“Tiap Hari Asyura, Tiap Bulan Muharram”: Paradigma Karbala dan Protes Politik Kaum Syi`ah

“Tiap Hari Asyura, Tiap Bulan Muharram”: Paradigma Karbala dan Protes Politik Kaum Syi`ah

Paradoks Ketertindasan dan Kekuasaan: Menafsirkan-Kembali Asyura

Namun demikian, pada tingkat tertentu, pemanfaatan “Paradigma Karbala” yang sama oleh dua kekuatan politik yang saling membunuh seperti didiskusikan di atas mencerminkan sisi paradoksal Syi`ah-isme sebagai sebuah ideologi politik.  Demikian karena, sementara perjuangan Syi`ah, seperti perjuangan kelompok politik mana pun, dimaksudkan untuk memperoleh kemenangan, cita-cita perjuangan itu sendiri – dan di sini terletak sisi paradoksalnya – terus dibangun berdasarkan naratif penderitaan dan pasifisme.  Bukankah kemenangan apa saja, seperti kemenangan Khomeini di dalam membangun Republik Islam Iran, justru akan mendeligitimasi nilai dan makna kematian Husein itu sendiri?  Begitu, karena bukankah keterlibatan langsung ulama dalam politik kekuasaan pada akhirnya akan mengharuskan ulama, kini dengan kemampuan memaksakan pandangan mereka sebagai penguasa, melakukan apa yang dilakukan Yazid terhadap Husein di medan Karbala?

Pertimbangan inilah yang melatarbelakangi upaya sejumlah intelektual Muslim untuk menumbuhkan kesadaran dan pemahaman mengenai tradisi pasifisme, toleransi dan rasionalitas seperti yang – menurut mereka – dicontohkan Imam Husein. Salah satu dari intelektual itu adalah Emad Baghi, sarjana Iran yang pernah dipenjarakan karena tulisan-tulisannya mengenai pembunuhan atas sejumlah kritikus rezim pada tahun 1990. Dalam sebuah wawancara dengan Radio Farda, intelektual yang kini memimpin Organisasi Pembela Hak-hak Terpidana itu menyatakan bahwa kesyahidan Imam Husein harus dilihat sebagai simbol pasifisme dan rasionalitas, bukan simbol tragedi, perlawanan dan revolusi.[§]  Seraya mengeritik tafsir mengenai Asyura seperti sudah didiskusikan di atas, dia menyatakan:

Sejauh ini ada dua pendekatan kepada Asyura: yang emosional dan yang politis. Pada yang pertama, yang dominan selama berabad-abad, unsur tragis Asyura tampil menonjol. Asyura disederhanakan sebagai suatu tragedi.  Dalam pendekatan politis, yang kedua, Imam Husein menjadi simbol perlawanan dan revolusi. Pada yang pertama, Asyura adalah tentang air mata dan simpati; sedang pada yang kedua, Asyura adalah tentang perjuangan untuk kebebasan.  Pendekatan emosional kepada Asyura dan Islam secara keseluruhan disalahtafsirkan. Ini memunculkan ritual-ritual di mana orang menyakiti-diri mereka sendiri. Dalam penafsiran ini, ratapan – dan ekspresi ekstrem tentangnya – menjadi sebuah kebajikan. Pendekatan politik telah memperkenalkan salah-tafsirnya sendiri – sedemikian rupa sehingga Imam Husein diubah menjadi sebuah simbol perang dan revolusi, padahal Imam Husein mewakili pasifisme dan kompromi.

Seraya menyebut pendekatannya “Perdamaian Imam Husein,” Baghi sebenarnya tengah mengajukan tafsir lainnya lagi mengenai peristiwa Karbala. Dia mengklaim bahwa Imam Husein lebih seorang pasifis ketimbang militan. Dalam pandangannya, “Imam [Husein] sudah berkali-kali menawarkan negosiasi untuk dihentikannya penggunaan senjata dan untuk perdamaian kepada musuh yang mengepungnya.  Imam [Husein] adalah seseorang yang percaya sepenuhnya kepada kemuliaan manusia dan tahu bahwa perang hanya akan menghancurkan kemuliaan itu.” Menurutnya lagi, Imam Husein baru memilih mati, ketimbang menyerah kepada penindasan, sesudah segala upaya mencapai kompromi di atas gagal. Di sinilah terletak heroisme Ashura yang sesungguhnya.

