“Tiap Hari Asyura, Tiap Bulan Muharram”: Paradigma Karbala dan Protes Politik Kaum Syi`ah

“Tiap Hari Asyura, Tiap Bulan Muharram”: Paradigma Karbala dan Protes Politik Kaum Syi`ah

Kematian Imam Husein: Lahirnya “Paradigma Karbala”

Tetapi mengapa kematian Imam Husein begitu bermakna?  Kematian tersebut menjadi begitu penting karena tidak-biasanya kematian itu. Imam Husein wafat dibunuh secara kejam dan mengenaskan oleh Yazid, penguasa tiranik dari Bani Umayyah, dalam perang yang tak berimbang (artinya: bukan perang, tapi penyerangan sepihak?) di Karbala, pada 680 Masehi.

Cerita kematian di atas perlu dikemukakan secara agak detail. Demikian, karena di sana terletak bukan saja makna historis kematiannya, tetapi juga makna ontologisnya.

Pada tahun 680 itu, konon atas “undangan” dan permintaan-tolong para pengikut Syi`ahnya yang sudah lama diperlakukan secara tidak adil di Kufah, pusat kekuasaan Bani Umayyah yang tumbuh pesat kala itu, Husein berangkat dari kediamannya di Semenanjung Arabia. Didampingi oleh segenap keluarga intinya dan hanya sedikit sisa pengikutnya, ia pergi untuk mengangkat senjata melawan tentara Bani Umayyah, yang olehnya dan pengikutnya dianggap telah merampas haknya sebagai pemimpin kaum Muslim.  Bani Umayyah kala itu sudah berhasil mentransformasikan komunitas Muslim yang dibangun Nabi Muhammad di Mekkah dan Madinah menjadi sebuah kerajaan Arab yang kuat dan terus berekspansi, dengan basis utama terletak di Damaskus, Syria.

Sekalipun menyadari, atau justru karena ia menyadari, sulitnya mengalahkan tentara Bani Umayyah, Husein terus maju. Ia merasa, sudah menjadi kewajiban moralnya untuk bangkit menentang tirani dan ketidakadilan, sekalipun untuk itu ia harus mati.

Demikianlah, sehabis mengumpulkan keluarga dan segelintir sisa pengikutnya yang setia, yang jumlahnya hanya sekitar 70-an orang, Husein berangkat ke Kufah. Tapi rupanya kafilah itu tak perlu pergi sejauh ke Kufah, karena para pemimpin politik kota itu, yang lebih tunduk kepada tekanan Bani Umayyah, melarang Husein dan rombongannya memasuki kota itu. Maka mereka harus berkemah di luar kota itu, di lembah Karbala yang kering dan landai (sekarang terletak di sebelah selatan Irak).  Di lembah itulah mereka dikepung oleh tentara Yazid, yang besar jumlahnya dan kuat, dipimpin Shemr Ibn Sa’d.  Pengepungan itu, yang antara lain memotong akses kafilah Husein ke sumber air terdekat di Sungai Eufrat, berakhir sepuluh hari. Di hari kesepuluh bulan Muharram itu (bertepatan dengan 10 Oktober 680 M.), Shemr dan pasukannya dengan brutal membunuh Husein dan para pengikutnya, seraya menangkapi kaum perempuan dan anak-anak.[‡]

Peristiwa di atas bukan saja telah mengonsolidasikan Bani Umayyah, yang hingga satu abad sesudahnya terus mendominasi Timur Tengah. Hal itu juga telah mengubah apa yang pada satu saat tertentu merupakan gerakan yang murni politik, dengan tujuan merebut kembali kekhalifahan ke tangan keturunan langsung Nabi Muhammad, menjadi sebuah aliran keagamaan baru dalam Islam.  Aliran itu bernama Syi`ah, yang terbentuk berdasarkan gambaran ideal seorang syahid yang, seperti ditunjukkan aksi Imam Husein, secara sadar mengorbankan-diri untuk memperjuangkan keadilan dan meruntuhkan tirani.

Dilihat dari sudut politik, kata Hamid Enayat (1989), ilmuwan politik yang terkenal karena spesialisasinya dalam politik Islam Syi`ah, sedikitnya ada dua alasan mengapa kematian Husein menjadi begitu penting.  Pertama, di antara duabelas imam yang diyakini mayoritas kaum Syi`ah, Husein adalah satu-satunya imam yang mati sebagai akibat dari upayanya untuk mengaitkan klaimnya atas kekhalifahan dengan perlawanan bersenjata.  Kesebelas imam lainnya tidak menempuh pilihan itu: mereka entah memperoleh dan menikmati posisi politik lewat prosedur konstitusional yang reguler (imam pertama dan kedelapan), atau membuat kesepakatan damai dengan penguasa yang ada sesudah terjadi persaingan dan permusuhan terbuka di antara kedua belah pihak untuk periode tertentu (imam kedua), atau mengasingkan diri dari persaingan politik dengan menjalani kehidupan keulamaan yang tenteram, atau – dalam kasus imam yang terakhir – menghilang sebelum menentukan apa yang menurutnya terbaik di antara pilihan-pilihan di atas.

Alasan kedua, unsur kesyahidan dalam drama [kematian di atas] jelas menjadi daya tarik yang kuat bagi semua gerakan Syi`ah yang sedang menentang tatanan politik yang mapan. Karenanya, kata Enayat, “Husein adalah satu-satunya Imam yang tragedinya dapat berfungsi sebagai unsur mitologi yang positif bagi kelompok Syi`ah mana saja yang militan dan sekaligus sedang ditindas” (Enayat, 1989: 52).

Dua alasan di atas menjadikan peristiwa Karbala begitu sentral dalam aktivisme politik Islam Syi`ah. Peristiwa itu kemudian berkembang menjadi, dalam istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh antropolog Michael Fischer (1980: 7-11), “Paradigma Karbala”, sebuah cara pandang di mana kezaliman (Yazid) dilawan dengan kesediaan untuk mati dalam membela keadilan (Imam Husein) yang sangat khas Syi`ah.  Cara pandang inilah yang kemudian digunakan oleh para aktivis politik Syi`ah sebagai sumberdaya kultural yang amat berharga untuk memberi kerangka makna bagi aktivisme politik mereka.  Ini semua dalam rangka menjustifikasi gerakan sendiri, mendeligitimasi kekuasaan musuh, dan menarik dukungan massa, salah satu kunci keberhasilan aksi-aksi kolektif mana pun.