09 Okt Pra dan Pasca Lokalatih: Introspeksi Diri Setelah Mediasi
Oleh: Alifa Ardhyasavitri – PUSAD Paramadina
Bagi saya, kata mediasi atau mediator bukanlah istilah yang asing. Saya sudah mengenal kedua istilah ini sejak tahun pertama perkuliahan, bersamaan dengan istilah lain seperti negosiasi, diplomasi, dan advokasi. Meskipun begitu, penjelasan mengenai mediasi hanya berada pada garis besarnya dan tidak masuk secara lebih dalam. Belum ada materi khusus tentang mediasi, apalagi hingga pelaksanaan praktiknya.
Ketika hari pertama berakhir, meskipun materi yang didapat masih 100% teori, saya langsung merasakan perbedaannya, terutama dalam persepsi saya mengenai mediasi. Melalui lokalatih ini, banyak sekali keterampilan mediasi yang membuat saya bertanya ulang kepada diri sendiri, salah satunya adalah teknik Dengar-Ulang-Tanya (DUT). Saya selalu berpikir bahwa saya adalah orang yang pandai mendengarkan orang lain, tapi sekarang saya mempertanyakan lagi, dulu saya benar-benar mendengarkan orang yang cerita ke saya tidak sih? Mendengar aktif ternyata bukan sekadar mendengarkan, tapi justru harus merespons balik. Setelah lokalatih selesai, saya menjadi lebih sering melatih mendengar aktif secara sadar, yang pada akhirnya membuat saya lebih hadir dalam percakapan atau interaksi dengan orang lain.
Saya juga baru menyadari seberapa banyak pertanyaan yang bisa digali dalam satu sesi mediasi—dan betapa susahnya proses tersebut. Dalam proses yang berorientasi menang-menang seperti mediasi, saya tahu kalau prosesnya harus kreatif dalam mengambil sudut pandang dan mengajukan pertanyaan. Ketika dipraktikkan, hal tersebut jauh lebih susah. Sudah dibekali teori dan berbagai kiat saja masih susah, apalagi kalau belum dapat ilmu dasarnya!
Lewat lokalatih kemarin saya juga bertemu peserta lain dari berbagai latar belakang bidang dan hal itu membuat saya sadar bahwa mediasi adalah suatu proses yang sangat versatile. Proses mediasi bisa diaplikasikan ke sengketa dalam berbagai topik dan bidang. Lokalatih Bogor ini membantu “membumikan” mediasi di mata saya sekaligus menggambarkan proses yang akan dilalui di dunia nyata. Tentu semuanya tidak akan semulus simulasi yang dilakukan kemarin, tapi paling tidak kami sebagai peserta sudah menapakkan langkah pertama dalam menjadi (calon) mediator handal dan membantu menumbuhkan perdamaian di bidang masing-masing.
Terima kasih PUSAD Paramadina dan PMN atas ilmu dan kesempatan untuk belajarnya!