Baghi berpendapat, tafsir alternatif atas Ashura ini sangat penting disebarluaskan sekarang ini, khususnya ketika pandangan mengenai dekatnya Islam dengan kekerasan begitu dominan.  Katanya lebih lanjut:

Dewasa ini, di dunia modern, Barat mengadvokasikan perjuangan melawan terorisme. Saya ingin mengemukakan satu fakta, yakni bahwa 1.350 tahun yang lalu [ketika Imam Hasan dan Imam Husein masih hidup], ketika saling-bunuh adalah praktik biasa dan bahkan dipuja-puji, Imam Husein bangkit menentang perang maupun teror. Fakta ini mungkin mengejutkan banyak orang di Barat. Wakil Imam Husein di Kufah [sebuah kota di Irak yang penduduknya mengundang Imam Husein untuk datang dan memimpin mereka], ketika dihadapkan kepada kondisi yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk menang melawan musuh, menyarankan Muslim ibn Aqil, wakil Sang Imam, untuk membunuh Obaidollah Ibn-e Ziad [Gubernur Provinsi Kufah]. Pembunuhan itu akan mengubah seluruh perjalanan sejarah dan para pendukung Imam Husein, yang sudah masuk ke sarang musuh, sepenuhnya mampu melaksanakannya. Namun, Muslim ibn Aqil, yang paham betul dasar pemikiran Imam Husein, keras menolak gagasan itu, dengan mengatakan bahwa “teror itu dilarang di dalam Islam.”

Masih harus ditunggu sejauh mana pandangan alternatif ini akan menjadi pandangan populer. Tapi beberapa ulama dan pemimpin politik Syi`ah memang sudah lama mengeritik dan mengecam praktik menyiksa-diri dengan mengeluarkan darah ketika ritual Asyura berlangsung. Buat mereka, lebih baik menghormati pengorbanan Imam Hussein dengan mendonorkan darah daripada membuang-buangnya – apalagi tenda-tenda milik Palang Merah kini biasanya memang didirikan di tempat di mana festival Asyura dilangsungkan.

 

Penutup

Di awal tulisan ini sudah saya sebutkan bahwa kini, sesudah Saddam Hussein diturunkan dari kursi kekuasaannya dan dieksekusi, Karbala kembali ramai dikunjungi para peziarah Syi`ah. Yang mengerikan, peristiwa itu terus diiringi bentrok antara para tentara AS atau koalisi, atau polisi Irak yang mulai diberdayakan, atau minoritas Sunni Irak yang mulai kehilangan dominasi, dengan para peziarah Syi`ah, di Karbala dan kota-kota lainnya di Irak. Dan korban pun berjatuhan: pada 2004, Asyura pertama pasca-Saddam, bom bunuh-diri menewaskan ratusan orang; tahun lalu, 263 orang tewas. Puncak Asyura pada Februari 2008 lalu, berlangsung relatif aman di Karbala, yang antara lain diamankan helikopter yang terus berputar-putar, tapi sekitar 80-an orang wafat di Kirkuk, Nasiriya, Ramadi, dan Basra. Koran Guardian mengutip seorang peziarah, Ibrahim Hashim (40 tahun), seorang guru dari Baghdad: “Saya senang bahwa saya berada di antara jutaan orang yang peziarah di Karbala. Tapi terus terang, saya khawatir bahwa kami akan diserang dalam perjalanan kami pulang.”

Saya tidak tahu bagaimana kita harus memahami dan mengatasi paradoks seperti diekspresikan dalam pernyataan guru di atas. Dalam situasi seperti yang kita lihat sekarang, sulit menentukan siapa benar dan siapa salah. Selagi keadilan dan ketidakadilan disembunyikan dan dituntut, contoh paradigmatis Husein, “Paradigma Karbala”, akan terus bergema. Apalagi contoh itu bisa dan harus terus direproduksi, sehingga “Tiap hari adalah Asyura, tiap bulan adalah Muharam, dan tiap tempat adalah Karbala.”***

 

Jakarta, 15 Oktober 2011

Bibliografi

 

Abrahamian, Ervand, The Iranian Mojahedin (New Haven and London: Yale University Press, 1989).

