyadari bahwa sebagai mediator, saya harus melepaskan identitas pendamping dan advokator, dan berdiri sebagai mediator yang profesional, tunduk pada ilmu dan keterampilan khusus, serta menjunjung tinggi kode etik.
Perubahan yang paling mencolok dalam hidup saya setelah pelatihan ini adalah kemampuan saya untuk merubah pola pikir saya yang seringkali bersifat asumsi, terutama sebagai seorang difabel. Semua asumsi negatif harus dibuang, dan saya kini melihat masa depan dengan pandangan bahwa hidup ini harus bermanfaat bagi sesama.
Saya kini lebih bersemangat menjalani hari-hari dengan kolaborasi ilmu yang saya peroleh, dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi sesama di sekitar saya, bangsa, dan negara secara umum. Terima kasih PGI dan PUSAD Paramadina, karena pelatihan ini telah mengubah hidup saya menjadi lebih baik.
Trimakasihl🙏🙏🙏🙏
*) Velma Riri Bambari adalah alumni Fellowship Pelatihan Mediasi di Sulawesi Tengah