Afary, Janet, “Shi’i Narrative of Karbala and Christian Rites of Penance: Michael Foucault and the Culture of the Iranian Revolution,” Radical History Review 86 (Spring 2003), hal. 7-35.

Afary, Janet and Kevin B. Anderson, Foucault and the Iranian Revolution: Gender and the Seductions of Islamism (Chicago and London: The University of Chicago Press, 2005).

Chelkowski, Peter and Hamid Dabashi, Staging a Revolution: The Art of Persuasion in the Islamic Republic of Iran (New York: New York University Press, 1999).

Enayat, Hamid, “Martyrdom,” dalam Seyyed Hossein Nasr, Hamid Dabashi, and Seyyed Vali Reza Nasr (eds.), Expectation of the Millenium: Shi`ism in History (Albany: State University of New York, 1989), hal. 52-57.

Fischer, Michael M. J., Iran: From Religious Dispute to Revolution (Cambridge and London: Harvard University Press (1980).

Fischer, Michael M. J. and Abedi, Mehdi, Debating Muslims: Cultural Dialogues in Postmodernity and Tradition.  Madison, Wisconsin: The University of Wisconsin Press (1990).

Mottahedeh, Roy, The Mantle of the Prophet: Religion and Politics in Iran. New York: Pantheon Books (1985).

Nasr, Seyyed Hossein, Dabashi, Hamid, and Nasr, Seyyed Vali Reza (eds.), Expectation of the Millenium: Shi`ism in History (Albany: State University of New York, 1989).

Snow, David A., Burke Rochford Jr., Steven K. Wordon, and Robert D. Benford, “Frame Alignment Processes, Micromobilization, and Movement Participation,” American Sociological Review 51 (1986), hal. 464-481.

Tarrow, Sidney, Power in Movement, 2nd ed. (Cambridge: Cambridge University Press, 1998).

 

 


[*] Untuk memudahkan saya mendiskusikan berbagai segi Asyura sebagai sumberdaya protes politik kaum Syi`ah, catatan kaki saya hilangkan dan seluruh catatan saya masukkan dalam batang tubuh naskah ini dengan penyertaan bibliografi di akhir tulisan.  Dengan selesainya tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Ahmad Sahal, Ulil Abshar-Abdalla, Sukidi Mulyadi, Dadi Darmadi dan Feby Indirani atas bantuan mereka menyediakan bahan-bahan kepustakaan yang saya perlukan dalam penulisan esai ini.  Dengan sendirinya mereka tak bertanggungjawab atas kesalahan apa pun yang ada dalam esai ini.

[†] Penting diingat bahwa tanggal sepuluh Muharram juga merupakan hari penting bagi kaum Muslim Sunni.  Namun itu untuk alasan yang tidak terkait dengan kematian Husein.  Dalam tradisi Sunni, sekalipun Husein adalah tokoh penting dalam sejarah Islam yang mati syahid di Karbala, ia tidak dianggap sebagai pelanjut alamiah dari kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, seperti yang diyakini kaum Muslim Syi`ah.  Inilah butir pokok perbedaan Islam Sunni dan Islam Syi`ah.

[‡] Ketika bagian tentang pengepungan dan penyerangan ini dibacakan dalam perayaan Asyura, yang disampaikan jauh lebih detail dibanding yang bisa saya sajikan di sini, karena alasan terbatasnya halaman dan lainnya.  Untuk paparan personal mengenainya, oleh seorang yang tumbuh dengan tradisi perayaan ini, lihat penuturan Mehdi Abedi dalam Fischer dan Abedi (1990).

[§] Keterangan-keterangan di bawah ini antara lain saya ambil dari “Iran: Reinterpreting Ashura,” dalam website Radio Farda. Lihat di http://www.payvand.com/news/06/mar/1200.html.

 

Sumber: Artikel ini ditulis pertama kali untuk diskusi terbatas di Forum Muda Paramadina, Jakarta, 12 November 2009, dan kemudian diterbitkan sebagai “Karbala dan Protes Politik Kaum Syiah,” Dialog, Vol. 72, Tahun XXXIV, November 2011, hal. 83-96.